[비즈한국] Perusahaan terkadang mengambil keputusan yang sulit dijelaskan hanya dengan uang. Memahami hukum atau sistem yang mendasarinya akan membantu Anda memahami detail di baliknya. 'Rahasia Bisnis yang Berguna (Rahasia Bisnis)' memperkenalkan kunci untuk memahami arus bisnis.

Di perusahaan kecil atau perusahaan perseorangan, sering kali direktur atau manajemen menarik dan menggunakan uang perusahaan untuk kepentingan yang tidak jelas kaitannya dengan bisnis tanpa pertimbangan khusus. Menggunakan rekening perusahaan layaknya brankas pribadi jelas tidak disarankan, namun jika menilik situasi dan kondisinya, ada banyak kasus yang membingungkan apakah tindakan tersebut salah atau tidak.
Jika dicari alasannya, pertama-tama, banyak orang yang menggunakan dana perusahaan untuk keperluan pribadi dan tidak menganggap perilaku ini sebagai masalah. Bahkan ada yang bertanya balik, “Seorang direktur tidak menggunakan uang pribadinya. Jika tidak boleh menggunakan uang perusahaan, untuk apa menjalankan perusahaan?” Mengingat kondisi ekonomi yang sedang lesu akhir-akhir ini, perusahaan kecil sulit menghasilkan keuntungan, dan karena dana tidak mencukupi untuk pembayaran dividen atau gaji, banyak direktur yang akhirnya menanggung biaya hidup mereka dengan dana perusahaan.
Selanjutnya, di perusahaan skala kecil, sering kali aset perusahaan dan aset pendiri tidak dipisahkan sejak awal pendirian. Misalnya, jika perusahaan didirikan dan dijalankan dengan pengorbanan pendiri, seperti penggunaan properti milik pendiri secara cuma-cuma oleh perusahaan, maka kesadaran akan masalah penggunaan aset perusahaan untuk kepentingan pribadi pun menjadi tumpul.
Perusahaan kecil biasanya memiliki hubungan yang akrab antara pemegang saham dan manajemen. Oleh karena itu, karena kemungkinan kecil adanya pihak yang mempermasalahkan penarikan dana perusahaan, penggunaan dana untuk keperluan pribadi sering kali dianggap sebagai hal yang biasa.
Namun, penggunaan dana perusahaan untuk kepentingan pribadi dapat mengakibatkan tanggung jawab hukum yang sangat besar. Hanya karena hal ini merupakan kasus umum di sekitar dan tidak ada yang mempermasalahkannya, bukan berarti di masa depan tidak akan ada masalah.
Dalam salah satu putusan pengadilan tingkat pertama, hakim menyatakan: “Jika seorang direktur menarik atau menggunakan dana perusahaan dalam jumlah besar untuk keperluan di luar pengeluaran perusahaan dengan dalih uang muka (kashikarikin), tanpa adanya perjanjian bunga atau jatuh tempo, serta tanpa melalui prosedur hukum seperti resolusi dewan direksi, maka tindakan tersebut melampaui batas yang wajar. Tindakan itu sama saja dengan meminjam atau membuang dana perusahaan secara sewenang-wenang untuk kepentingan pribadi dengan menggunakan posisinya, sehingga dikategorikan sebagai tindak pidana penggelapan.”
Artinya, jika penggunaan dana tidak dapat dibuktikan untuk kepentingan bisnis, tidak melalui prosedur internal perusahaan, dan menerapkan syarat pinjaman yang lebih menguntungkan dibandingkan transaksi lainnya, maka tindakan tersebut dikategorikan sebagai penggelapan meskipun menggunakan format uang muka (kashikarikin).
Logika ini berlaku sama bahkan untuk perusahaan satu orang (1-person company) di mana pemilik memegang 100% saham atau perusahaan keluarga. Putusan pengadilan tingkat pertama menyatakan: “Bahkan di perusahaan satu orang di mana saham perusahaan pada dasarnya dimiliki oleh satu pemegang saham, perusahaan dan pemegang saham adalah entitas hukum yang terpisah, sehingga aset perusahaan tidak bisa langsung dianggap milik pemegang saham tersebut. Meskipun secara praktis merupakan pemegang saham tunggal, tindakan membuang dana perusahaan secara sewenang-wenang tetap merupakan tindak pidana penggelapan.”

Perselisihan semacam ini biasanya dimulai dari konflik internal perusahaan. Hal ini karena informasi mengenai siapa yang menggunakan dana perusahaan, kapan, dan untuk tujuan apa, hanya diketahui oleh pihak internal seperti mitra bisnis, karyawan, atau manajemen.
Biasanya, tindakan yang sudah menjadi kebiasaan di dalam perusahaan akan mencuat ke permukaan setelah terjadi konflik manajemen, perselisihan antar mitra bisnis, atau laporan dari mantan karyawan, yang kemudian memicu investigasi atas tuduhan penggelapan atau pelanggaran kepercayaan (breach of trust). Seorang mitra bisnis mungkin secara lisan menyetujui penggunaan dana atau tidak mempermasalahkannya selama ini, namun ketika terjadi sengketa manajemen, mereka akan mengumpulkan semua riwayat penggunaan dana masa lalu untuk menuntut atas tuduhan penggelapan.
Oleh karena itu, meskipun seseorang ditetapkan sebagai tersangka, ada kalanya mereka merasa tidak adil. Pihak investigasi mungkin menunjukkan keluwesan dengan mempertimbangkan situasi yang ada, namun di sisi lain, jika tindakan tersebut dianggap sangat tercela, investigasi akan dilakukan dengan sangat mendalam.
Bahkan perusahaan kecil pun tetap menjalani audit pajak berkala, sehingga untuk menutupi penggunaan dana perusahaan untuk keperluan pribadi, terkadang direktur mengumpulkan kuitansi sederhana untuk diproses sebagai biaya, atau bahkan mengumpulkan kartu undangan pernikahan untuk diproses sebagai biaya hiburan. Pihak investigasi memandang upaya aktif untuk menyembunyikan sesuatu seperti ini secara negatif.
Jika melihat data objektif, sering kali terlihat jejak penyelewengan dana perusahaan secara teratur dan rutin. Untuk melakukan praktik seperti 'pencairan kartu kredit' atau 'pencairan voucher hadiah', seseorang harus berulang kali melakukan transaksi dengan mitra bisnis yang entitasnya tidak jelas. Karena transaksi seperti ini tidak mungkin terjadi hanya sekali, jejak transaksi dengan mitra tertentu dalam jumlah tertentu akan tetap ada secara teratur dan berulang. Pihak investigasi menganggap tindakan ini memiliki tingkat kepidanaan yang tinggi.
Jika manajemen perusahaan menarik dana perusahaan dengan dalih uang titipan (gasugeum), meskipun sudah melalui proses pelunasan atau penyelesaian selisih jumlah dalam jangka waktu tertentu, dan bahkan jika ada utang yang harus diterima dari perusahaan, melakukan transaksi uang titipan secara berulang dapat disalahpahami sebagai penggelapan.
Menurut prinsip dan aturan, idealnya dana perusahaan tidak digunakan sama sekali. Namun, jika masalah sudah terjadi dan menjadi perkara, strategi yang bijak adalah menjelaskan situasinya dengan jujur kepada pihak investigasi. Misalnya dengan menjelaskan bahwa pada saat penggunaan, semua anggota termasuk pemegang saham telah menyetujuinya, dan pengeluaran tersebut memiliki keterkaitan tertentu dengan bisnis dan operasional perusahaan.
Meskipun penjelasan telah diberikan, kelanjutan dari kasus tersebut akan berbeda-beda. Dalam beberapa kasus, masalah bisa menjadi rumit jika karyawan yang memiliki dendam melapor bahwa mereka 'terpaksa bekerja sama dalam penggunaan dana tanpa izin meskipun instruksinya tidak masuk akal', atau jika mitra bisnis mengeluh pernah diminta memberikan komisi (kickback). Namun, ada juga kasus di mana pihak investigasi memberikan keringanan karena menganggap motif tuntutan atau laporan tersebut hanyalah perselisihan pribadi dan emosional antara mitra atau manajer.
Seorang pengacara adalah orang yang menyusun strategi respons berdasarkan fakta dan bukti yang ada, sehingga mereka akan membangun logika untuk menjelaskan situasi apa pun yang terjadi. Namun, tingkat kesulitan kasus bisa sangat berbeda tergantung pada reputasi klien atau kebaikan yang pernah diberikan klien kepada orang lain.