[비즈한국] Pameran tunggal seniman Jung Hoe-yun, yang menuangkan seni tradisional lacquer (ottchil) ke dalam lukisan kontemporer, akan segera digelar. Mulai tanggal 7 hingga 16 mendatang, sekitar 30 karya akan dipamerkan di Jang Eun-sun Gallery, Unni-dong, Jongno-gu, Seoul, dengan tajuk ‘Tepi Sungai Ingatan, Gema Emosi’.

Seniman Jung Hoe-yun telah membangun dunia seninya sendiri melalui lukisan lacquer. Ia juga dikenal sebagai ‘seniman pohon willow’ karena kemampuannya menggambarkan dahan pohon willow yang melambai seolah menari tertiup angin menggunakan mutiara (mother-of-pearl). Setelah mengukir dahan pohon willow pada papan kayu birch yang telah dilapisi lacquer tradisional, ia menempelkan mutiara untuk memberikan efek seolah dahan-dahan tersebut bergoyang dihempas angin.
Sang seniman menaruh perhatian pada hubungan purba antara manusia dan alam, menjadikan simbol-simbol arketipe alam seperti gurun, danau garam, dan pohon willow sebagai materi utama karyanya. Baginya, proses lacquer adalah “pengalaman penyatuan antara subjek dan objek, serta sebuah perjalanan yang meresapi rasa hormat terhadap alam.”
Dalam pameran kali ini, ia menghadirkan seri ‘Hangang Bridge’ yang memadukan pohon willow khasnya dengan pemandangan alam Sungai Han. Sang seniman mengungkapkan, “Hangang Bridge adalah simbol yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, serta memuat proses pencarian tujuan di tengah kehidupan yang tidak sempurna.”
Teknik utama yang digunakan adalah teknik tradisional moktae-chilgi. Moktae-chilgi adalah metode pembuatan kerajinan berharga, seperti perlengkapan Buddhis, yang telah ada sejak era Dinasti Goryeo. Caranya adalah dengan melapisi benda kayu menggunakan kain rami yang dicampur dengan lem dan lacquer untuk mencegah perubahan bentuk, kemudian menumpuk beberapa lapis adonan bubuk tanah liat yang dicampur lacquer di atasnya untuk membentuk permukaan yang kokoh. Setelah itu, mutiara ditempelkan, dan berbagai lapisan warna lacquer diaplikasikan satu per satu, lalu digosok dengan amplas untuk memunculkan warna akhirnya. Noda kebetulan dan jejak tidak beraturan yang muncul selama proses ini meninggalkan bekas alami layaknya bekas luka atau lingkaran tahun pada pohon, menjadikan proses pengamplasan itu sendiri sebagai tindakan artistik.

Sang seniman menjelaskan, “Saya menuangkan kedalaman energi dengan menyisakan jejak yang spontan dan alami di permukaan, seolah tanah liat disapu dengan spatula. Proses di mana kehalusan dan kekasaran, penyempurnaan dan kebetulan hidup berdampingan ini mewujudkan vitalitas di tengah keheningan, serta menjadi upaya untuk mengeksplorasi kemungkinan baru dari seni lacquer.”
Di era AI yang berubah dengan cepat, waktu dan sentuhan tangan yang meresap ke dalam lapisan lacquer terasa semakin berharga. Jung Hoe-yun mengatakan, “Sama seperti kerajinan lacquer yang saya temui di museum dahulu kala menyampaikan napas pengrajin seribu tahun yang lalu, saya berharap karya saya juga dapat menyentuh seseorang dengan kehangatan.”
Pameran ini berlangsung hingga hari Jumat, tanggal 16 mendatang, dan dapat dikunjungi secara gratis mulai pukul 11.00 hingga 18.00 setiap harinya (tutup pada hari Minggu dan hari libur nasional).
Riwayat Singkat
△Gelar Master Manajemen Seni dan Budaya dari Universitas Hongik
△16 Kali Pameran Tunggal
2025 Jang Eun-sun Gallery, 2024 Galeri Rumah Sakit Kangbuk Samsung, 2023 Galeri BGN Eye Clinic Lotte Tower, dll.
△Sekitar 90 Kali Partisipasi Pameran Seni dan Pameran Grup
2025 WORLD ART EXPO, 2024 SEOUL ART SHOW, 2024 Cheongju International Art Fair, 2024 Galeri Kejaksaan Agung, dll.
△Penghargaan dan Seleksi
2020 Penghargaan Utama, Pameran Seoripul Art for Art ke-5 Distrik Seocho / 2017 Seleksi, Kompetisi Kerajinan Lacquer Korea Wonju ke-16
2022 Terpilih sebagai Seniman Muda Seni Kontemporer Asia, GIAF Festival Seni Internasional Gwanghwamun ke-17 / 2019 Terpilih dalam Kompetisi Korporat Tom N Toms ke-10 / 2019, 2018 Terpilih dalam ASYAAF & Hidden Artist
△Buku
2016 Buku bergambar ‘Danau Garam’ (Kinderland Vandal)
△Koleksi Karya
POSCO E&C, Ilyo Shinmun, Perpustakaan Buku Bergambar Suncheon, Kuil Bogaksa, dll.