주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Laporan K-Culture
Krisis Industri Film Korea, 'Animasi' sebagai Jalan Keluar

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Pada 23 Januari 2025, film animasi 'Leafie, A Hen into the Wild' menarik perhatian publik setelah dirilis ulang dalam versi remaster 4K yang menggunakan teknologi AI Super Scaler. Mengingat 'Leafie, A Hen into the Wild' pertama kali dirilis pada Juli 2011, ini berarti film tersebut kembali dalam format konten digital berkualitas tinggi setelah 14 tahun.

Animasi 'Leafie, A Hen into the Wild' mencatat rekor jumlah penonton tertinggi untuk film animasi Korea sepanjang masa saat dirilis dengan total 2,2 juta penonton, dan rekor tersebut masih belum terpecahkan hingga saat ini. Keberhasilan ini dimungkinkan karena isi cerita film tersebut tidak hanya mampu menyentuh hati anak-anak, tetapi juga orang dewasa.

서울 시내 멀티플렉스 영화관 내부 모습. 사진=박정훈 기자
Suasana bagian dalam bioskop multipleks di pusat kota Seoul. Foto=Reporter Park Jung-hoon

'Lost in Starlight' (Love 99) berhasil menggeser rekor 1,05 juta penonton yang dipegang oleh film animasi terlaris kedua di Korea, 'Dino Time 3D (2012)', dengan perolehan 1,2 juta penonton. Hal ini juga terjadi karena film tersebut memiliki aspek yang menarik tidak hanya bagi remaja, tetapi juga bagi orang dewasa berusia 20-an ke atas. Namun, 'Lost in Starlight' tetap tidak berbeda dengan film animasi Korea lainnya dalam hal kuatnya aspek konten anak-anak yang ditujukan bagi usia 7 tahun ke atas.

Di dunia konten video yang didominasi oleh K-Content, genre animasi menjadi salah satu yang paling lemah. Hal ini berbeda dengan Jepang dan Amerika Serikat yang telah mengembangkan animasi sebagai genre konten budaya yang dapat dinikmati oleh orang dewasa, bukan sekadar untuk anak-anak. Terlebih lagi, dalam situasi rendahnya angka kelahiran saat ini, skalabilitas konten anak-anak mau tidak mau akan terbatas. Film animasi 'Kkoma', yang tengah disiapkan oleh Myung Films (rumah produksi 'Leafie, A Hen into the Wild'), sempat mengalami kesulitan dalam mengumpulkan dana investasi, namun arah pengembangannya sebagai film keluarga yang bisa dinikmati anak-anak maupun orang dewasa adalah langkah yang tepat. Karya ini merupakan animasi kreatif yang diangkat dari kisah nyata pelarian beruang bulan dari Kebun Binatang Seoul pada tahun 2010.

Animasi mau tidak mau harus bertransformasi menjadi genre lintas generasi. Untuk mencapai hal ini, risiko dalam metode produksi harus disebar. Pertama-tama, perhatian perlu difokuskan pada strategi memperluas karya pendek menjadi film panjang.

Tahun ini, Festival Film Cannes ke-78 memberikan kejutan bagi industri film Korea. Pasalnya, tidak ada satu pun film Korea yang masuk dalam kategori kompetisi maupun non-kompetisi. Pihak industri harus merasa sedikit terhibur dengan fakta bahwa film animasi pendek 'Glasses' karya sutradara Jung Yu-mi diundang ke dalam kategori kompetisi film pendek di sesi Critics' Week.

한국 애니메이션 흥행 1위 ‘마당을 나온 암탉’이 4K 리마스터링 버전으로 재개봉했다. 사진=메가박스
Animasi terlaris nomor 1 Korea, 'Leafie, A Hen into the Wild', dirilis ulang dalam versi remaster 4K. Foto=Megabox

Sutradara Jung Yu-mi telah diundang berkali-kali ke berbagai festival film dunia, namun ia belum pernah menerima dukungan untuk produksi film animasi panjang. Karyanya yang berjudul 'Dust Kid' diundang ke Director's Fortnight di Festival Film Cannes pada tahun 2009, dan ini adalah yang kedua kalinya. 'Math Test' (2010), 'Love Games' (2013), 'House of Existence' (2022), dan 'Circle' (2024) berhasil masuk dalam kompetisi film pendek di Festival Film Berlin. 'Love Games' menjadi animasi Korea pertama yang memenangkan Grand Prix (penghargaan utama) di Zagreb World Festival of Animated Film. Pada tahun 2023, 'The Waves' diundang secara resmi ke kategori kompetisi film pendek di Festival Film Locarno.

'Dust Kid' diterbitkan sebagai buku bergambar pada tahun 2014 dan memenangkan penghargaan Bologna Ragazzi Award, yang merupakan pencapaian pertama bagi penulis ilustrasi Korea. Pada tahun 2015, ia kembali memenangkan penghargaan Bologna Ragazzi Award untuk karyanya yang berjudul 'My Little Doll’s House'. Itu adalah kemenangan dua tahun berturut-turut yang mengejutkan dunia. Ia telah meraih pencapaian luar biasa baik di bidang video maupun penerbitan. Hal ini menunjukkan bahwa karya sutradara Jung Yu-mi memiliki kualitas artistik sekaligus daya tarik massa bagi anak-anak dan orang dewasa. Kini, saatnya memikirkan perluasan skala tersebut.

Dalam konteks ini, mari kita lihat kasus animasi 'Flow'. Film 'Flow' menciptakan sensasi pada ajang Golden Globe Awards 2025 dengan mengalahkan film 'Inside Out 2' dan 'The Wild Robot' yang dibuat oleh studio besar Amerika, untuk memenangkan penghargaan Film Animasi Panjang Terbaik. Film ini juga memenangkan penghargaan Film Animasi Panjang Terbaik di ajang Academy Awards ke-97. Animasi ini merupakan karya yang dikembangkan dari film pendek yang disutradarai oleh sutradara asal Latvia, Gints Zilbalodis, saat ia masih duduk di bangku SMA, menjadi film panjang berdurasi 85 menit.

Di industri film kita, sudah menjadi hal yang umum untuk tiba-tiba memproduksi dan merilis film layar lebar. Sering terjadi kegagalan meskipun telah menghabiskan biaya produksi yang sangat besar dengan mengandalkan sutradara, aktor, atau penulis naskah ternama. Berkat sistem multipleks, dimungkinkan untuk melakukan monopoli layar melalui gempuran kuantitas besar. Istilah 'high-risk, high-return' dianggap sebagai hal yang lumrah. Krisis industri film saat ini juga berakar dari metode produksi yang rentan terhadap penyebaran risiko seperti ini.

디즈니와 드림웍스를 제치고 골든글로브와 아카데미 애니메이션상을 받은 ‘플로우’의 한 장면. 사진=메가박스
Cuplikan adegan film 'Flow' yang mengalahkan Disney dan DreamWorks untuk meraih penghargaan animasi di Golden Globe dan Academy Awards. Foto=Megabox

Namun, cara itu tidak bisa dipertahankan lagi. Saat ini, lingkungan konsumsi konten media sangat dipengaruhi oleh pilihan berdasarkan selera pribadi dan fandom yang kuat. Pendapat penggemar dan penonton harus tercermin dalam konten. Contohnya, platform OTT yang menekankan konten orisinal kini lebih menyukai karya yang diadaptasi dari webtoon. Hal ini dilakukan untuk menyebarkan risiko guna mengurangi kemungkinan kegagalan sekaligus mengamankan konten yang berbasis pada basis penggemar.

Demi masa depan industri film, penting untuk menemukan sutradara dan penulis naskah baru, begitu pula dalam dunia animasi. Tidak hanya dibutuhkan perhatian aktif terhadap kreator animasi pendek, tetapi kreator webtoon, buku bergambar, dan dongeng juga sangat penting. 'Leafie, A Hen into the Wild' pun diangkat dari buku dongeng. Ada kebutuhan untuk memperhatikan apa yang disebut sebagai konten 'masa kecil'. Namun, di Korea yang telah muncul sebagai negara kuat di bidang webtoon dan buku bergambar, dongeng belum banyak dikembangkan menjadi animasi. Animasi 'Al-satang' (Candy) yang diangkat dari dongeng karya penulis Baek Hee-na justru diproduksi oleh tim asal Jepang dan berhasil masuk ke ajang Academy Awards.

Untungnya, Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata baru-baru ini menyatakan ambisinya untuk menjadikan animasi sebagai genre yang dapat dinikmati oleh semua generasi, baik dewasa maupun anak-anak. Animasi adalah bidang yang sangat membutuhkan dukungan pemerintah. Perhatian lebih harus diberikan pada acara seperti Seoul Indie-AniFest, satu-satunya festival film animasi independen di Korea. Film animasi 'Necessary Things on This Star' yang disutradarai oleh Han Ji-won, pemenang penghargaan utama di festival tersebut, akan tayang di Netflix pada akhir Mei. Ini adalah animasi orisinal Korea pertama yang disajikan di Netflix. Kita perlu memantau hasilnya dengan saksama.

Penulis Kim Heon-sik sejak usia 20-an telah mengarungi hutan fenomena budaya populer dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan aktif, ia tetap berjalan di jalur yang sama dengan keyakinan yang sama.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김헌식 대중문화평론가

필자 김헌식은 20대부터 문화 속에 세상을 좀 더 낫게 만드는 길이 있다는 기대감으로 특히 대중문화 현상의 숲을 거닐거나 헤쳐왔다. 인공지능과 양자 컴퓨터가 활약하는 21세기에도 여전히 같은 믿음으로 한길을 가고 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지