[비즈한국] SK Telecom017670 sedang menghadapi dampak besar setelah peretasan menyebabkan kebocoran sejumlah informasi terkait kartu SIM (Subscriber Identity Module) pelanggan. Mulai tanggal 28, SK Telecom telah memulai program penggantian kartu SIM gratis bagi seluruh pelanggan. Namun, di gerai-gerai resmi, jumlah pelanggan yang pulang dengan tangan hampa meski telah mengantre sejak toko dibuka semakin bertambah, dan situs web perusahaan pun mengalami lonjakan antrean yang membuat akses tidak dimungkinkan. Bahkan, di kalangan pelanggan kini muncul gerakan untuk melakukan aksi kolektif.
Kim A-ram, seorang peneliti di Shinhan Securities, menyampaikan, "Meskipun perusahaan telah menjanjikan penggantian kartu SIM gratis bagi semua pelanggan dan jaminan 100% jika terjadi kerusakan setelah mendaftar layanan perlindungan kartu SIM, kekhawatiran mengenai insiden keuangan dan pembukaan ponsel ilegal terus mencuat."

Kecemasan ini juga memengaruhi harga saham SK Telecom. Harga saham SK Telecom yang dibuka turun 3,98% ke angka 55.500 won pada hari itu, terus merosot hingga lebih dari 7%. Hal ini dikarenakan adanya kekhawatiran bahwa beban finansial perusahaan akan meningkat seiring dengan keputusan untuk mengganti kartu SIM bagi seluruh pengguna (25 juta orang). Selain itu, karena respons awal yang dianggap tidak memenuhi ekspektasi konsumen, mulai terdeteksi adanya pergerakan pelanggan yang ingin berpindah ke operator telekomunikasi lain.
Peneliti Kim A-ram mengatakan, "Dengan asumsi seluruh pelanggan mengganti kartu SIM, beban finansial yang timbul mencapai sekitar 170 miliar won. Meskipun hal ini mungkin tidak sampai memangkas pengembalian modal kepada pemegang saham yang menjadi elemen kunci harga saham, perusahaan sebagai operator telekomunikasi nomor satu harus memastikan kepercayaan pelanggan."
Menurut Yuanta Securities, pendapatan konsolidasi SK Telecom tahun ini diprediksi mencapai 17,8 triliun won dengan laba operasional sebesar 2 triliun won. Jika diasumsikan biaya penanganan insiden ini sebesar 170 miliar won, beban tersebut dianggap hampir tidak berdampak terhadap pendapatan. Namun, dari sisi laba operasional, jumlah ini setara dengan penurunan sebesar 8–9%, angka yang cukup sulit untuk diabaikan begitu saja.
Terutama karena SK Telecom selama ini memberikan tingkat pengembalian pemegang saham tertinggi di pasar, penurunan laba mau tidak mau akan memberikan tekanan tidak langsung terhadap dividen. Bahkan jika kemungkinan pengurangan dividen akibat biaya tersebut rendah, investor yang terbiasa menerima dividen stabil tentu akan bereaksi sensitif terhadap situasi ini, dan ada kemungkinan harga saham akan terdampak untuk sementara waktu. Terlebih lagi, mengingat ketidaknyamanan yang dialami banyak pelanggan cukup serius dan prioritas saat ini adalah pemulihan kepercayaan serta penanganan kerugian, investasi perlu dilakukan dengan hati-hati untuk sementara waktu.
Namun, pihak bursa efek memperkirakan bahwa kinerja SK Telecom pada kuartal pertama tahun ini akan tetap baik. Pengamat memprediksi pertumbuhan laba akan berlanjut baik di kuartal pertama maupun sepanjang tahun ini, didorong oleh efisiensi biaya tenaga kerja akibat pensiun dini berskala besar tahun lalu, pendapatan nirkabel yang stabil berbasis 5G, serta bisnis AI. Meskipun fundamental SK Telecom tetap positif karena pertumbuhan bisnis 5G dan AI yang konsisten, saat ini faktor risiko tambahan seperti perpindahan pelanggan dan masalah kompensasi kerugian perlu dipertimbangkan.
Kejadian serupa yang terjadi di luar negeri telah menjadikan investasi keamanan siber sebagai tren global. Menurut Wall Street Journal, akhir tahun lalu pemerintah AS mengonfirmasi adanya peretasan pada jaringan sembilan perusahaan telekomunikasi AS oleh kelompok peretas Tiongkok, 'Salt Typhoon'. Salt Typhoon dilaporkan melakukan operasi peretasan skala besar yang menargetkan tokoh politik AS seperti Presiden Trump dan Wakil Presiden Vance. Setelah itu, Kongres AS secara bipartisan mengesahkan undang-undang penguatan keamanan siber. Undang-undang ini mewajibkan baik pemerintah maupun perusahaan swasta untuk meningkatkan investasi keamanan siber secara signifikan.
Pada akhirnya, dengan adanya peningkatan pengeluaran pemerintah AS, penawaran umum perdana (IPO) perusahaan keamanan siber, merger dan akuisisi (M&A) oleh perusahaan teknologi besar, serta peningkatan pengeluaran keamanan siber di berbagai negara, minat investor terhadap perusahaan-perusahaan terkait pun semakin meningkat.
Di dalam negeri, insiden peretasan SK Telecom juga telah memicu lonjakan minat terhadap saham terkait kartu SIM dan keamanan siber. Pada hari tersebut, saham penyedia kartu SIM yaitu Ubivelox089850 dan Xcure091440 mencatatkan batas atas harga (upper limit), sementara Hansol Inticube070590, Kona I052400, Sands Lab, KSign, dan Dream Security juga mengalami kenaikan. Namun, perlu diverifikasi apakah saham terkait keamanan ini hanya memiliki momentum jangka pendek atau benar-benar akan berlanjut hingga perbaikan kinerja perusahaan.