주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Mil-Talk
UEA Uji Terbang KF-21, Siap Menjadi 'Pelanggan Pertama'?

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Pengembangan 'Blok 1', tahap pertama dalam pengembangan KF-21, saat ini berjalan lancar. Meskipun masih ada sisa kontrak untuk 20 dari 40 unit Blok 1 yang akan digunakan oleh Angkatan Udara Korea, para pelaku industri sangat optimistis mengenai kontrak tambahan. Dalam situasi ini, ketertarikan UEA terhadap KF-21 dilaporkan 'melebihi ekspektasi', sehingga memunculkan pertanyaan mengenai negara mana yang akan menjadi tujuan ekspor pertama KF-21.

KF21에 탑승한 UAE 알누아이미 AWC 사령관. 사진=KAI 제공
Komandan AWC UEA, Al Nuaimi, menaiki KF-21. Foto=Disediakan oleh KAI

Pada Februari lalu, Korea Aerospace Industries (KAI)047810 mengungkapkan rencana bahwa KF-21 sedang dalam negosiasi ekspor dengan 7 negara, dan mereka berusaha untuk menjadi penawar prioritas dalam proyek pembelian jet tempur di dua negara tahun ini. Meski KAI menolak menyebutkan nama negara spesifik karena alasan keamanan informasi negosiasi, mereka mengungkapkan bahwa salah satunya adalah 'negara Timur Tengah', yang memancing rasa penasaran banyak orang.

Kandidat pertama yang sempat diperkirakan akan membeli KF-21 tahun ini adalah Arab Saudi. Arab Saudi sebenarnya telah bernegosiasi untuk berpartisipasi dalam GCAP (Global Combat Air Programme), jet tempur generasi ke-6 yang dikembangkan bersama oleh Inggris, Italia, dan Jepang. Namun, karena Jepang kurang antusias dan waktu operasional GCAP masih lama, Saudi mencari jet tempur yang lebih murah dan bisa dibeli sebelum GCAP diluncurkan.

Faktanya, terdapat banyak informasi yang mengisyaratkan negosiasi dengan Arab Saudi, seperti adanya versi SA (Saudi Arabia) untuk ekspor KF-21 dan presentasi promosi lokal KAI di sana. Kini, setelah delegasi Angkatan Udara UEA yang berkunjung ke Korea pada tanggal 14 menunjukkan minat besar pada KF-21, perhatian tertuju pada apakah UEA akan menjadi 'negara tujuan ekspor pertama' KF-21.

Rashid Mohammed Al Shamsi, Komandan Angkatan Udara dan Pertahanan Udara UEA, pada tanggal 15 setelah berdiskusi dengan Kepala Staf Angkatan Udara Korea Lee Young-su di Gyeryongdae, Chungnam, sepakat untuk mengadakan pertemuan rutin antara angkatan udara kedua negara. Pada tanggal 16, ia mengunjungi kantor KAI di Sacheon untuk melihat langsung KF-21.

Ketertarikan UEA terhadap KF-21 tampak melampaui sekadar inspeksi biasa. 'Letter of Intent (LOI) mengenai kerja sama komprehensif KF-21' yang ditandatangani kali ini mencakup hak observasi bagi Angkatan Udara UEA pada tahap pelatihan KF-21 dan izin kunjungan ke unit terkait. Azzan A. Ali Al Nuaimi, Komandan Pusat Pertahanan Udara dan Rudal (Air Warfare and Missile Defense Center), bahkan menjadi pilot uji dan ikut terbang langsung dengan KF-21.

Ini merupakan langkah yang luar biasa, karena menaiki pesawat milik negara lain yang belum sepenuhnya dikembangkan adalah peristiwa yang jarang terjadi dalam sejarah penjualan jet tempur. Sebelumnya, selain pilot uji dari Indonesia sebagai negara mitra pengembangan, belum pernah ada warga asing yang menaiki KF-21.

Namun, meskipun peluang penjualan KF-21 ke UEA meningkat, situasi masih belum bisa dibilang aman. Sebagaimana Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, yang merupakan mitra pengembangan KF-21, baru-baru ini menyatakan minat pada jet tempur KAAN milik Turki, UEA pun sejak Februari lalu telah menunjukkan ketertarikan pada pengembangan bersama jet tempur KAAN. Awalnya, UEA mendorong pengembangan bersama jet tempur ekspor generasi ke-5 Su-75 Checkmate dari perusahaan Sukhoi Rusia, namun rencana tersebut praktis ditinggalkan akibat perang Rusia-Ukraina. Negosiasi pengadaan jet tempur F-35 dengan AS juga telah dinyatakan batal secara publik pada September 2024.

UEA saat ini sedang mencari mitra untuk meningkatkan kekuatan melalui jet tempur generasi berikutnya dan melakukan pengembangan bersama. Situasinya kini menjadi persaingan tiga arah antara Prancis yang sudah mengekspor 80 jet Rafale F4 dan ingin mengembangkan Rafale F5 bersama, Turki yang menawarkan KAAN, dan Korea Selatan yang menawarkan KF-21.

Akan tetapi, dengan adanya LOI ini dan aksi jenderal UEA menaiki KF-21, peluang ekspor KF-21 ke UEA memang meningkat pesat. Setelah Rafale, KF-21 adalah jet tempur kedua yang bisa dinaiki dan diuji langsung oleh Angkatan Udara UEA. Untuk memenangkan hati UEA, KF-21 yang memiliki keunggulan performa siluman di atas Rafale dengan biaya operasional dan akuisisi yang lebih murah perlu menyusun strategi ekspor yang memahami keunggulan kompetitif dan hubungan internasional yang rumit.

Untuk itu, perlu ditekankan kemampuan persenjataan KF-21, terutama senjata buatan dalam negeri yang memiliki fungsi dan performa lebih unggul dari kompetitor seperti Rafale F4. Mengingat rudal 'Storm Shadow' yang digunakan pada Rafale telah teruji di medan perang Ukraina, Korea perlu mempercepat integrasi KF-21 dengan rudal jelajah udara-ke-darat Cheonryong yang dapat bersaing dengan Storm Shadow, serta rudal udara-ke-darat supersonik dan rudal balistik peluncuran udara (ASBM) yang sulit disediakan oleh Prancis.

Di sisi diplomatik, diperlukan strategi untuk memanfaatkan fakta bahwa UEA dan Indonesia sama-sama tertarik pada jet tempur KAAN milik Turki. Mengingat UEA dan Indonesia adalah negara Islam yang menekankan kerja sama strategis, jika Korea dapat menawarkan solusi di mana kedua negara sama-sama diuntungkan, ekspor ke UEA mungkin dapat diselesaikan dengan cara yang sangat mulus.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김민석 한국국방안보포럼 연구위원

김민석은 미국 워싱턴에 본사를 둔 에비에이션 위크(Aviation Week)의 한국 특파원이자 한국국방안보포럼(KODEF) 연구위원. 국방일보 등 여러 매체에서 방위산업·국방 전문기자로 활동하고 있다. ‘달란트 투자’, ‘신사임당’, ‘경제한방’, ‘증시각도기’, ‘와이스트릿’ 등 경제·시사 유튜브 채널과 KFN TV ‘리얼웨폰 K’, ‘디펜스 프라임’에 출연해 국제정치와 방위산업 현안을 진단해왔다. 저서로 방위산업 투자 안내서 ‘K-방산에 투자하라’가 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지