[비즈한국] Sudah lebih dari 40 hari sejak Homeplus memulai proses penyehatan perusahaan. Homeplus menyatakan bahwa gerai-gerai mereka beroperasi secara normal terlepas dari proses penyehatan tersebut. Namun, belakangan ini suasana tidak kondusif mulai menyebar di gerai-gerai Homeplus. Penutupan gerai pihak penyewa (tenant) terus bertambah, dan rasa cemas akan hilangnya lapangan kerja pun kian meningkat di kalangan staf.

Gerai Pakaian dan Kafe Satu Per Satu ‘Tutup Operasional’
Di salah satu toko Homeplus di Gyeonggi-do, tiga penyewa (tenant) baru saja menutup gerai mereka secara berturut-turut. Sebuah merek pakaian wanita A telah mengosongkan semua barang dagangan yang dijual di toko, dan menempelkan pemberitahuan di depan toko yang berbunyi, ‘Operasional dihentikan karena kebijakan perusahaan’. Seorang perwakilan dari merek A mengungkapkan, "Kami baru saja menarik diri dari semua gerai Homeplus di seluruh cabang."
Restoran yang ada di pujasera (food court) juga telah tutup. Di gerai yang tutup tersebut, terpasang spanduk yang bertuliskan 'Mencari penyewa baru untuk mengoperasikan toko'. Sebuah kafe roti juga baru saja mengumumkan penutupan operasional. Meskipun ada pemberitahuan di gerai tersebut yang berbunyi 'Akan dibuka kembali pada akhir April', seorang karyawan Homeplus menjelaskan, "Memang benar operasional toko telah berakhir. Penyewa baru belum ditentukan."
Seorang narasumber industri menyebutkan, "Ada tren di mana merek-merek yang menyewa tempat di Homeplus mulai menarik diri. Mereka tidak hanya keluar dari beberapa toko saja, melainkan menarik diri dari seluruh cabang Homeplus. Bukankah ini karena situasinya yang tidak menentu?"
Pihak Homeplus menjelaskan bahwa penutupan gerai penyewa tidak ada hubungannya dengan proses penyehatan perusahaan. Seorang perwakilan Homeplus menyatakan, "Selain penyewa yang pergi karena masa kontraknya berakhir, kami tidak mendengar adanya merek yang menarik diri karena proses penyehatan perusahaan. Toko-toko tetap beroperasi secara normal," ujarnya.

Di tengah suasana meningkatnya kekosongan penyewa di Homeplus, rasa cemas juga semakin dirasakan oleh konsumen yang mengunjungi gerai tersebut. Seorang pelanggan mengatakan, "Di papan informasi lantai Homeplus, nama-nama perusahaan yang baru saja tutup ditutupi. Meskipun staf toko mengatakan mereka beroperasi secara normal, suasana yang suram tetap tidak bisa dihindari," tambahnya, "Apakah ini berarti Homeplus akan benar-benar hilang? Saya merasa sangat sedih karena saya sering berbelanja di sini."
Lee Jong-woo, seorang profesor di Departemen Manajemen Ajou University, menunjukkan, "Pihak penyewa masuk dengan sistem kontrak tahunan. Ada suasana di mana perusahaan-perusahaan yang kontraknya berakhir secara berurutan meninggalkan Homeplus. Dalam situasi Homeplus saat ini, apakah ada yang mau menandatangani kontrak 1 atau 2 tahun? Jumlah penyewa yang menarik diri akan terus bertambah di masa depan."
Di kalangan staf toko, rasa cemas akan ketidakpastian kerja juga semakin besar. Seorang pejabat serikat pekerja industri ritel dari Federasi Serikat Buruh Layanan Nasional menjelaskan, "Perusahaan mitra telah mulai melepaskan karyawan yang mereka tempatkan di Homeplus. Karena produk mereka hampir tidak masuk lagi ke Homeplus, suasana yang ada memaksa karyawan yang dikirim untuk berjualan agar 'menghabiskan cuti tahunan dan mengundurkan diri'. Hal ini membuat kecemasan karyawan di lapangan meningkat, dan bahkan ada yang mulai meninggalkan perusahaan," jelasnya.

Demo dengan Papan Reklame hingga Laporan Ancaman… Konflik Ketua Kim Byung-ju dengan Investor Surat Utang Jangka Pendek
Ketua MBK Partners, Kim Byung-ju, yang berjanji untuk memberikan kontribusi pribadi bulan lalu pada tanggal 16, baru saja menyetorkan dana pribadi dan mulai memberikan jaminan pembayaran pinjaman. Ketua Kim diketahui telah menyumbangkan sebagian dana pribadinya untuk digunakan sebagai pembayaran kepada sekitar 2.000 pemasok guna menyelesaikan krisis Homeplus. Pada tanggal 10, ia juga mengumumkan akan memberikan jaminan pembayaran pinjaman sebesar 60 miliar won.
Dalam proses Homeplus menerima pinjaman DIP (DIP Finance: pinjaman yang diberikan kepada perusahaan dalam pengawasan pengadilan) sekitar 60 miliar won dari perusahaan manajemen PEF, Curious Partners, Ketua Kim memberikan jaminan pembayaran atas nama pribadi. Jika Homeplus tidak dapat melunasi pinjaman tersebut, Ketua Kim harus membayarnya. Diketahui masa jatuh tempo pinjaman ini adalah 3 tahun dengan suku bunga tahunan sebesar 10%.
Meskipun Ketua Kim telah memenuhi janjinya untuk memberikan kontribusi pribadi, kecaman sosial terus berlanjut. Seorang narasumber industri berpendapat, "Ketua Kim tampaknya mementingkan fakta bahwa ia telah memenuhi janjinya untuk memberikan kontribusi pribadi. Namun, masalahnya adalah jumlah tersebut sangat kecil untuk menyelesaikan krisis saat ini. Dengan tingkat kontribusi pribadi seperti sekarang, sulit rasanya krisis Homeplus akan mereda."
Serikat pekerja Homeplus menunjukkan bahwa metode jaminan pinjaman Ketua Kim adalah pinjaman berbunga tinggi. Pihak serikat pekerja mengkritik, "Setelah mengakuisisi Homeplus, MBK telah menjual aset real estat, mengambil dividen, dan membebani perusahaan dengan utang hingga runtuh. Pinjaman DIP berbunga tinggi ini juga merupakan kelanjutannya. Meminta Homeplus melunasi pinjaman dengan bunga 10% per tahun bukanlah memadamkan api, melainkan menuangkan bensin ke api yang sedang berkobar."

Konflik antara korban surat utang jangka pendek (elektronik) pembelian barang Homeplus dan Ketua Kim juga semakin meluas. Pada tanggal 11, sebanyak 127 korban surat utang jangka pendek Homeplus menggugat Ketua Kim, CEO bersama Homeplus Kim Gwang-il dan Jo Joo-yeon, serta Kepala Divisi Manajemen Keuangan Lee Sung-jin atas tuduhan penipuan di bawah Undang-Undang Hukuman Berat Kejahatan Ekonomi Tertentu dan pelanggaran Undang-Undang Pasar Modal. Kerugian investor diperkirakan mencapai sekitar 90 miliar won.
Komite Darurat Korban Surat Utang Jangka Pendek Pembelian Barang Homeplus menuntut pengembalian pokok secara segera dan telah melakukan demonstrasi dengan papan reklame di depan kediaman Ketua Kim dan Wakil Ketua MBK Partners Kim Gwang-il sejak tanggal 7. Mereka memegang papan reklame setiap hari dari pukul 08.00 hingga 18.00 menuntut penyelesaian krisis Homeplus. Seorang perwakilan komite darurat menegaskan, "Yang kami inginkan hanyalah uang kami kembali. Uang itu adalah dana masa tua seseorang, dana pernikahan seseorang," seru mereka.
Sementara itu, Ketua Kim baru-baru ini dilaporkan telah melaporkan komite darurat ke Kantor Polisi Yongsan atas tuduhan pengancaman. Menurut komite darurat, pada tanggal 7, mereka menempelkan selebaran (isi protes terhadap penerbitan curang surat utang jangka pendek Homeplus) di dinding tempat parkir dan pintu masuk kediaman Ketua Kim. Dua hari kemudian, pada tanggal 9, mereka menerima surat resmi dari polisi mengenai permintaan kerja sama investigasi atas laporan ancaman tersebut. Pihak komite darurat menyindir, "Kami akhirnya diperiksa polisi atas tuduhan ancaman. Bukankah ini pola pikir yang mencoba melindungi haknya sendiri sambil melanggar hak pengembalian piutang para korban?"
Terkait hal ini, pihak Homeplus menyampaikan, "Meskipun MBK Partners adalah pemegang saham utama Homeplus, kami tidak berkomunikasi langsung dengan Ketua Kim Byung-ju. Kami tidak memiliki posisi untuk dinyatakan terkait (laporan ancaman) tersebut."