[비즈한국] Tergantung pada konsepnya, secara umum desain logo Hangeul sebaiknya dibuat sederhana jika kompleks, dan dibuat lebih menarik jika terlalu sederhana. Dibandingkan dengan alfabet Romawi (Inggris), Hangeul memiliki lebih banyak goresan dalam satu karakter, sehingga penambahan satu elemen pembeda saja dapat memberikan kehadiran visual yang jauh lebih besar dari perkiraan dalam sebuah untaian kata. Sebaliknya, hal yang sama berlaku untuk untaian karakter yang sederhana. Hangeul adalah karakter yang secara geometris sudah sangat sederhana sehingga sulit untuk dibuat lebih sederhana lagi. Oleh karena itu, jika didesain terlalu ringkas, identitasnya justru bisa memudar.
Kafe hidangan penutup Sulbing baru-baru ini memperkenalkan identitas merek (BI) baru melalui pembaruan merek. Konsep utamanya adalah 'Sulbing, tempat kebahagiaan terkumpul'. Perubahan terbesar pada BI tersebut ada pada bagian Hangeul-nya. Tulisan Hangeul 'Sulbing' sebelumnya menyerupai kaligrafi yang dibuat dengan bebas menggunakan kuas, namun dalam BI yang baru, bentuknya telah diperhalus menjadi lebih sederhana, menyerupai tipografi (font). Logotipe sebelumnya dinilai sulit untuk diberi penilaian positif karena ketebalan goresannya yang tidak jelas dan bentuknya yang rumit, namun kini telah jauh lebih rapi.
Namun, akan lebih baik jika detail efek kuas kering (galpil) tetap dipertahankan untuk menjaga kaitan dengan kaligrafi aslinya. Ketidaksesuaian tipografi pada frasa 'KOREAN DESSERT CAFE' di atas simbol dengan huruf Inggris 'SULBING' juga menjadi sedikit kekurangan. Cara terbaik adalah dengan mengembangkan font khusus yang menyelaraskan desain Hangeul dan Inggris untuk diterapkan secara konsisten. Saya juga membayangkan jika mereka mengembangkan font kaligrafi berbasis 'Sulbing' di dalam simbol tersebut dan membagikannya secara gratis. Karena font adalah elemen branding yang kuat yang dapat meresap ke dalam kehidupan sehari-hari konsumen tanpa terasa asing.

Sebaliknya, ada kasus Genesis Magma Racing. Genesis Magma Racing adalah tim balap yang didirikan oleh Genesis, merek premium dari Hyundai Motor Company005380. Ini merupakan ekspresi keinginan Genesis yang selama ini menargetkan citra premium setara dengan merek-merek mewah terkemuka dunia, namun belum memiliki pijakan kuat di dunia otomotif. Mereka memilih warna oranye yang dapat menunjukkan citra performa tinggi sebagai warna utama merek dan mengembangkan BI khusus. Hypercar GMR 001 yang dirilis untuk partisipasi di WEC telah menerapkan identitas 'dua garis' khas Genesis secara kreatif dari depan hingga samping.
Yang menjadi masalah adalah simbol utamanya. Simbol yang katanya diambil dari konsonan awal Magma, yaitu 'ㅁㄱㅁ' (M-G-M), terasa terlalu statis sehingga tidak memancarkan kesan kecepatan yang diperlukan untuk citra performa tinggi. Seperti yang tertulis di atas, jika Hangeul hanya didekati dengan minimalis, ia akan kehilangan karakter dan menjadi bentuk yang tidak bermakna. Terlebih lagi, ㄱ (G) dan ㅁ (M) adalah konsonan awal dalam Hangeul yang memiliki karakteristik paling minim.
Hambatan dalam pengembangan logo Hangeul adalah keberadaan konsonan akhir (batchim). Untaian karakter 'Magma' yang tidak memiliki konsonan akhir dan berbentuk simetris sebenarnya memiliki kondisi yang baik. Bagaimana jika 'Magma' tidak disederhanakan dengan hanya menyisakan konsonan awal, melainkan goresannya dibagi menjadi dua garis untuk menghidupkan identitas Genesis atau ditambahkan lengkungan ala lintasan balap? Mendesain huruf 'Magma' agar mendekati tulisan tangan (kursif) juga bisa menjadi salah satu solusi. Simbol saat ini seolah mengurung ide yang seharusnya bisa berkembang dalam bentuk persegi dan segitiga siku-siku.
Tim Genesis Magma Racing saat ini sedang melangkah maju selangkah demi selangkah untuk menaklukkan puncak, seperti memenangkan seri pembuka European Le Mans Series (kelas LMP2) baru-baru ini. Namun, simbol yang diterapkan pada mobil balap yang melaju di sirkuit sebenarnya terlihat kaku dan jauh dari kesan aerodinamis. Ke depannya, tampaknya diperlukan pengembangan simbol yang lebih canggih dengan tetap menggunakan Hangeul sebagai motifnya.
Seorang desainer adalah sosok yang selalu bergelut mencari draf desain yang terbaik di mana pun dan kapan pun. Meski kini BI berbahasa Inggris merajai, saya berharap para desainer dapat membuat lingkungan visual menjadi lebih kaya dengan mengembangkan bentuk-bentuk kreatif menggunakan Hangeul sebagai bahannya.
Tentang Penulis Han Dong-hoon?
Desainer huruf (font). Ia tertarik pada semua bidang yang berkaitan dengan tulisan, termasuk menulis, kaligrafi, merancang huruf, dan mengajar. Saat ini, ia mendesain berbagai font khusus perusahaan dan font untuk penjualan umum di studio font AlignType. Ia telah berkontribusi pada 'Monthly Design' dan jurnal triwulanan 'Design Review', serta memberikan kuliah desain font di berbagai platform daring maupun luring. Pada tahun 2021, ia menerbitkan buku esai berjudul 'Universe in Letters'.