[비즈한국] Penggunaan ‘robot’ di institusi medis kini semakin meningkat. Hyundai Motor Company005380 dan Kia000270 baru-baru ini menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Hallym University Medical Center untuk mengusung konsep ‘rumah sakit ramah robot’. Meskipun sebelumnya sudah ada istilah seperti ‘bangunan ramah robot’ atau ‘smart hospital’, ini adalah pertama kalinya sebuah rumah sakit dibangun dengan berpusat pada teknologi ‘robot’ saja. Perusahaan berencana untuk mengembangkan layanan robot yang dioptimalkan bagi lingkungan rumah sakit serta menetapkan standar dan sistem sertifikasi terkait. Namun, muncul kritik bahwa agar penggunaan robot di fasilitas medis dapat dioptimalkan, tantangan seperti biaya pengembangan yang tinggi dan struktur bangunan—termasuk kemiringan lantai—perlu segera diatasi.

Menyambut Kehadiran ‘Rumah Sakit Ramah Robot’ Pertama
Hyundai Motor dan Kia baru-baru ini menjalin kerja sama dengan Hallym University Medical Center untuk memperkenalkan ‘solusi total robotika’ milik perusahaan ke dalam ruang medis, sekaligus mengumumkan pembangunan ‘rumah sakit ramah robot’. Hallym University Medical Center akan menyediakan ruang medis nyata sebagai tempat pengujian (testbed) untuk memverifikasi kegunaan serta mengumpulkan umpan balik dari pengguna di dalam rumah sakit. Secara spesifik, Hyundai Motor dan Kia akan mengembangkan robot pengantar yang disesuaikan untuk rumah sakit, sistem kontrol, otentikasi berbasis pengenalan wajah, serta sistem manajemen riwayat pengiriman barang khusus. Mereka juga akan bersama-sama menetapkan standar dan sistem sertifikasi untuk ‘rumah sakit ramah robot’. Meski sudah ada penerapan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) seperti kecerdasan buatan (AI) dan robot sebagai bagian dari ‘smart hospital’, konsep ‘rumah sakit ramah robot’ ini adalah yang pertama.
Hyundai Motor dan Kia menyatakan, “Rumah sakit adalah lingkungan dengan kepadatan tinggi di mana berbagai objek seperti kursi roda dan tempat tidur dorong bercampur dengan pasien serta staf medis, sehingga performa navigasi yang presisi dan keamanan robot menjadi elemen teknologi inti.” Mereka menambahkan, “Karena harus mempertimbangkan tujuan khusus seperti perlindungan informasi medis, pengendalian infeksi, dan kontrol akses, pengembangan teknologi robot khusus rumah sakit yang berbeda dari perkantoran konvensional sangat penting untuk mewujudkan rumah sakit ramah robot yang sesungguhnya.” Sebelumnya, perusahaan telah mengoperasikan robot pengantar bernama ‘DAL-e Delivery Robot’ di perkantoran swasta seperti Factorial Seongsu. Robot ini terhubung dengan sistem kontrol lift dan pintu masuk gedung untuk menavigasi seluruh lantai melalui rute optimal secara real-time, serta mengenali penerima barang berdasarkan teknologi pengenalan wajah berbasis AI.

Mirip dengan ‘rumah sakit ramah robot’, kita bisa menengok gedung kantor Naver035420 1784 yang telah menerima sertifikasi ‘bangunan ramah robot’. Gedung 1784 memanfaatkan teknologi mutakhir seperti digital twin, robot, AI, dan cloud. Di dalam gedung, sekitar 100 robot layanan menyediakan kenyamanan seperti pengiriman barang, dengan infrastruktur yang mencakup lift khusus robot serta sistem kecerdasan multi-robot berbasis cloud yang terintegrasi dengan gedung. Fitur lainnya termasuk pintu ruang rapat nirsentuh yang terbuka melalui deteksi gerak dan gerbang cepat (speed gate) yang dapat dilewati dengan pengenalan wajah, sehingga hampir tidak memerlukan ‘kontak’ fisik. ‘Rumah sakit ramah robot’ diperkirakan akan beroperasi dengan dasar ‘robot layanan’ dan ‘ruang berbasis robot’ yang serupa.
Berpusat pada Layanan seperti Pengiriman, Sterilisasi, dan Pemandu… Kepuasan Staf Medis Rendah
Robot di rumah sakit selama ini digunakan dalam sektor ‘layanan’ seperti pengiriman obat dan spesimen, sterilisasi, serta pemandu pasien. Sebelumnya, kekurangan tenaga medis dan kebutuhan akan perubahan metode penyampaian layanan kesehatan akibat pandemi COVID-19, serta dimulainya proyek percontohan robot layanan skala nasional dan proyek rumah sakit pintar, telah membuat ‘robot’ menempati posisi penting di rumah sakit. Proyek percontohan robot layanan dan proyek rumah sakit pintar masing-masing telah dikelola oleh Korea Institute for Robot Industry Advancement dan Korea Health Industry Development Institute sejak tahun 2020.
Dalam kasus Hallym University Sacred Heart Hospital, yang paling aktif mengoperasikan robot layanan medis, mereka menggunakan 77 robot dari 11 jenis untuk tugas keperawatan dan pendukung medis, seperti pengiriman obat dan spesimen, sterilisasi ruangan, pemandu pasien, pengiriman barang antar bangsal, serta edukasi pasien. Pihak rumah sakit dalam rilis pers terkait pencapaian ‘robot layanan medis’ sejak diperkenalkan hingga kini menjelaskan, “Departemen yang paling aktif memanfaatkannya adalah tim farmasi. Robot ‘Yakjae-Narumi’ mengirimkan obat ke berbagai bangsal, sehingga tugas tatap muka bagi apoteker berkurang dan perawat tidak perlu turun langsung ke ruang farmasi, yang meningkatkan efisiensi kerja bagi kedua kelompok tersebut.”

Korea Health Industry Development Institute mengklasifikasikan 58 model percontohan rumah sakit pintar menjadi 9 jenis modul. Model percontohan yang menggunakan ‘robot’ secara langsung sejauh ini mencakup dua jenis, yaitu ‘robot sterilisasi otonom’ dan ‘sistem pengiriman logistik berbasis AI’. Masing-masing termasuk dalam modul ‘pengendalian infeksi terpadu’ dan ‘pengiriman logistik cerdas di dalam rumah sakit’. ‘Robot sterilisasi otonom’ berfungsi untuk menavigasi area padat berdasarkan data sistem pelacakan lokasi real-time untuk memberi panduan jaga jarak sosial, memberikan panduan penggunaan masker melalui AI, serta melakukan sterilisasi UV malam hari pada berbagai kios seperti tombol lift dan mesin pembayaran otomatis. Sementara itu, ‘sistem pengiriman logistik berbasis AI’ memiliki fitur pembukaan pintu melalui otentikasi biometrik (vena jari) saat mengirim peralatan medis, obat-obatan (obat antikanker, narkotika, dll.), dan perlengkapan (alat-alat, cucian, limbah, dll.).
Evaluasi umum di lapangan medis adalah bahwa sementara staf pendukung merasa puas dengan penggunaan robot di sektor ‘layanan’, staf medis justru tidak merasakan manfaatnya. Staf medis menyatakan bahwa aspek kecepatan dan keamanan perlu ditingkatkan. Profesor A dari sebuah rumah sakit umum tersier yang pernah melakukan proyek percontohan robot mengatakan, “Ambil contoh spesimen; setiap rumah sakit memiliki sistem pengiriman yang berbeda, ada yang menggunakan sistem ban berjalan (conveyor belt), ada juga yang dipindahkan langsung oleh manusia. Pada akhirnya, kecepatan dan keamanan adalah yang terpenting. Ban berjalan lebih unggul dari robot dalam hal probabilitas kecelakaan dan kecepatan karena lebih sederhana. Begitu juga jika dipindahkan langsung oleh manusia, prosesnya sama-sama cepat.” Ia menambahkan, “Mungkin robot membantu untuk tugas-tugas yang tidak memprioritaskan waktu, namun sistem logistik rumah sakit saat ini terlalu kompleks dan bervariasi untuk ditangani sepenuhnya oleh robot.”
Biaya dan struktur bangunan sering disebutkan sebagai hambatan untuk memperluas penggunaan robot di rumah sakit. Diketahui bahwa rata-rata biaya per robot mencapai ratusan juta won, meskipun bervariasi tergantung jenisnya. Perusahaan pun merasa sulit untuk melakukan pengembangan tanpa dukungan pemerintah, sehingga hingga saat ini penggunaan robot di rumah sakit masih berpusat pada proyek dukungan pemerintah. Struktur bangunan rumah sakit juga menjadi masalah. Dalam laporan ‘Studi Rencana Pengembangan Rumah Sakit Pintar untuk Inovasi Layanan Medis di Era Digital’, Korea Health Industry Development Institute menyoroti, “Ada bagian dengan kemiringan yang sulit dilalui robot sehingga perlu dilakukan renovasi, pintu-pintu yang harus berkomunikasi dengan robot masih banyak yang manual, dan diperlukan kajian mengenai arah pintu, jarak, serta kemampuan komunikasi. Lift juga menjadi kendala karena sering ditemukan kasus di mana gedung-gedung yang terhubung menggunakan lift dari perusahaan yang berbeda.”