[비즈한국] Dengan keputusan Mahkamah Konstitusi pada tanggal 4 lalu yang memakzulkan mantan Presiden Yoon Suk-yeol, risiko kekosongan pemerintahan diharapkan akan teratasi. Industri pertahanan dalam negeri, yang sempat terhambat ekspornya akibat absennya kepala negara, kini menaruh harapan besar bahwa pusat komando ekspor pertahanan akan kembali beroperasi seiring dengan dimulainya pemerintahan baru.

Perusahaan pertahanan dalam negeri tetap melanjutkan negosiasi teknis dengan negara-negara tujuan ekspor di tengah situasi kekosongan pemerintahan yang berlangsung selama empat bulan. Perusahaan pertahanan seperti Hanwha Aerospace012450, Korea Aerospace Industries (KAI), Hyundai Rotem064350, dan LIG Nex1079550 telah mendorong kerja sama ekspor strategis dengan negara-negara seperti Arab Saudi, Polandia, Rumania, dan Australia.
Industri pertahanan domestik terkena dampak langsung maupun tidak langsung dari ekspor pasca darurat militer. Hal ini dikarenakan daya tawar ekspor menurun akibat absennya presiden dan menteri pertahanan. Dalam industri pertahanan, peran pemerintah dan kredibilitas negara sangatlah penting karena transaksi yang dilakukan biasanya berbentuk antar-pemerintah (G2G).
Faktanya, diplomasi pertahanan saat ini terhenti karena pejabat militer luar negeri berturut-turut membatalkan atau menunda jadwal kunjungan mereka ke Korea terkait industri pertahanan. Baru-baru ini, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth tidak menyertakan Korea dalam rangkaian kunjungan pertamanya ke kawasan Indo-Pasifik setelah menjabat. Interpretasi yang muncul menyatakan bahwa selain kekosongan kepemimpinan, situasi politik domestik di mana posisi menteri pertahanan hanya diisi oleh pelaksana tugas juga memberikan pengaruh.
Kontrak ekspor tahap kedua untuk 'Tank K2' dengan Polandia, yang awalnya dijadwalkan selesai tahun lalu, juga tertunda. Pihak Polandia sempat meminta kunjungan Menteri Pertahanan Korea untuk acara terkait kontrak tahap kedua, namun gagal karena statusnya yang hanya pelaksana tugas. Oleh karena itu, pemerintah pun berupaya keras untuk merealisasikan kontrak tersebut. Menteri Luar Negeri Cho Tae-yul mengunjungi Polandia bulan lalu bersama delegasi Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA) untuk mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Polandia dan sepakat untuk memberikan dukungan penuh demi kontrak implementasi tahap kedua tank K2. Dikabarkan bahwa pihak Polandia baru-baru ini telah menyampaikan kepada pemerintah Korea bahwa kontrak tetap dapat ditandatangani meskipun Menteri Pertahanan Korea tidak hadir.
Proyek kapal selam Polandia, yang pemenang akhirnya akan ditentukan September mendatang, juga diprediksi akan sangat terbantu dengan dimulainya pusat komando pertahanan yang baru. Proyek ini bernilai hingga 8 triliun won, dan saat ini HD Hyundai Heavy Industries329180 serta Hanwha Ocean bersaing dengan negara-negara maju di industri pertahanan Eropa seperti Prancis dan Jerman. Perusahaan Jerman dan Prancis bekerja sama sebagai satu tim dengan pemerintah mereka untuk menawarkan kerja sama industri jangka panjang antar-pemerintah di luar sektor pertahanan.
KAI, yang terkena dampak langsung dari situasi darurat militer, juga berencana memperluas jalur ekspor helikopter. Presiden Kirgistan Sadyr Japarov, yang berencana mengunjungi Korea pada 2 Desember tahun lalu untuk mendiskusikan pembelian helikopter, membatalkan jadwal kunjungan ke lokasi bisnis KAI secara mendadak akibat deklarasi darurat militer. Akibatnya, proyek ekspor helikopter ke Asia Tengah yang sedang dijalankan KAI sempat tertunda pada tahap krusial. Seorang pejabat KAI menjelaskan, "Diskusi pembelian masih terus berjalan, dan jika kekosongan pemerintahan tidak berlangsung lama, tidak akan ada masalah besar dalam negosiasi ekspor."
Mengingat masa kekosongan politik akan berlanjut selama sekitar 60 hari hingga pemerintahan berikutnya dimulai, risiko jangka pendek seperti terputusnya saluran diplomatik atau penundaan jadwal ekspor masih tetap ada. Oleh karena itu, muncul pendapat bahwa penting bagi departemen teknis seperti DAPA dan Kementerian Pertahanan untuk menjaga kesinambungan ekspor dan mempertahankan momentum dorongan kebijakan. Seorang pejabat industri menekankan, "Baru-baru ini, baik partai berkuasa maupun oposisi sepakat bahwa industri pertahanan itu penting. Tampaknya perhatian terhadap industri pertahanan akan berlanjut sejak proses pemilihan presiden," seraya menambahkan, "Bahkan di masa kekosongan yang tersisa, lembaga pemerintah termasuk DAPA harus menjalankan aktivitas dukungan ekspor pertahanan dengan penuh tanggung jawab agar risiko dapat dikurangi."