[비즈한국] Sejak tahun 1980-an, ketika motor penggerak film mulai tertanam di dalam bodi kamera format 35mm, desain kamera telah berevolusi—meskipun dengan tingkat yang berbeda-beda—menuju ergonomi yang lebih nyaman digenggam dan mudah dioperasikan. Hasilnya, kamera profesional masa kini memiliki fungsi yang sangat luas, serta dilengkapi dengan segudang tombol, tonjolan, dan desain bodi yang rumit untuk mengoperasikannya. Namun, baru-baru ini muncul model yang secara frontal melawan arus tersebut. Itulah kamera mirrorless full-frame BF yang diperkenalkan oleh Sigma, Jepang.
Sigma adalah produsen yang lebih dikenal karena lensanya daripada bodi kameranya. Mungkin karena itulah, meskipun BF dilengkapi dengan sensor full-frame yang mahal, kamera ini diluncurkan dengan pendekatan yang cukup unik, seolah membidik pasar ceruk (niche market). Sigma menyatakan bahwa mereka menghilangkan elemen-elemen yang dianggap sedikit saja menghambat pemotretan intuitif, demi memperbaiki kekurangan kamera modern yang menjadi terlalu rumit untuk penggunaan sehari-hari dan untuk menghidupkan kembali esensi dari memotret. Hasilnya adalah desain eksterior yang sangat avant-garde. Jika diibaratkan mobil, teringat pada Caterham Seven yang mengejar pengalaman berkendara ringan yang ekstrem dengan memangkas semua suku cadang yang bisa dikurangi.

BF memiliki ciri desain sederhana yang membuat orang yang melihatnya untuk pertama kali sulit mengenali bahwa itu adalah sebuah 'kamera'. Bodi yang dibuat dari bongkahan aluminium yang dipahat menjadi kotak mengingatkan kita pada seri MacBook Apple. Tombol-tombol utamanya juga bukan tipe mekanis, melainkan tipe peka tekanan (pressure-sensitive) yang hanya memberikan sensasi saat ditekan. Bentuk bodinya pun bukan kubus sempurna. Bagian depan ke belakang melebar sedikit, membentuk trapesium jika dilihat dari atas agar tidak membosankan. Desain sudut yang tajam terkadang menimbulkan kekhawatiran bagi pengguna mengenai kenyamanan saat menggenggamnya.
Konsep minimalisme juga terlihat pada kontrolnya. Berbeda dengan kamera konvensional yang tertutup oleh berbagai dial, kenop, dan tombol, Sigma membuat tombol BF hanya dalam dua bentuk berbasis lingkaran dan meminimalisir bentuk lainnya. Semua desain tombol mengingatkan pada layar operasi produk digital yang distandarisasi dan dimodulasi di bawah pedoman yang konsisten. Menu internal BF juga dirancang sederhana dengan suasana yang selaras dengan eksteriornya. Pengaturan utama terkait pemotretan diletakkan di layar live view, pengaturan tambahan di menu opsi, dan detail lainnya di menu sistem; semuanya dirancang agar intuitif dan simpel, menyimpang dari struktur menu kamera profesional yang rumit.
Kelemahan BF yang sering disoroti adalah layar LCD tetap yang tidak bisa dimiringkan (non-tilting), penurunan skalabilitas karena minimnya port, serta sifat tertutupnya yang menghilangkan slot kartu memori terpisah dan mengharuskan pemindahan file dari memori internal hanya melalui port USB-C. Hal ini dikarenakan BF dianggap sebagai kelanjutan dari kamera konvensional. Namun, bagaimana jika kita mengubah perspektif dan melihat model ini sebagai sejenis ponsel pintar? BF, yang mengejar minimalisme ekstrem, entah sengaja atau tidak, telah menjadi sangat mirip dengan ponsel pintar. Dengan kata lain, jika dilebih-lebihkan, BF bisa dianggap sebagai ponsel pintar yang dilengkapi dengan ukuran sensor yang luar biasa besar dan sistem lensa yang dapat diganti. Kemampuannya untuk memotret dengan cepat tanpa proses pengoperasian yang rumit juga mirip dengan kamera ponsel pintar.

Penyusupan teknik elektronika ke dalam kamera sudah terjadi sejak lama. Namun, masa transisi di mana analog dan digital hidup berdampingan—seperti pada DSLR yang memerlukan pentaprisma atau kamera mirrorless yang menggunakan rana mekanis—telah berlangsung cukup lama. Di tengah-tengah itu, munculnya BF melontarkan pertanyaan tentang 'elektronifikasi kamera yang sempurna'. Kamera profesional setelah era BF kemungkinan akan terbagi menjadi dua jenis: mereka yang mengejar konsep ponsel pintar dengan lensa yang dapat diganti, atau sebaliknya, model tradisional yang memuat banyak kontrol mekanis yang terasa kasar namun memberikan sensasi taktil saat dioperasikan. Sama seperti eksistensi BlackBerry dengan keyboard QWERTY tradisional atau pengguna iPhone yang mendambakan keyboard eksternal meskipun ponsel pintar dengan keyboard virtual di layar sudah menjadi arus utama, tidak ada jawaban yang mutlak dan tidak ada arah yang benar secara absolut. Namun, ada firasat bahwa BF akan menjadi titik pemisah tersebut.
Sulit bagi BF yang mengadopsi mount standar eksklusif untuk merebut permintaan pengguna Canon, Nikon, atau Sony. Namun, makna penting dari BF terletak di tempat lain. Saat ini kita hidup di era di mana produk-produk yang dulunya mengutamakan elemen mekanis kini menyatu di bawah kerangka besar yang disebut teknik elektronika. Seiring berkembangnya teknologi elektronik, desain produk di berbagai bidang mulai konvergen menjadi satu, dan BF adalah model yang menunjukkan tren tersebut di sisi kamera. Sebagaimana desain Tesla Cybertruck dan Sigma BF terlihat jauh lebih mirip satu sama lain dibandingkan dengan Ford seri F atau ponsel fitur Nokia.
Siapakah penulis Han Dong-hoon?
Seorang desainer tipografi. Memiliki minat pada segala bidang yang berhubungan dengan huruf, mulai dari menulis, merancang huruf, hingga mengajar tentang tipografi. Saat ini bekerja di studio tipografi 'AlignType', merancang berbagai font khusus perusahaan dan font untuk dijual secara umum. Pernah berkontribusi pada majalah bulanan 'Design' dan majalah kuartalan 'Design Review', serta memberikan kuliah desain tipografi di platform online dan offline. Pada tahun 2021, ia menerbitkan buku esai berjudul ‘Universe in Letters’.