[비즈한국] Proyek pengadaan ‘drone kardus (drone pengintai kecil tipe 3)’ yang sempat batal tahun lalu, rencananya akan dilanjutkan kembali tahun ini. Militer dikabarkan akan mengevaluasi efektivitas operasional setelah mengoperasikan drone pengintai kardus tersebut, lalu memutuskan apakah akan melanjutkan ke tahap pengembangan dan pengenalan drone kardus untuk misi bunuh diri (kamikaze) di masa depan.

Menurut informasi terbaru dari industri pertahanan, akhir tahun lalu militer sempat mengadakan tender untuk pengadaan drone kardus kecil. Namun, proyek tersebut terhenti karena semua perusahaan yang mendaftar dinyatakan tidak memenuhi syarat. Seorang perwakilan perusahaan yang berpartisipasi menjelaskan, “Kami memang memenuhi spesifikasi performa yang diminta militer, tetapi terlepas dari produknya, hampir semua perusahaan dinyatakan tidak lulus dalam evaluasi kecocokan korporasi. Sepertinya keputusan itu diambil karena sebagian besar peserta adalah perusahaan skala kecil dan menengah yang fokus pada teknologi namun minim rekam jejak.”
Meskipun ada kendala tersebut, otoritas militer memutuskan untuk melanjutkan proyek drone kardus karena Korea Utara terus meningkatkan ancamannya terhadap Korea Selatan, termasuk dengan memperlihatkan adegan serangan presisi menggunakan drone kardus tahun lalu. Militer dikabarkan berpendapat bahwa untuk mematahkan niat provokasi Korea Utara dengan drone kardus, militer Korea Selatan juga perlu mengamankan senjata serupa.
Korea Utara pernah memperlihatkan adegan peluncuran drone kardus dari sebuah mobil penumpang dan meledakkannya hingga terbakar pada 14 November tahun lalu. Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, yang menyaksikan adegan tersebut menyatakan bahwa "kompetisi global untuk memanfaatkan drone sebagai alat utama kekuatan militer semakin cepat," dan memerintahkan produksi massal drone tersebut.
Dalam uji coba proyek ilmu pertahanan yang diungkapkan Korea Utara pada tanggal 27, dilaporkan bahwa drone kardus tersebut tampak menyerang sasaran yang meniru peralatan militer Korea Selatan, seperti kendaraan peluncur rudal permukaan-ke-udara jarak jauh (L-SAM) dan radar kontra-artileri. Anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat, Yoo Yong-won, mengatakan, “Terlihat ada upaya untuk melumpuhkan sistem pertahanan udara melalui serangan kawanan (swarm attack) dengan memanfaatkan keunggulan drone kardus yang tidak terdeteksi radar. Dilihat dari perubahan target dari mobil penumpang ke kendaraan militer setelah pengungkapan pertama tahun lalu, analisis menunjukkan bahwa daya hancur drone tersebut telah ditingkatkan.”
Drone kardus berukuran kecil dan memiliki kebisingan rendah sehingga sulit dilacak, serta karena bahannya dari kertas, hampir tidak terdeteksi oleh radar. Harga per unitnya pun terjangkau, rata-rata sekitar 5 juta won, menjadikannya senjata dengan nilai efisiensi tinggi serta salah satu senjata paling mengancam dalam peperangan modern. Faktanya, pada proyek tahun lalu, harga terendah untuk satu drone kardus diketahui sekitar 2,5 juta won.
Perusahaan pertahanan domestik kini juga telah berhasil mengembangkan drone kardus super ringan yang dilengkapi motor listrik kecil, dengan berat total hanya sekitar 2,5 kg. Waktu terbangnya pun tergolong lama, biasanya mampu terbang selama 120 menit atau lebih. Dengan hanya memodifikasi beberapa komponen, drone-drone ini dapat dialihfungsikan menjadi senjata bunuh diri yang dilengkapi bahan peledak.
Drone kardus yang akan didatangkan nantinya direncanakan melalui kontrak pengadaan produksi dalam negeri. Sebanyak 100 unit akan dipesan sebagai pengiriman awal sebelum ditempatkan di Komando Operasi Drone untuk kepentingan operasional. Sekretaris Jenderal Forum Pertahanan dan Keamanan, Eom Hyo-sik, mengatakan, “Hanya dengan mengamankan drone kardus saja sudah bisa memberikan efek pencegahan terhadap Korea Utara. Di masa depan, perlu ada produksi massal dengan penambahan fungsi AI dan kemampuan serangan bunuh diri.”