주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Laporan K-Culture
G-Dragon, Alasan Mengapa Ia Adalah Identitas dan Masa Depan Artis K-Pop

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Pencapaian G-Dragon yang kembali setelah 11 tahun 5 bulan lamanya sungguh mencengangkan. Suara sensasional dan visual transenden dalam album penuh ke-3 miliknya, ‘Übermensch’, benar-benar luar biasa. Ia telah melampaui tren. Namun, bagi mereka yang mengenalnya, hal ini tidak mengejutkan. Karena memang itulah G-Dragon yang sesungguhnya. Kita bisa kembali melihat asal mula dan masa depan dari performa gemilang K-pop selama sepuluh tahun terakhir ini melalui sosok G-Dragon.

G-Dragon telah kembali. Dengan penampilan yang luar biasa. Ia secara fundamental mengubah wajah idola K-pop. Foto=Facebook G-Dragon
G-Dragon telah kembali. Dengan penampilan yang luar biasa. Ia secara fundamental mengubah wajah idola K-pop. Foto=Facebook G-Dragon

Berkat dirinya, istilah ‘penyanyi’ tidak lagi cukup. Kini, penyanyi disebut sebagai artis. G-Dragon adalah seseorang yang sejak dini telah mencapai tingkat yang disebut sebagai artis K-pop. Sebelum Psy dan BTS, ada ‘Big Bang’, dan di pusat ‘Big Bang’ itulah G-Dragon berada. ‘Big Bang’ dan G-Dragon adalah jembatan antara idola media massa dan idola media sosial. Ia pernah menjadi penyanyi solo, duo, maupun bagian dari grup utuh. Berkat G-Dragon, grup idola K-pop mampu mengatasi keterbatasan mereka dan bertransformasi menjadi artis global. Ia menjadi sosok induk bagi BTS dan Blackpink. Kemampuannya dalam menulis lirik, menciptakan lagu, dan memproduseri ditambah dengan selera busana serta gaya yang luar biasa, membuatnya menonjol. Gayanya menjadi pusat tren, dan gaya hidupnya sendiri pun menjadi tren. Jika melihat masa lalunya, kita tidak hanya bisa melihat sisi ‘hip’ saat ini, tetapi juga bisa memproyeksikan masa depannya.

G-Dragon sudah menjalani masa pelatihan selama 5 tahun di SM sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, ia meninggalkan SM karena tidak melihat visi dalam sistem idola yang terencana, namun ini bukanlah bentuk ketidakmampuan beradaptasi, melainkan awal dari eksplorasi wilayah baru. Ia secara mandiri mempelajari dan menciptakan hip-hop yang telah menjadi tren global, hingga menjadi peserta termuda dalam album kompilasi hip-hop ‘2001 Korea HipHopFlex’. Sebelum debut di YG, partisipasinya dalam album atau tampil sebagai penampil tamu bersama musisi papan atas seperti Perry, Lexy, Se7en, dan Wheesung menjadi titik awal perjalanan G-Dragon sebagai seorang artis. Berbekal hal tersebut, lahirnya ‘Big Bang’, grup hip-hop idola pertama di mana ia menjadi pemimpin sekaligus anggota, adalah sebuah berkah bagi dunia K-pop. ‘Big Bang’ asuhan G-Dragon adalah gaya K-pop itu sendiri, yang melampaui idola terencana menjadi idola yang bertumbuh dan mandiri.

Ia membuat Big Bang benar-benar berbeda dari idola pada umumnya. Berbeda dari idola lain, ia memproduseri sendiri albumnya, serta menulis lirik dan menciptakan lagunya. Setelah menulis lirik dan menciptakan lagu utama ‘Lies’ untuk EP pertama Big Bang ‘Always’ pada tahun 2007, G-Dragon mendapatkan pengakuan atas musikalitasnya yang luar biasa hingga dijuluki sebagai ‘idola produser’ dan mulai naik ke jajaran artis sesungguhnya. Meskipun ‘Lies’ terpilih sebagai lagu paling bersinar dalam sejarah 10 tahun Mnet ‘M Countdown’ pada tahun 2014, itu hanyalah permulaan. Pada tahun 2012, ia terpilih sebagai komposer dengan jumlah lagu hit terbanyak, mencapai 17 lagu. Lagu-lagu lainnya seperti ‘Last Farewell’ (2014) dan ‘Day by Day’ (2015) juga sukses secara beruntun, menjadikannya salah satu dari 8 komposer paling bersinar tahun itu.

Lagu-lagu G-Dragon memiliki genre yang beragam, mulai dari hip-hop, R&B, akustik, hingga musik tari elektronik. Ia memiliki kemampuan luar biasa dalam menangkap emosi pribadi yang sering terlewatkan dan menggeneralisasikannya. Meski tetap menjaga diri agar tidak terjebak dalam emosi yang terlalu tertutup, ia mampu meramu perasaan-perasaan kecil tersebut menjadi sentimen universal yang mudah dipahami.

Album baru G-Dragon ‘Übermensch’. ‘Übermensch’ adalah istilah dari filsuf Jerman Nietzsche yang berarti ‘manusia super’, seseorang yang mampu mengatasi kehidupan yang keras dengan tawa dan menemukan makna di dalamnya. Foto=Instagram G-Dragon
Album baru G-Dragon ‘Übermensch’. ‘Übermensch’ adalah istilah dari filsuf Jerman Nietzsche yang berarti ‘manusia super’, seseorang yang mampu mengatasi kehidupan yang keras dengan tawa dan menemukan makna di dalamnya. Foto=Instagram G-Dragon

Sejak awal Big Bang, ia telah menunjukkan kemampuan dan posisi sebagai penyanyi solo. Pada 18 Agustus 2009, ia merilis album solo pertamanya ‘Heartbreaker’ dan mendominasi berbagai tangga lagu. Sebagai penyanyi solo, ia mendapat pujian besar bahkan di Billboard dan memenangkan penghargaan Album of the Year di Mnet ‘Asia Music Awards’.

Bukan hanya tangga musik, konsep yang kuat dan menakjubkan dalam album ini melahirkan banyak parodi di dunia budaya populer, baik di televisi maupun internet. Keberanian yang melampaui batas ini berlanjut pada lagu ‘That XX’ dalam EP solo pertamanya ‘One of a Kind’ pada tahun 2012. Ini adalah pertama kalinya sebuah lagu baru yang tidak boleh didengar oleh mereka yang berusia di bawah 19 tahun langsung naik ke puncak tangga lagu saat dirilis. Hal itu membuktikan bahwa G-Dragon telah mengubah lingkungan konsumsi musik. Pada Januari 2013, ia menjadi penyanyi solo Korea pertama yang menggelar konser di empat kubah (dome) di Jepang.

Bukan hanya solo, aktivitas unitnya pun dianggap sebagai contoh teladan. Pada November 2010, G-Dragon dan T.O.P membentuk unit beranggotakan dua orang bernama GD&TOP, dan lagu-lagu dalam album mereka seperti ‘High High’, ‘Oh Yeah’, dan ‘Knock Out’ menjadi hit besar.

Ia tidak hanya membedakan kepribadian dan identitasnya melalui musik, tetapi juga melalui gaya busana. Dengan tubuh rampingnya, ia menampilkan gaya busana yang penuh karakter, menunjukkan betapa kerennya (hip) seorang artis dengan bentuk tubuh Asia. Lebih jauh lagi, ia membuka babak baru dalam gaya *genderless* yang melampaui batas pria dan wanita. Kacamata dengan gaya unik, gaya rambut pirang, syal segitiga, dan lainnya membuatnya dikenal oleh berbagai merek global sebagai sosok yang *stylish*.

G-Dragon berkolaborasi dengan *rapper* wanita Amerika peraih Grammy tahun 2013, Missy Elliott, DJ Diplo, Baauer, dan lainnya, menunjukkan sisi idola yang tidak terperangkap dalam identitasnya sendiri dan aktif dalam berkolaborasi. Kolaborasi dengan seniman dalam dan luar negeri tidak terbatas pada musik saja. Contoh representatifnya adalah pameran kolaborasi bertajuk ‘PEACEMINUSONE: Beyond the Stage’ pada tahun 2015, di mana ia bekerja sama dengan 12 seniman kontemporer. Sejak saat itu, anggota grup idola mulai menaruh minat pada seni kontemporer. Contoh penggunaan seni kontemporer secara aktif dalam video musik pun semakin meningkat.

Rekam jejak dan pengalaman G-Dragon terserap ke dalam album baru dan gaya busananya kali ini. Lagu utama ‘TOO BAD’ (feat. Anderson Paak) menempati peringkat 1 di tangga lagu, ia menyapa pemirsa melalui acara hiburan MBC ‘Good Day’, dan mulai bulan Mei ia akan memulai tur dunia. Jangkauan aktivitasnya kini lebih luas dari sebelumnya. G-Dragon dengan apik menunjukkan bahwa seorang idola tidak hanya bisa mempertahankan aktivitas musik sebagai seorang artis, tetapi juga bisa terus bernapas bersama publik sebagai *fashionista* yang memimpin tren dan ikon zamannya. Ia akan menjadi masa depan, teladan, dan peta jalan bagi idola K-pop.

Penulis Kim Heon-sik, sejak usia 20-an, telah menjelajahi atau menelusuri hutan fenomena budaya populer dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia sedikit lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan, ia tetap menempuh jalan yang sama dengan keyakinan yang sama pula.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김헌식 대중문화평론가

필자 김헌식은 20대부터 문화 속에 세상을 좀 더 낫게 만드는 길이 있다는 기대감으로 특히 대중문화 현상의 숲을 거닐거나 헤쳐왔다. 인공지능과 양자 컴퓨터가 활약하는 21세기에도 여전히 같은 믿음으로 한길을 가고 있다.

writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지