주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Hanya Namanya 'Protein', Kandungan Sangat Beragam… Menipu Konsumen Lewat Celah Hukum

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Baru-baru ini, sebuah video yang dibuat oleh YouTuber penganalisis nutrisi makanan terkait produk seperti shake protein dan protein bar menjadi perbincangan hangat. Dalam video tersebut, hanya sebagian kecil produk yang kandungan nutrisinya terbukti sesuai, sementara kolom komentar dibanjiri keluhan konsumen yang merasa 'ditipu' oleh beberapa produk tertentu. Kritik semakin tajam mengingat produk-produk ini sering kali menonjolkan kesan 'sehat'. Lantas, apakah pelabelan seperti ini tidak bermasalah secara hukum?

Produk protein bar sedang dipajang di sebuah minimarket di Seoul. Foto=Reporter Kim Cho-young
Produk protein bar sedang dipajang di sebuah minimarket di Seoul. Foto=Reporter Kim Cho-young

Penamaan produk makanan dapat diatur melalui Undang-Undang tentang Pelabelan dan Periklanan Makanan. Selama kandungan nutrisi yang tertera dapat dibuktikan keberadaannya, mencantumkan nama komponen seperti 'protein' pada nama produk tidak menjadi masalah, terlepas dari jumlah kandungannya. Namun, penting untuk memastikan konsumen tidak salah paham atau bingung. Jika sebuah produk yang bukan merupakan makanan kesehatan fungsional dipasarkan seolah-olah merupakan makanan kesehatan fungsional, atau menggunakan pelabelan/iklan yang palsu, berlebihan, atau menipu konsumen, maka hal tersebut dianggap sebagai 'pelabelan/iklan yang tidak adil' yang dapat dikenai denda.

Oleh karena itu, kandungan protein dalam produk protein yang dijual di pasaran sangat bervariasi. Di Naver035420 Shopping, kami mencari 'protein bar' dan membandingkan 5 produk teratas berdasarkan jumlah ulasan terbanyak. Jika total berat makanan disetarakan menjadi 60g (berdasarkan produk tertinggi), kandungan proteinnya berkisar antara 9g hingga 20g. Perbedaan kandungan ini juga tidak bergantung pada 'jenis makanan'. Dalam basis data nutrisi Kementerian Keamanan Pangan dan Obat-obatan (MFDS), jika Anda memasukkan kata kunci 'protein bar' atau 'protein bar' (dalam bahasa Inggris), kategori makanannya sangat beragam, mulai dari 28 jenis biskuit/roti atau kue beras, 19 jenis olahan kakao atau cokelat, 16 jenis olahan hasil pertanian, 8 jenis makanan lain, hingga 4 jenis olahan hasil laut.

Masalahnya bukan hanya pada nama produk yang tidak mencerminkan kandungan, tetapi juga pada klaim nutrisi seperti 'tinggi' atau 'kaya'. Berdasarkan standar detail untuk klaim kandungan nutrisi, untuk protein, label 'mengandung' dapat digunakan jika memenuhi 10% atau lebih dari angka kecukupan gizi harian per 100g makanan, 5% atau lebih per 100ml, 5% atau lebih per 100kcal, atau 10% atau lebih per takaran saji. Label seperti 'tinggi' atau 'kaya' harus memenuhi dua kali lipat dari standar ini. Pihak produsen dapat menampilkan persentase atau nilai absolut dibandingkan dengan nilai standar produk lain, namun dalam hal ini, data harus dihitung berdasarkan setidaknya 3 produk serupa yang memiliki pangsa pasar tinggi dalam kategori jenis makanan yang sama.

Bagian yang menjadi masalah adalah definisi 'jenis makanan yang sama'. Meskipun namanya sama-sama 'protein bar', klasifikasinya bisa berbeda, seperti menjadi 'olahan kacang atau kacang-kacangan' tergantung pada komposisinya. Karena standarnya didasarkan pada 'jenis makanan yang sama', sebuah produk bisa mendapatkan label klaim nutrisi meskipun kandungan proteinnya jauh lebih sedikit dibandingkan jenis makanan lainnya. Faktanya, saat memeriksa nilai gizi sebuah protein bar yang berlabel 'tinggi protein' pada kemasannya, ditemukan kandungan karbohidrat efektif 57,2g, lemak jenuh 8,6g, dan protein 11,9g per 100g. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan produk perusahaan lain yang rata-rata memiliki kandungan protein di kisaran 20-30g.

Sebelumnya, pada tahun 2021, MFDS telah memeriksa 660 produk 'protein bar' dan memberikan sanksi administratif atas iklan palsu atau berlebihan. Mereka fokus memeriksa iklan daring dan mendapati 21 situs web melanggar aturan. Namun, saat itu fokusnya lebih pada iklan daripada kandungan protein. Produk yang dipasalahkan adalah yang membuat konsumen salah paham bahwa protein bar (makanan umum) adalah makanan kesehatan fungsional untuk diet, dengan klaim seperti 'diet bar penurun lemak tubuh', 'diet bar penguat otot', 'camilan nutrisi kesehatan diet', 'biskuit bebas gemuk', atau 'pendukung penurunan berat badan'. Pada tahun 2023, Badan Konsumen Korea (KCA) menganalisis 16 produk minuman protein dan mencatat bahwa beberapa produk tidak memadai untuk kebutuhan asupan protein, dengan kandungan yang hanya mencapai 4g.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
김초영 기자
choyoung@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지