[비즈한국] Produksi pesawat latih dasar buatan dalam negeri ‘KT-1’ kini didorong untuk dilakukan secara lokal di Indonesia. Fasilitas produksi KT-1 yang saat ini berada di Korea Aerospace Industries (KAI)047810 diprediksi akan dipindahkan ke Indonesia. Meski pembahasan mendetail akan memakan waktu, jika terealisasi, hal ini diharapkan memberikan efek saling menguntungkan (win-win): KAI mendapatkan 'tambahan ruang produksi untuk meningkatkan kapasitas produksi massal', sementara Indonesia mendapatkan 'batu loncatan untuk kebangkitan industri penerbangan'.

Kepala Defense Acquisition Program Administration (DAPA), Seok Jong-gun, bertemu dengan Wakil Menteri Pertahanan Indonesia, Donny Ermawan Taufanto, di Jakarta pada tanggal 21 lalu untuk membahas isu-isu terkini terkait kerja sama industri pertahanan dan langkah-langkah penguatan kerja sama pertahanan di masa depan. Ini merupakan dialog kerja sama pertahanan tingkat tinggi pertama antara kedua negara setelah insiden kebocoran data rahasia KF-21 oleh teknisi asal Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Seok menyatakan, "Memang benar ada kesulitan karena perbedaan pandangan di beberapa bidang baru-baru ini," dan menambahkan, "Melalui pertemuan ini, saya berharap kita dapat memperkuat komunikasi timbal balik, mengatasi kesulitan saat ini, dan semakin mengukuhkan hubungan kerja sama antar kedua negara." Pernyataan ini tampaknya merujuk pada revisi segera atas perjanjian pengembangan bersama yang saat ini sedang dinegosiasikan, yaitu mengurangi kontribusi biaya pengembangan KF-21 yang harus dibayar Indonesia dari 1,6 triliun won menjadi 600 miliar won, serta tetap mempertahankan kontrak produksi 48 unit KF-21 di Indonesia.
Selain itu, DAPA melalui siaran pers menyatakan bahwa pembahasan antara Kepala DAPA dan Wakil Menteri Pertahanan Indonesia tidak terbatas pada proyek KF-21 saja. Di dalamnya termasuk agenda baru yang sebelumnya belum diketahui publik, yaitu 'rencana produksi lokal KT-1'.
KT-1 adalah pesawat latih dasar yang dikembangkan oleh Agency for Defense Development (ADD) dan diproduksi oleh KAI. Pilot Angkatan Udara setelah menggunakan pesawat latih dasar ini untuk mempelajari taktik terbang dasar, akan melanjutkan ke pesawat latih lanjut T-50 sebelum akhirnya menjadi pilot penuh. Sejak penerbangan perdana prototipe pada Desember 1991, pesawat ini telah diekspor ke Angkatan Udara Korea, Indonesia, Turki, Peru, dan Senegal selama 25 tahun terakhir sejak tahun 2000 dan masih aktif beroperasi hingga saat ini.
Meskipun DAPA dan produsen KAI tidak memberikan jawaban mengenai detail rencana produksi lokal KT-1, berdasarkan penelusuran penulis, salah satu poin negosiasi adalah memindahkan fasilitas produksi KT-1 yang ada di Sacheon, Korea, ke Indonesia agar ke depannya semua unit KT-1 diproduksi di Indonesia.
Menurut sumber industri, fasilitas produksi KAI di Sacheon saat ini terbagi menjadi gedung sayap tetap (fixed-wing) dan gedung sayap putar (rotary-wing). Namun, karena KAI kesulitan menangani lini produksi helikopter serbu ringan LAH-1, helikopter serbu amfibi Marinir, serta produksi massal FA-50 dan KF-21 sekaligus, maka 'kebutuhan akan ruang produksi' menjadi krusial. Untuk mengatasi hal ini, KAI telah berupaya melakukan perluasan lahan, termasuk mendirikan pusat penerbangan sayap putar baru di Jinju, Gyeongnam, pada Desember tahun lalu. Namun, karena gedung sayap tetap harus menampung berbagai volume pesawat seperti KF-21, FA-50, KT-1, dan pesanan sub-kontrak F-15K, diperlukan ruang produksi tambahan.
Jika rencana produksi lokal KT-1 di Indonesia ini terealisasi, baik produsen KAI maupun perusahaan dirgantara lokal Indonesia, PT DI, diprediksi akan sama-sama diuntungkan. KAI dapat memperlancar produksi massal FA-50 dan KF-21 yang permintaannya sedang melonjak berkat ketersediaan ruang pabrik, dan diharapkan dapat memenangkan pesanan tambahan melalui pengiriman cepat seperti pada proyek FA-50GF untuk Polandia.
PT DI Indonesia juga diperkirakan akan mendapatkan keuntungan besar dari produksi lokal KT-1. Baru-baru ini, pemerintah Indonesia menghadapi banyak kesulitan, termasuk situasi keuangan PT DI yang sempat memburuk akibat efisiensi anggaran pemerintah. Namun, dengan menggaet lini KT-1 selain CN-235, PT DI akan lebih mudah mempertahankan tenaga kerja produksinya, yang pada akhirnya diharapkan dapat membantu pengembangan industri penerbangan Indonesia.
Namun, untuk menilai sisi positif kerja sama ini, perlu diingat bahwa kerja sama industri pertahanan antara Korea dan Indonesia belum sepenuhnya kembali normal. Khususnya, sulit untuk memprediksi apakah kontrak produksi lokal 48 unit KF-21 yang telah ditetapkan dalam perjanjian pengembangan bersama awal akan benar-benar dijalankan sebagai kompensasi atas pengurangan kontribusi biaya KF-21, serta apakah komitmen pembayaran biaya dapat dipastikan.
Menurut sumber anonim, DAPA dan pemerintah Indonesia sempat berencana mendorong kontrak produksi lokal KF-21 pada pameran pertahanan terbesar di Indonesia, 'INDODEFENSE', tahun lalu. Namun, hal tersebut tidak terwujud karena penundaan berulang kali pada acara tersebut. Pihak penyelenggara, Kementerian Pertahanan RI, telah mengumumkan bahwa INDODEFENSE akan diadakan pada 11 hingga 14 Juni mendatang. Perhatian kini tertuju pada apakah kerja sama pertahanan kedua negara, yang sempat terganjal masalah biaya, akan kembali normal.