[비즈한국] Akibat kasus Homeplus, kritik sosial terus mengalir terhadap perusahaan ekuitas swasta MBK Partners. Isu mengenai tanggung jawab Ketua Kim Byung-ju, yang memimpin MBK Partners, juga semakin meluas. Meskipun Ketua Kim telah mengambil langkah untuk meredam opini publik dengan menjanjikan kontribusi dana pribadi, "kontroversi keuntungan sepihak" (eat-and-run) MBK tampaknya tidak akan mereda dengan mudah.

Karakter (Sosok)
Ketua Kim Byung-ju lahir di Gimhae, Gyeongnam pada 8 Oktober 1963. Pada usia 10 tahun, ia pindah ke Amerika Serikat untuk memulai pendidikan. Ia mengambil jurusan sastra Inggris di Haverford College, bekerja di Goldman Sachs selama 2 tahun pada 1986, lalu melanjutkan pendidikan MBA di Harvard Business School. Sebagai warga negara Amerika Serikat, ia memiliki nama Inggris Michael ByungJu Kim.
Selama menempuh pendidikan MBA, ia menikah dengan Park Kyung-ah, putri keempat dari mendiang Park Tae-joon, pendiri POSCO005490. Park sebelumnya pernah menikah dengan Jeon Jae-yong, putra kedua mantan Presiden Chun Doo-hwan, pada tahun 1987 namun bercerai pada 1990. Ketua Kim memiliki dua orang putra. Putra sulungnya, yang mendalami seni, sempat bekerja sebentar di Goldman Sachs namun kini dikabarkan memilih jalan sebagai pelukis. Putra keduanya belajar di University of Chicago, Amerika Serikat. Saat masih kecil, ia sempat menjadi sorotan karena aktif di tim bisbol cilik Korea.
Ketua Kim, yang merupakan lulusan sastra Inggris, memiliki minat besar pada literatur hingga pernah bercita-cita menjadi penulis naskah. Pada tahun 2020, ia menerbitkan novel otobiografi berjudul ‘Offerings’. Novel ini menceritakan kisah 'Dae-jun', seorang pria Korea-Amerika yang bekerja di bank investasi Wall Street, New York, meninggalkan keinginan ayahnya agar ia menjadi seorang akademisi. Diketahui bahwa Ketua Kim menulis novel ini selama lebih dari 20 tahun.
Ia hampir tidak pernah melakukan aktivitas eksternal hingga dijuluki sebagai "pebisnis yang tertutup". Karena sifatnya yang selektif dalam bertemu orang, ia sempat mendapat sindiran bahwa ia "berperilaku seperti konglomerat". Sejak kecil, ia sangat menyukai bisbol.
Karier
Ia memulai kehidupan profesionalnya di bank investasi Amerika, Goldman Sachs. Setelah bekerja di kantor pusat New York dan kantor cabang Hong Kong, ia pindah ke perusahaan investasi global Salomon Smith Barney. Pada tahun 1999, ia bergabung dengan firma ekuitas swasta global, Carlyle Group, dan bekerja sebagai kepala kantor perwakilan di Korea. Pada tahun 2000, ia memimpin akuisisi KorAm Bank dan menarik perhatian besar di pasar. Pada tahun 2005, ia mendirikan perusahaan ekuitas swasta MBK Partners. Nama MBK diambil dari nama Inggrisnya (Michael ByungJu Kim). Pada tahun 2007, ia mendirikan Yayasan Beasiswa MBK dan menjabat sebagai ketua.

Kapabilitas
Di pasar merger dan akuisisi (M&A), julukan Ketua Kim adalah "Tangan Midas". Selama 20 tahun sejak berdirinya MBK Partners, ia telah berhasil menyelesaikan M&A domestik besar seperti KorAm Capital, Coway, Doosan Machine Tools, Nepa, dan Lotte Card. Hasilnya, MBK Partners tumbuh menjadi perusahaan ekuitas swasta terbesar di Asia Timur, dan Ketua Kim menempati peringkat pertama dalam daftar 50 orang terkaya di Korea versi Forbes pada tahun 2023. Saat itu, kekayaan bersihnya diperkirakan sekitar 9,7 miliar dolar AS (sekitar 12,8 triliun won).
Ia juga konsisten menjalankan kegiatan beasiswa dan amal. Pada tahun 2007, ia menggunakan dana pribadi untuk mendirikan Yayasan Beasiswa MBK dan setiap tahun memberikan beasiswa kepada siswa dari keluarga kurang mampu. Pada tahun 2010, ia mendonasikan 20 juta dolar AS (sekitar 22,8 miliar won) ke Universitas Harvard. Ini adalah jumlah donasi terbesar dari seorang Asia dalam sejarah donor Universitas Harvard. Pada tahun 2021, ia memberikan 30 miliar won untuk pembangunan Perpustakaan Kim Byung-ju milik pemerintah kota di Seodaemun-gu, Seoul. Pada tahun 2022, ia menyumbang 10 juta dolar (sekitar 14,5 miliar won) ke Metropolitan Museum of Art di New York, dan pada tahun 2024, ia menyumbangkan 25 juta dolar (sekitar 36,2 miliar won) ke almamaternya, Haverford College, AS.

Kritik
Kritik tajam terus berlanjut terhadap metode manajemen MBK Partners yang disebut sebagai "pemburu perusahaan". Perusahaan ekuitas swasta mengakuisisi perusahaan yang dinilai rendah, meningkatkan nilainya, lalu menjualnya kembali untuk mendapatkan keuntungan. Dalam proses ini, MBK Partners dikritik karena mengabaikan penguatan daya saing perusahaan dan hanya mengejar keuntungan jangka pendek, yang dianggap "merusak perusahaan" dan merupakan "manajemen keuntungan sepihak".
Khususnya, opini publik terhadap MBK Partners dan Ketua Kim memburuk drastis setelah kasus Homeplus baru-baru ini. MBK Partners mengakuisisi Homeplus pada tahun 2015 dengan harga 7,2 triliun won, rekor harga tertinggi dalam sejarah M&A di Korea. Dalam prosesnya, terjadi utang yang berlebihan, dan penjualan aset untuk melunasi utang tersebut menurunkan daya saing perusahaan. Akhirnya, Homeplus sampai pada tahap harus menempuh prosedur rehabilitasi perusahaan. Sebanyak 100.000 karyawan (termasuk karyawan langsung dan subkontraktor) serta 8.000 mitra usaha kini terancam kelangsungan hidupnya, dan potensi kerugian bagi investor pun semakin besar. Di kalangan politik, muncul kecaman yang menyebut MBK Partners sebagai "perusahaan ekuitas swasta jahat".
Kontroversi semakin membesar karena MBK Partners tetap menjalankan kebijakan dividen tinggi bahkan saat perusahaan yang diakuisisi mengalami penurunan kinerja. Misalnya, pada Nepa yang diakuisisi pada tahun 2013, MBK Partners tetap menerapkan kebijakan dividen tinggi meski kinerjanya terus menurun, dan berhasil menarik total 83,3 miliar won sebagai dividen hingga tahun 2021.

Tantangan
Suara yang menuntut permintaan maaf yang tulus dari Ketua Kim atas kegagalan manajemen semakin meningkat. Namun, di tengah isu tanggung jawab MBK Partners yang mencuat, Ketua Kim tidak menampakkan diri di depan publik. Dalam konferensi pers yang diadakan di kantor pusat Homeplus di Gangseo-gu, Seoul, pada tanggal 14, hanya Wakil Ketua MBK Partners Kim Kwang-il dan Presiden Homeplus Cho Joo-yeon yang hadir. Bahkan saat Ketua Kim terpilih sebagai saksi dalam rapat dengar pendapat yang diadakan oleh Komite Urusan Pemerintahan Majelis Nasional pada tanggal 18, ia tidak hadir dengan alasan perjalanan bisnis ke luar negeri.
Baru-baru ini, seolah menyadari opini publik, Ketua Kim berjanji akan menggunakan dana pribadi untuk pembayaran kepada pemilik usaha kecil. Mengingat jarang sekali seorang kepala perusahaan ekuitas swasta memutuskan untuk mengeluarkan dana pribadi untuk perusahaan investasinya, industri menilai bahwa Ketua Kim mungkin merasa terancam oleh sentimen sosial yang memburuk dengan cepat. Namun, jumlah kontribusi spesifik belum diungkapkan. Di kalangan politik, terdapat tekanan agar Ketua Kim berkontribusi setidaknya 1,5 triliun won hingga maksimal 2 triliun won. Kita harus melihat apakah Ketua Kim mampu memulihkan situasi Homeplus dengan kontribusi dana pribadi tersebut dan apakah ia bisa meredam kritik tajam yang diarahkan kepada MBK Partners.