[비즈한국] Otoritas terkait mulai melakukan tekanan menyeluruh terhadap rencana pemulihan perusahaan (rehabilitasi korporasi) Homeplus. Kim Byung-ju, Ketua MBK Partners, berupaya meredam situasi pada tanggal 16 dengan mengumumkan rencana penyuntikan dana pribadi. Namun, keraguan tetap muncul apakah kontroversi ini akan mereda begitu saja, mengingat baik otoritas maupun kalangan politik memandang proses dan latar belakang pengajuan rehabilitasi Homeplus dengan sinis.

Otoritas Geram atas Pengajuan Rehabilitasi Perusahaan yang Tidak Bertanggung Jawab
Ketua MBK Partners, Kim Byung-ju, memicu kontroversi 'tabrak lari' (kabur setelah meraup untung) setelah mengajukan prosedur rehabilitasi perusahaan untuk Homeplus tanpa upaya penyelamatan diri yang berarti. Akhirnya, pada tanggal 16, Kim Byung-ju menyatakan akan mengeluarkan dana pribadi. MBK Partners, perusahaan pengelola dana ekuitas swasta (PEF) yang merupakan pemegang saham terbesar Homeplus, menyatakan dalam pernyataannya bahwa mereka "akan menjalankan tanggung jawab sosial terkait prosedur rehabilitasi Homeplus." Mereka menambahkan, "Sebagai bagian dari itu, Ketua Kim Byung-ju akan menyediakan dukungan finansial agar pembayaran kepada mitra usaha kecil dan menengah yang diperkirakan mengalami kesulitan dapat segera diselesaikan."
Di kalangan dunia bisnis, muncul penilaian bahwa langkah ini diambil setelah otoritas penegak hukum mulai mengarahkan pedang mereka ke arah MBK Partners. Pada tanggal 11 Maret, Layanan Pajak Nasional (NTS) memulai audit pajak terhadap MBK melalui Biro Investigasi ke-4 Kantor Pajak Regional Seoul, yang dijuluki sebagai 'pencabut nyawa dunia bisnis'. Meski pihak MBK menyatakan bahwa itu adalah "audit rutin yang dilakukan setiap 4-5 tahun", reaksi di dalam dan luar kantor pajak justru berbeda. Banyak yang beranggapan, 'jika itu Biro Investigasi 1 atau 2 mungkin wajar, namun Biro Investigasi ke-4 jauh dari kata audit rutin.' Interpretasi yang berkembang adalah bahwa Biro Investigasi ke-4 biasanya melakukan 'audit pajak khusus untuk mencari masalah' ketika terjadi kasus tertentu, sehingga hal ini dirasakan sebagai tekanan besar bagi MBK Partners.
Layanan Pengawas Keuangan (FSS) juga telah memulai pemeriksaan. Untuk menyelidiki kecurigaan terkait, pada tanggal 13 Maret, FSS memulai pemeriksaan terhadap Shinyoung Securities, Korea Ratings, dan Korea Investors Service. Dalam waktu dekat, FSS juga berencana melakukan pemeriksaan terhadap MBK Partners. Ini akan menjadi kasus pertama di mana sebuah perusahaan dana ekuitas swasta domestik menerima pemeriksaan FSS karena insiden tertentu.
Kalangan Politik Juga Turun Tangan, Mengarahkan ‘Tembakan’ ke Dana Ekuitas Swasta
Hingga akhir tahun 2023, peringkat jumlah dana yang dijanjikan (committed capital) dana ekuitas swasta domestik adalah Hahn & Company (13,6 triliun won) di peringkat pertama, MBK Partners (11,8 triliun won) di peringkat kedua, dan Stick Investment (6,4 triliun won) di peringkat ketiga.
Seiring dengan meningkatnya skala dana tersebut, jumlah perusahaan publik domestik yang pemegang saham terbesarnya adalah dana ekuitas swasta juga meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Menurut CEO Score, sebuah lembaga riset data perusahaan, per Agustus tahun lalu, dari 2.597 perusahaan publik domestik (termasuk KOSPI, KOSDAQ, KONEX), sebanyak 58 perusahaan memiliki dana ekuitas swasta sebagai pemegang saham terbesar. Angka ini melonjak 2,8 kali lipat dari 21 perusahaan pada tahun 2014. Perusahaan seperti Halla Holdings, Hanssem009240, Lotte Insurance000400, ConnectWave, Hana Tour039320, LocknLock115390, Namyang Dairy Products003920, dan SK Securities saat ini telah diakuisisi oleh dana ekuitas swasta seperti Hahn & Company dan MBK Partners.

Menanggapi hal ini, kalangan politik pun bergerak. Komite Urusan Politik Majelis Nasional menjadwalkan rapat dengar pendapat darurat mengenai situasi Homeplus pada 18 Maret dan menetapkan pihak-pihak terkait, termasuk Ketua MBK Kim Byung-ju dan Wakil Ketua Kim Kwang-il, sebagai saksi. Terdapat kesepahaman antara partai pemerintah dan oposisi bahwa pengajuan rehabilitasi Homeplus dan MBK Partners telah menunjukkan masalah yang dapat timbul jika pemilik (dana ekuitas swasta) hanya terobsesi dengan 'keuntungan' di tengah melonjaknya jumlah perusahaan publik yang dikuasai dana ekuitas swasta.
Seorang pejabat otoritas penegak hukum memprediksi dengan hati-hati, "Karena ini masih tahap awal kontroversi, belum bisa dipastikan bagaimana arahnya nanti. Namun, sangat jarang kasus yang melibatkan NTS dan FSS tidak berlanjut hingga ke kejaksaan," tambahnya, "Ini adalah pertama kalinya masalah muncul di perusahaan yang pemegang saham terbesarnya adalah dana ekuitas swasta, jadi apakah ini akan ditangani dengan interpretasi masalah 'pemilik' adalah hal yang patut dicermati."
Di sisi lain, muncul pula interpretasi bahwa 'status pemakzulan Presiden' bisa menjadi variabel. Seorang praktisi hukum yang paham mengenai FSS menjelaskan, "Dengan munculnya kemungkinan pemilihan presiden lebih awal, isu mengenai *lame duck* (bebek lumpuh) bagi Kepala FSS mulai muncul. Banyak yang memprediksi bahwa pendekatan terhadap kasus-kasus besar akan berubah tergantung pada siapa yang akan ditunjuk saat terjadi pergantian pemerintahan." Ia menambahkan, "Bagaimana MBK Partners dan Ketua Kim Byung-ju merespons berbagai variabel ini juga merupakan hal yang patut diperhatikan."