[비즈한국] Dalam program hiburan KBS ‘Gag Concert’, tema sekolah tidak pernah absen dari sketsa komedi. Secara khusus, ‘Bongsunga Hakdang’ telah bertahan layaknya burung phoenix. Program hiburan ‘Knowing Bros’ pun sudah lama menempati jajaran program berumur panjang dengan latar kelas sekolah. Dalam novel web atau webtoon, genre sekolah juga mendominasi dan memiliki proporsi terbanyak. Baru-baru ini, di layanan OTT, drama seperti ‘Study Group’, ‘Pyramid Game’ (Seon-ui-ui Gyeongjaeng), dan ‘Heartstain’ juga mendapatkan banyak perhatian.
Alasan banyaknya konten yang menggunakan sekolah sebagai subjek atau latar adalah karena universalitasnya. Hampir tidak ada orang yang tidak pernah melalui masa sekolah. Oleh karena itu, konten ini dapat membangun rasa simpati lintas generasi. Ini bukan sekadar terbatas di dalam negeri, melainkan dapat dikatakan sebagai bahan pengalaman budaya universal di seluruh dunia. Fenomena konsumsi konten terkait sekolah ini terjadi karena setiap orang memiliki pengalaman hidup di bangku sekolah.
Namun, apa latar belakang yang membuat drama sekolah Korea menjadi sangat populer secara global akhir-akhir ini? Untuk memahaminya, kita perlu melihat perbedaannya dengan drama bertema sekolah di masa lalu.

Salah satu drama seri berlatar sekolah yang paling representatif adalah seri ‘School’ dari KBS yang ditayangkan dari tahun 1999 hingga 2021. Seri ini menarik perhatian karena peran publiknya serta minat masyarakat, dan berfungsi sebagai pintu gerbang bagi aktor pendatang baru untuk melambung menjadi bintang. Namun, pada titik tertentu, perhatian pemirsa atau masyarakat menurun karena tidak bisa lepas dari batasan drama remaja. Terlebih lagi, karena drama tersebut disiarkan oleh KBS, lembaga penyiaran publik yang didanai biaya siaran, maka materi, cara penyampaian, dan batasannya tidak bisa tidak dibatasi. Menghilangnya seri ‘School’ dari pandangan publik melambangkan batasan drama saluran televisi terestrial. Tidak dapat dipungkiri bahwa OTT global-lah yang berhasil mendobrak batasan tersebut.
Dirilis pada Januari 2022 dan masuk dalam 10 besar di 91 negara, serial orisinal Netflix ‘All of Us Are Dead’ membuka era baru K-zombie dengan memadukan tema zombie dengan kekerasan di sekolah, kelas sosial, dan masalah hierarki. Selanjutnya, ‘The Glory’ yang dirilis pada Desember tahun yang sama, lebih berfokus pada kekerasan di sekolah dan menghadirkan drama pembalasan dendam yang intens, sehingga menempati posisi kedua secara global selama 2 minggu berturut-turut. Dampak drama ini begitu besar hingga isu kekerasan di sekolah menjadi perdebatan publik di berbagai negara di seluruh dunia.

Setelah itu, drama bertema sekolah mulai terdiferensiasi ke berbagai arah. Pada tahun 2023, ‘Boyhood’ yang mengusung genre aksi noir sekolah, memadukan kekerasan sekolah dengan dialek daerah dan elemen retro, sehingga mendapat perhatian besar berkat aksi dan komedinya. Pada tahun 2024, ‘Pyramid Game’ menggambarkan bagaimana kelas sosial dan hierarki yang ditunjukkan dalam ‘The Glory’ dapat mereproduksi dan memperluas kekerasan di sekolah dengan lebih licik, melalui metode permainan yang menyerupai labirin neraka. Dalam ‘High School Return of a Gangster’, terlihat pembalasan dendam yang penuh aksi terhadap kekerasan di sekolah, yang mengemas episode tentang seorang gangster yang merasuki tubuh siswa SMA yang lemah.
Pada tahun 2025, ‘Study Group’ melampaui sekadar pembalasan dendam pribadi, dengan menggambarkan perubahan positif pada guru dan siswa melalui kelompok belajar. Dalam ‘Pyramid Game’ (Seon-ui-ui Gyeongjaeng), melalui dua tokoh utama yang bersaing masuk fakultas kedokteran, drama ini membentuk kompetisi masuk universitas yang hierarkis di masyarakat Korea dari sudut pandang drama psikologis yang subtil. Kemudian dalam ‘Heartstain’, kode BL (Boys Love) akhirnya diterapkan untuk menghadirkan cinta segitiga antara guru dan siswa.

Terkadang, karena banyaknya konten yang penuh kekerasan dan provokatif, drama ini sering dikategorikan untuk penonton dewasa, namun K-drama sekolah membangun posisinya kembali karena menunjukkan realitas sekolah tanpa filter. Di sisi lain, ada kekhawatiran atau pandangan tidak nyaman bahwa hal ini dapat menanamkan kesalahpahaman dan prasangka tentang sekolah di Korea. Namun, kekhawatiran dan ketidaknyamanan seperti itu tidak perlu dirisaukan. Karena hal-hal tersebut tidak hanya ada di masyarakat Korea saja.
Konflik antarkelas atau polarisasi yang digambarkan dalam film ‘Parasite’ justru lebih parah terjadi di negara maju di Amerika Utara atau Eropa Barat. Orang-orang di dunia menonton ‘Parasite’ bukan hanya karena ketertarikan pada masyarakat Korea itu sendiri. Itu karena mereka dapat bersimpati dengan kisah kelas sosial melalui ‘Parasite’. Begitu pula penonton global yang melihat K-drama sekolah, mereka hanyalah terhanyut karena menganggapnya sebagai kisah mereka sendiri.
Di sisi lain, ada yang mengatakan bahwa drama sekolah justru mengasingkan para siswa. Dikatakan bahwa itu bukanlah kisah siswa, melainkan kisah orang dewasa. Itu benar. Namun, karena sekolah menuntut kehidupan berkelompok, sekolah juga merupakan tempat di mana kita bisa melihat hubungan antarmanusia, organisasi, dan fenomena sosial. Karena merupakan mikrokosmos dari dunia manusia, sekolah cocok untuk memproyeksikan masalah realitas yang kita hadapi.
Selama tidak mendistorsi sekolah secara berlebihan, K-drama sekolah akan terus berevolusi dan terdiferensiasi di masa depan. Mengungkap topik realitas secara gamblang sembari mencari harapan atau alternatif populer, itulah alasan mengapa konten Korea mendapatkan perhatian di lingkungan OTT global.
Penulis Kim Heon-sik telah menelusuri hutan fenomena budaya populer sejak usia 20-an dengan harapan bahwa ada cara untuk membuat dunia menjadi lebih baik melalui budaya. Di abad ke-21 di mana kecerdasan buatan dan komputer kuantum berperan, ia masih menempuh jalan yang sama dengan keyakinan yang sama.