[비즈한국] Setiap zaman pasti akan menemui momen perubahan. Ketika teknologi baru muncul dan mengguncang tatanan yang ada, orang-orang biasanya terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah mereka yang menolak perubahan, dan kelompok lainnya adalah mereka yang menjadikan perubahan sebagai peluang untuk beradaptasi dengan cepat. Secara historis, pihak yang selalu menang adalah kelompok yang kedua. Kim Jae-yeop, seorang profesor di Universitas Hongik, membahas kisah tentang 'orang-orang yang bergerak cepat' ini, yaitu 'Fast Mover', melalui buku dengan judul yang sama.
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) bukan lagi sekadar cerita masa depan. Kita sudah hidup berdampingan dengan AI. AI generatif seperti ChatGPT mampu menciptakan konten setingkat ahli dalam sekejap, dan mobil otonom sudah di ambang waktu untuk melampaui kemampuan mengemudi manusia. Lantas, kompetensi apa yang harus kita miliki di era ini? Bagaimana cara kita bertahan hidup di dunia di mana AI mengambil alih semakin banyak pekerjaan?

Penulis memberikan jawaban yang jelas atas pertanyaan ini. Ia menyatakan bahwa kita tidak boleh hanya mempelajari cara menggunakan AI, melainkan harus memiliki kemampuan untuk tumbuh bersama AI. Ia merangkum kemampuan tersebut ke dalam tiga kompetensi: 'Critical Thinking' (Berpikir Kritis), 'Elastic Mind' (Pikiran Elastis), dan 'Experimental Insight' (Wawasan Eksperimental).
'Critical Thinking' tidak sekadar berarti berpikir kritis. Ini adalah kemampuan untuk mempertanyakan hal-hal yang tampak lumrah serta mengeksplorasi perspektif baru di luar kerangka yang sudah ada. Di masa lalu, penting bagi seorang ahli untuk membangun pengetahuan yang mendalam di bidangnya. Namun, di era sekarang di mana AI dapat menggantikan peran tersebut secara signifikan, yang penting adalah 'bagaimana cara mendefinisikan masalah'. Penulis menekankan bahwa agar tetap bertahan sebagai seorang profesional, kita harus menumbuhkan kemampuan untuk terus bertanya dan memandang masalah dari berbagai sudut.
Kedua, 'Elastic Mind' berarti kemampuan untuk menerima perubahan dengan cepat dan beradaptasi secara fleksibel terhadap lingkungan baru. Di era di mana AI terus berkembang, siapa pun yang terpaku pada cara-cara lama pasti akan tertinggal. Semakin cepat laju perubahan zaman, semakin kita dituntut untuk mampu memecahkan masalah melalui pola pikir yang fleksibel daripada bersikeras pada metode konvensional. Penulis menunjuk hal ini sebagai karakteristik penting dari seorang 'Fast Mover' dan menegaskan bahwa orang yang sukses selalu beradaptasi dengan cepat sesuai dengan lingkungan.
Terakhir adalah 'Experimental Insight'. Kita sering berpikir bahwa kita membutuhkan 'rencana yang sempurna'. Namun, para 'Fast Mover' di era AI justru memiliki sikap untuk terus bereksperimen dan belajar dari kegagalan. Penulis mendefinisikannya sebagai 'Experimental Insight'. Pendekatan eksperimental seperti inilah yang menjadi kompetensi wajib di era AI; alih-alih membuat rencana sempurna, lebih penting untuk bertindak cepat, belajar dari kegagalan, dan menghasilkan hasil yang lebih baik.
Penulis menyampaikan tulisannya dengan meyakinkan berdasarkan berbagai contoh nyata yang ia alami selama bekerja di perusahaan IT terkemuka di dalam dan luar negeri, seperti Samsung, Microsoft, dan Naver035420.
Pada akhirnya, semua itu bermuara pada kesimpulan bahwa di era AI, kita harus menemukan apa yang hanya bisa dilakukan oleh manusia. Hanya mereka yang mencari cara untuk tumbuh bersama AI—bukan takut terhadapnya—yang akan bertahan. Seperti halnya Revolusi Industri yang menggantikan tenaga fisik manusia, revolusi AI dapat menjadi peluang untuk memperluas daya pikir dan kreativitas kita. Dengan kata lain, penulis menekankan bahwa kita tidak boleh hanya menjadikan AI sebagai alat, tetapi harus menggunakan AI untuk mendapatkan perspektif baru dan melampaui batasan yang ada.
Saat menutup halaman terakhir buku ini, dua pertanyaan muncul secara alami. Apakah saya sedang menolak perubahan, atau justru menemukan peluang di tengah perubahan? Apakah saya seorang 'Fast Mover', atau seorang 'Slow Follower'?
Buku ini bertanya kepada kita: Apakah Anda akan memilih 100% yang biasa-biasa saja, atau menciptakan 150% yang luar biasa?
Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita.