[비즈한국] Sejak para astronaut misi Apollo tahun 1960-an dan 70-an membawa pulang batu dan debu dari Bulan, tercatat hanya ada dua kasus di mana kita mendarat langsung di benda langit di luar angkasa dan membawa pulang materialnya. Keduanya adalah asteroid yang ukurannya jauh lebih kecil dari Bumi.
Salah satunya adalah asteroid Ryugu yang disasar oleh wahana antariksa Hayabusa milik Jepang, dan yang lainnya adalah asteroid Bennu yang dikunjungi oleh wahana antariksa OSIRIS-Rex milik NASA. Kedua misi tersebut dilakukan dengan cara yang serupa; sebenarnya, alih-alih mendarat, wahana tersebut hanya menyentuh permukaan asteroid sejenak lalu kembali. Saat melakukan sentuhan (touchdown), serpihan yang terpental dikumpulkan ke dalam kapsul dan dibawa kembali ke Bumi dengan selamat. Bisa dibilang, mereka melakukan teknik "tabrak-lari" pada asteroid.
OSIRIS-Rex menyentuh Bennu pada 20 Oktober 2020 untuk mengumpulkan sampel. Kemudian, pada 24 September 2023, kapsul berisi sampel tersebut berhasil menembus atmosfer Bumi dan mendarat dengan selamat. Total sampel Bennu yang dibawa pulang adalah 121,6 gram. Ini adalah jumlah sampel asteroid terbanyak yang pernah dibawa ke Bumi. Baru-baru ini, para astronom menemukan sesuatu yang luar biasa di dalam debu asteroid tersebut. Semua bahan pembangun DNA dan RNA yang menyusun makhluk hidup di Bumi telah ditemukan! Bukan itu saja, penemuan ini juga membuka kemungkinan bahwa Bennu mungkin merupakan pecahan dari planet yang jauh lebih besar—sebuah planet yang dulunya menampung kehidupan.
Sebelum mengirim wahana antariksa, para astronom sudah lama mengira bahwa Bennu hanyalah asteroid biasa. Pada meteorit yang jatuh ke Bumi, kita sering melihat bentuk mineral yang membeku menjadi bulat. Ini disebut 'kondrul', yang dalam bahasa Yunani berarti butiran. Meskipun asal-usul pastinya belum terungkap, diduga hal ini terbentuk saat mineral yang meleleh akibat sinar matahari yang kuat pada masa awal pembentukan tata surya, kemudian membeku kembali. Bentuk kondrul bulat seperti ini sering ditemukan di banyak asteroid dan meteorit.
Namun, situasi di Bennu yang dikonfirmasi oleh wahana antariksa ternyata di luar dugaan. Batuan di Bennu tidak menunjukkan kondrul dalam bentuk biasa. Bennu tampak mengalami sejarah kimia yang jauh lebih dinamis. Hanya ada satu hal yang bisa menjelaskan kondisi unik Bennu ini: air.
Air adalah bahan yang secara efektif mengubah sifat batuan dan mineral. Sampel Bennu menunjukkan jejak yang sangat jelas akibat air. Terdapat berbagai fosfat dan silikat, termasuk magnesium fosfat. Ini adalah komponen utama yang hanya bisa terbentuk jika ada air. Pada saat yang sama, karbon dan nitrogen yang merupakan bahan penting penyusun kehidupan juga ditemukan dalam jumlah yang sangat banyak. Bukti-bukti ini menunjukkan bahwa Bennu bukan sekadar bongkahan batu yang melayang di ruang angkasa, melainkan kemungkinan besar merupakan serpihan dari planet besar yang dulunya memiliki lautan.

Selain itu, dalam analisis kali ini, 14 dari total 20 jenis asam amino berhasil dideteksi. Asam amino yang tersambung panjang membentuk protein dalam tubuh makhluk hidup, sehingga penemuan begitu banyak asam amino di satu asteroid merupakan hasil yang sangat menarik. Terlebih lagi, molekul berbentuk cincin yang mengandung nitrogen, N-heterosiklik, ditemukan dalam jumlah yang sangat melimpah, dengan kepadatan sekitar 5nmol/g. Angka ini tampak kecil, namun jika dibandingkan dengan asteroid lain seperti Ryugu yang telah dianalisis sebelumnya, jumlah ini 5 hingga 10 kali lebih tinggi. Terutama, penemuan kelima basa nitrogen penyusun DNA dan RNA—adenin, guanin, sitosin, timin, dan urasil—sangatlah signifikan. Selain itu, berbagai molekul lain termasuk asam nikotinat juga terdeteksi.
Bennu tampaknya bukan sekadar bongkahan batu yang diselimuti debu karbon, melainkan pecahan dari sesuatu yang dulunya menyimpan berbagai bahan dasar kehidupan dan materi biologis.
Dalam sampel Bennu, ditemukan kristal kecil yang mengandung garam, yang mengisyaratkan bahwa Bennu dulunya adalah lingkungan yang menampung air laut asin atau danau garam. Komposisi yang terdeteksi di Bennu sangat mirip dengan danau garam yang ditemukan di Australia dan tempat lainnya di Bumi. Berdasarkan hal ini, para astronom mendukung hipotesis bahwa Bennu adalah serpihan yang terlepas dari planet induk yang dulunya memiliki danau garam yang sangat asin. Mengingat adanya kandungan air laut asin, Bennu mirip dengan bulan Saturnus, Enceladus, atau salah satu planet kerdil terbesar, Ceres. Mungkin saja, salah satu dari keduanya adalah rumah asal Bennu.
Bennu yang sekarang hanyalah asteroid kecil berdiameter 500 meter, tetapi diperkirakan asalnya adalah planet purba atau planet kerdil yang jauh lebih besar. Di permukaan atau di bawah permukaannya terdapat air laut dan danau yang kaya akan garam, dan mungkin dunia tersebut juga penuh dengan berbagai molekul organik dan basa nitrogen yang menjadi bahan dasar kehidupan. Kemudian, sekitar 2 hingga 0,7 miliar tahun yang lalu, planet tersebut kemungkinan bertabrakan hebat dengan benda langit lain yang seukuran, hingga akhirnya planet induk tersebut hancur berkeping-keping. Salah satu kepingan yang bertahan diyakini adalah Bennu yang sekarang. Beberapa astronom menduga bahwa asteroid Polana, yang saat ini mengorbit di antara Mars dan Jupiter serta memiliki resonansi 1:2 dengan Mars, mungkin terkait dengan planet induk Bennu.

Seandainya planet induk Bennu diberikan waktu yang cukup dan tidak mengalami tabrakan hebat lebih awal, mungkin kehidupan yang beragam seperti di Bumi sudah lahir di sana. Bumi juga telah mengalami banyak tabrakan besar dan kecil selama 4,5 miliar tahun terakhir, dan beberapa di antaranya cukup kuat untuk melenyapkan sebagian ekosistem, tetapi untungnya kita terhindar dari tabrakan yang cukup kuat untuk menghancurkan planet itu sendiri. Di sisi lain, Bennu mengalami tabrakan yang begitu dahsyat hingga menghancurkan planetnya, dan akhirnya ia hanya menjadi serpihan yang membawa kenangan indah sesaat, melayang di pinggiran tata surya.
Jika Bennu beruntung bisa terhindar dari tabrakan saat itu, sejarah tata surya mungkin akan benar-benar berbeda. Dua ekosistem yang berevolusi secara terpisah di dua planet berbeda, dan dua peradaban yang mungkin saling menemukan, berinteraksi, serta hidup sebagai spesies multi-planet sejak dini.
Penemuan berbagai materi kehidupan dalam sampel Bennu menunjukkan kemungkinan bahwa materi serupa bisa saja ditemukan dalam jumlah yang cukup di asteroid lain. Artinya, materi kehidupan mungkin tersebar luas dan melimpah di ruang tata surya. Kita juga bisa berharap bahwa di suatu tempat, mungkin masih ada bentuk kehidupan mikroba yang bertahan hidup meski dalam wujud yang sangat kecil.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya materi organik atau asam amino yang menjadi petunjuk asal usul kehidupan di Bumi ditemukan di benda langit kecil seperti asteroid atau komet. Melalui berbagai misi, sudah diketahui bahwa terdapat berbagai materi bahan dasar kehidupan yang membeku di luar Bumi. Contoh utamanya adalah misi Rosetta, yang pertama kali mencoba mendarat di komet dalam sejarah.
Saat itu, misi Rosetta mendarat di komet 67P yang berbentuk mirip bebek karet. Meskipun tidak berhasil mengonfirmasi asal usul air laut Bumi seperti yang diharapkan, misi tersebut mendeteksi asam amino glisin yang tidak terduga. Hal ini menunjukkan kemungkinan bahwa asal usul kehidupan di Bumi berasal dari luar Bumi. Sampel Bennu kali ini juga memperkuat kemungkinan bahwa kehidupan di Bumi tidak hanya berasal dari Bumi, tetapi dari ruang angkasa yang jauh.
Ini menyimpan kemungkinan yang lebih menarik lagi. Bahwa Bumi bukanlah satu-satunya panggung di tata surya purba di mana kelahiran dan evolusi kehidupan bisa terjadi. Ada kemungkinan hal ini sering terjadi di berbagai planet lain, bahkan di planet-planet purba yang telah hancur dan lenyap bersama kenangannya akibat tabrakan. Setidaknya di tata surya, bahan dasar kehidupan sangatlah umum, dan hingga kini masih umum. Jika Bennu saja memiliki kandungan materi kehidupan setinggi ini, tentunya asteroid lain juga menyimpan jejak serupa. Sisa-sisa kehidupan kuno lainnya mungkin masih melayang di pinggiran tata surya.
Mungkin melalui lebih banyak penjelajahan di masa depan, kita dapat menemukan kepingan-kepingan Bennu yang hilang satu per satu, dan menyusun kembali kenangan akan harta karun kehidupan lain yang hilang miliaran tahun lalu, layaknya menyusun kepingan keramik yang pecah.
Sambil menatap asteroid kecil bernama Bennu dan debu di dalam kapsul yang dibawa darinya, kita teringat akan planet raksasa lain yang telah lenyap miliaran tahun lalu. Sebuah planet yang mungkin menampung danau dan lautan, bahkan melahirkan kehidupan.
Referensi
https://www.nature.com/articles/s41550-024-02472-9
https://www.nature.com/articles/s41586-024-08495-6
Siapakah penulis Ji Woong-bae? Ia mencintai kucing dan alam semesta. Sejak kecil, ia bercita-cita untuk menyebarkan keindahan alam semesta setelah menonton 'Galaxy Express 999'. Saat ini, ia meneliti evolusi galaksi melalui interaksi galaksi di Pusat Penelitian Evolusi Galaksi dan Laboratorium Kosmologi Dekat di Universitas Yonsei. Ia aktif melakukan berbagai kegiatan komunikasi sains seperti memberikan ceramah dan menulis buku. Ia telah menulis buku seperti ‘Some-Taneun Cheonmundae’ (Observatorium Saling Suka), ‘Haru Jongil Uju Saenggak’ (Berpikir tentang Alam Semesta Sepanjang Hari), dan ‘Byeol, Bit-ui Gwahak’ (Bintang, Sains Cahaya).