[비즈한국] Parlemen Rumania telah menyetujui anggaran pertahanan tahun 2025 sebesar 8,4 miliar Euro (sekitar 12,64 triliun Won), yang setara dengan 2,24% dari PDB negara tersebut. Di tengah ancaman keamanan yang terus berlanjut akibat perang Rusia-Ukraina, Rumania menetapkan pengadaan peralatan militer utama seperti kendaraan lapis baja dan rudal pertahanan udara sebagai prioritas untuk memperkuat kemampuan pertahanannya. Sejalan dengan hal tersebut, senjata dari perusahaan pertahanan Korea Selatan kini muncul sebagai kandidat yang kuat.

Menurut media Rumania 'DIGI24' dan sumber lainnya, Parlemen Rumania meloloskan anggaran pertahanan ini untuk memenuhi persyaratan NATO dan Uni Eropa serta mendorong modernisasi militer. Rumania telah menetapkan anggaran pertahanan yang melebihi 2% dari PDB selama sembilan tahun berturut-turut, dengan 32,25% di antaranya dialokasikan untuk pengadaan senjata. Proyek pembelian pertahanan utama tahun ini mencakup sistem pertahanan udara jarak pendek dan sangat pendek, kendaraan tempur infanteri, senapan, dan sistem komando dan kendali (C4I).
Sejak 2017, Rumania telah mengalokasikan 2% dari PDB untuk anggaran pertahanan sesuai dengan komitmen investasi pertahanan. Selain itu, untuk merespons situasi keamanan akibat perang Rusia-Ukraina dan bersiap menghadapi potensi konflik dengan Rusia di masa depan, Rumania memutuskan untuk meningkatkan porsi anggaran pertahanan hingga 2,5% dari PDB mulai tahun 2023. Lebih dari 20% anggaran pertahanan dialokasikan untuk pengadaan peralatan militer utama serta penelitian dan pengembangan (R&D). Menteri Pertahanan Rumania, Angel Tîlvăr, menegaskan, "Anggaran pertahanan digunakan dengan mempertimbangkan situasi keamanan Rumania dan secara aktif diinvestasikan dalam proyek modernisasi peralatan militer." Selain itu, Menteri Tîlvăr menyebutkan sistem rudal pertahanan udara jarak pendek dan sangat pendek, kendaraan tempur infanteri, sistem komando dan kendali modern (C4I), kendaraan lapis baja, serta kapal fregat sebagai prioritas pengadaan peralatan militer tahun ini.
Hanwha Aerospace012450 berencana untuk menantang pasar kendaraan lapis baja Rumania. Pemerintah Rumania berencana menjalankan prosedur tender untuk pengadaan 300 unit kendaraan lapis baja pada paruh kedua tahun ini. Kompetitornya termasuk 'Lynx' dari Rheinmetall Jerman, 'CV90' dari BAE Systems Inggris, dan 'ASCOD' dari General Dynamics Amerika Serikat.
Hanwha Aerospace sebelumnya telah menandatangani kontrak pasokan howitzer K9 dengan Kementerian Pertahanan Rumania pada Juli tahun lalu. Jika kendaraan lapis baja Redback yang menggunakan sistem penggerak yang sama dengan K9 berpartisipasi dalam tender, maka diharapkan dapat memberikan efisiensi tinggi dari sisi pemeliharaan dan perbaikan. Di tingkat lokal, terdapat penilaian bahwa sinergi teknis diharapkan tercipta karena K9 dan Redback menggunakan mesin dan transmisi yang sama. Selain itu, kemampuan untuk melakukan produksi lokal juga dipandang sebagai keunggulan.
Hanwha Aerospace memutuskan agenda pembentukan entitas lokal di Rumania dalam rapat dewan direksi pada bulan Agustus tahun lalu dan berencana untuk mendirikan basis produksi. Meski lokasi tepatnya belum diungkapkan, proyek tersebut dilaporkan akan mulai dibangun awal tahun ini.
Senjata kendali darat-ke-udara 'Cheongung' milik LIG Nex1 juga berpeluang besar untuk diekspor ke Rumania. Dalam proyek sistem rudal pertahanan udara jarak pendek, LIG Nex1 diperkirakan akan ikut serta dengan 'Cheongung'. Kandidat pesaing utama meliputi 'Mistral 3' dari MBDA Inggris, produk patungan Kongsberg Norwegia dan Raytheon Amerika Serikat yakni 'NASAMS', serta 'IRIS-T SLS' dari Diehl Defence Jerman.
LIG Nex1 telah mengamankan posisi yang menguntungkan setelah menandatangani 'Memorandum of Understanding (MOU) bidang rudal pertahanan udara' dengan perusahaan pertahanan milik negara Rumania, ROMARM, pada bulan Februari lalu. Kedua pihak berencana untuk bersama-sama mendorong pengembangan dan produksi lokal rudal pertahanan udara. LIG Nex1 sebelumnya telah membuktikan kinerjanya dengan mengekspor senjata kendali darat-ke-udara portabel 'Chingung' ke Rumania pada tahun 2023.
Korea Selatan dan Rumania telah menandatangani MOU kerja sama pertahanan sebanyak dua kali, yakni pada tahun 1997 dan 2024, serta terus menjalin kemitraan strategis melalui penyelenggaraan berbagai pameran dan forum pertahanan.
Seorang narasumber industri menjelaskan, "Rumania memiliki kewajiban hukum terkait perjanjian imbal dagang (Offset Agreement) saat melakukan kontrak pertahanan. Terutama karena pemerintah Rumania menjadikan 'produksi lokal dan transfer teknologi' sebagai persyaratan penting, maka diperlukan strategi tender yang mempertimbangkan hal tersebut."