[비즈한국] Korea Selatan dan Taiwan, yang dianggap sebagai titik strategis bagi Amerika Serikat dan Tiongkok, berada dalam nasib yang serupa. Pemerintahan Trump periode kedua menuntut Taiwan untuk memikul beban biaya pertahanan hingga 10% dari PDB, sebuah krisis yang juga akan segera dihadapi oleh Korea Selatan. Hal yang sama juga berlaku untuk rencana pengenaan tarif pada semikonduktor. Melalui seri ‘Membaca Semenanjung Korea dari Taiwan’, BizHankook menemui tokoh-tokoh kunci di bidang politik, keamanan, dan ekonomi Taiwan untuk mendiagnosis situasi saat ini dan menganalisis dampaknya terhadap Korea.
Analisis muncul bahwa peluang dialog antara AS dan Tiongkok meningkat seiring dengan kembalinya Presiden Trump ke tampuk kekuasaan. Su Chi, ketua Taipei Forum Foundation yang juga merupakan pakar diplomasi dan keamanan terkemuka Taiwan serta pencetus ‘Konsensus 1992’, menilai bahwa “Karena Presiden Trump cenderung melihat hubungan AS-Tiongkok dari perspektif bisnis, pemilihan kembalinya dia berpotensi memperluas ruang negosiasi antara kedua negara.” Su Chi pernah menjabat sebagai anggota legislatif dari Partai Kuomintang (KMT) dari tahun 2005 hingga 2008, dan Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional (NSC) Taiwan dari tahun 2008 hingga 2010. Meskipun merupakan anggota KMT, ia dinilai sebagai sosok yang membangun kebijakan lintas selat yang bersifat non-partisan.

Dalam wawancara dengan BizHankook pada 10 Februari, Su Chi mengatakan bahwa kemungkinan Presiden Trump melakukan dialog langsung dengan Tiongkok dan Korea Utara semakin besar. Su Chi menganalisis, “Jika selama pemerintahan Biden kemungkinan dialog AS-Tiongkok hanya 10%, di periode kedua Trump angka tersebut diperkirakan meningkat hingga 30-40%. Trump memiliki kendali kuat atas Kongres AS. Mengingat karakter Presiden Trump, ada ruang besar baginya untuk berbicara langsung dengan Presiden Xi Jinping dan Ketua Kim Jong-un.”
Su Chi melihat kecenderungan Presiden Trump ini sebagai pertanda buruk bagi Taiwan. Ia mengatakan, “Hampir tidak ada catatan Trump melontarkan pernyataan ekstrem terhadap Tiongkok setelah terpilih. Dengan pola pikir bisnis, ia memandang Taiwan sebagai entitas yang tidak penting. Saat ini, para pejabat pemerintah Taiwan berada dalam kondisi yang sangat tegang.” Ia menambahkan bahwa situasi Korea Selatan pun tidak jauh berbeda.
Persepsi pemerintahan Trump terhadap Taiwan juga tercermin dalam tuntutan kenaikan kontribusi biaya pertahanan. Presiden Trump pernah menuntut Taiwan untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 10% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Tokoh politik Taiwan mengungkapkan bahwa staf Presiden Trump telah meminta kenaikan anggaran pertahanan ke level 5%. Saat ini, anggaran pertahanan Taiwan berada di level 2,4% dari PDB (sekitar 27 triliun won).
Su Chi menunjukkan, “Tahun ini anggaran pertahanan Taiwan adalah yang tertinggi sepanjang sejarah. Baik pemerintah maupun parlemen, serta opini publik Taiwan, sulit untuk menerima tuntutan kenaikan biaya pertahanan tersebut. Masalahnya, politik Taiwan saat ini terjebak dalam kondisi ‘perang saudara demokratis’. Meski Korea Selatan juga dalam situasi serius, di Taiwan pun pertarungan politik antara partai penguasa dan oposisi semakin tajam. Partai oposisi KMT menggunakan jalur politik untuk memecat kepala daerah, sementara partai penguasa Partai Progresif Demokratik (DPP) mencoba memecat anggota legislatif lawan.”
Saat ini, Presiden Taiwan dijabat oleh Lai Ching-te dari DPP, namun di Yuan Legislatif, KMT menguasai 52 kursi dan DPP 51 kursi, menciptakan situasi di mana oposisi lebih kuat daripada pemerintah (여소야대). Terkait tekanan ekonomi AS seperti pengenaan tarif semikonduktor, ia merasa pesimis dengan mengatakan, “Kita tidak punya pilihan selain mengikuti apa yang diminta Amerika.”
Su Chi adalah politisi yang pertama kali mencetuskan ‘Konsensus 1992’. Konsensus 1992 adalah pemahaman bersama yang disepakati oleh Tiongkok dan Taiwan pada tahun 1992. Konsep ini mengakui ‘Satu Tiongkok’ antara kedua sisi selat, namun masing-masing memiliki interpretasi sendiri. Berdasarkan pemahaman ini, Tiongkok dan Taiwan telah menjalin pertukaran dan menandatangani ‘Perjanjian Kerangka Kerja Kerjasama Ekonomi Lintas Selat (ECFA)’.
Namun, saat ini ‘Konsensus 1992’ pada dasarnya telah kehilangan fungsinya. Tidak hanya partai penguasa DPP, bahkan KMT pun kini menyangkal konsep tersebut. Su Chi mengatakan, “Dalam situasi sekarang, dialog lintas selat mustahil dilakukan. Sebenarnya, yang lebih penting daripada nama Konsensus 1992 adalah ‘saling percaya’. Ini adalah konsep yang dipertahankan berdasarkan kepercayaan, tetapi sekarang kepercayaan itu telah runtuh. Pertukaran sipil antar kedua belah pihak pun berkurang. Bahkan di KMT, tidak ada lagi yang membicarakannya. Justru pihak Tiongkok lah yang sekarang sering mengungkit Konsensus 1992.”
Su Chi menyarankan bahwa dalam situasi saat ini, menjaga hubungan dengan AS dan Tiongkok adalah hal yang penting. Ia mengatakan, “Persamaan antara Taiwan dan Korea Selatan adalah kebutuhan untuk menjaga hubungan dengan AS sekaligus Tiongkok. Oleh karena itu, komunikasi dengan AS dan Tiongkok sangatlah krusial. Untuk meredakan konflik politik domestik, saya pernah menggunakan strategi berkomunikasi dengan faksi moderat konservatif maupun moderat progresif. Komunikasi antarpartai di dalam negeri dan menjaga hubungan multilateral di luar negeri adalah kunci. Kita harus mendorong dialog pragmatis melalui rasa saling percaya.”