[비즈한국] Persaingan ketebalan bodi di pasar smartphone tahun 2025 semakin sengit. Samsung Electronics005930 memperkenalkan Galaxy S25 Edge dengan ketebalan bodi 6,4 mm bersamaan dengan pengumuman seri Galaxy S25 di acara Galaxy Unpacked 2025. Model yang sebelumnya dikenal sebagai "Galaxy S25 Slim" ini menarik perhatian karena berhasil mewujudkan ketebalan paling tipis di antara seri Galaxy S lainnya. Produk ini dijadwalkan akan dirilis pada bulan April mendatang.
Kabar juga menyebutkan bahwa Apple akan segera bergabung dalam persaingan ketebalan bodi melalui iPhone 17 Air pada semester kedua tahun ini. Industri memperkirakan model ini akan dirilis dengan ketebalan sekitar 5,5~6,25 mm, menjadikannya kandidat kuat sebagai smartphone tertipis yang pernah ada.

Dengan munculnya smartphone ultra-ramping ini, perhatian tertuju pada bagaimana produsen berhasil mengurangi ketebalan perangkat mereka. Secara khusus, kemampuan desain perangkat yang lebih tipis dalam mengatasi batasan tradisional seperti pembuangan panas, kapasitas baterai, dan konfigurasi internal menjadi poin penting. Desain ultra-ramping smartphone ini tidak hanya sekadar perubahan eksternal. Produsen harus mengatasi batasan yang ada dalam desain komponen inti seperti kamera, baterai, dan layar, dan inovasi teknis yang memungkinkan hal tersebut kini tengah memimpin industri smartphone.
Kamera : Metalens, ALoP
Kamera smartphone telah lama dianggap sebagai penyebab utama bertambahnya ketebalan perangkat, meski di sisi lain menawarkan kualitas gambar tinggi dan berbagai fitur. Oleh karena itu, produsen mencari terobosan dengan mengadopsi teknologi baru untuk memperkecil ukuran modul dan memaksimalkan efisiensi.

Teknologi Metalens yang telah diprediksi akan diadopsi sejak beberapa tahun lalu adalah salah satunya. Metalens adalah teknologi yang mengganti lensa berlapis tradisional menjadi lensa planar tunggal, di mana struktur nano digunakan untuk mengendalikan refraksi dan refleksi cahaya. Hal ini memungkinkan pengurangan jumlah lensa dan dikabarkan dapat secara signifikan mengurangi ketebalan modul kamera smartphone. Apple dikabarkan sedang mempertimbangkan penerapan teknologi ini pada iPhone 17 Air. Terutama, Metalens menawarkan potensi untuk memperkecil ukuran notch dan modul kamera sekaligus, sehingga memberikan keunggulan baik dalam desain maupun fungsi.

Samsung telah melampaui batasan desain kamera telefoto melalui teknologi ALoP (Advanced Lens on Prism). Lensa telefoto konvensional membutuhkan modul yang tebal karena ukuran dan pengaturannya. Namun, ALoP menempatkan lensa secara horizontal dan menggunakan prisma untuk membiaskan cahaya, sehingga mengurangi tinggi modul dan memungkinkan penggunaan lensa yang lebih terang. Teknologi ALoP menghasilkan gambar dengan noise rendah terutama saat pemotretan malam hari dan berkontribusi pada peningkatan desain eksterior. Seri Galaxy S25 dari Samsung merupakan contoh utama yang mengadopsi teknologi ini untuk menyeimbangkan ketebalan dan kinerja.
Baterai: Teknologi Pelepasan Perekat Induksi Listrik
Mempertahankan kapasitas baterai atau meningkatkan kinerja pada smartphone tipis bukanlah tugas yang mudah. Di tengah tantangan ini, 'Teknologi Pelepasan Perekat Induksi Listrik' yang baru saja diadopsi Apple telah membuka kemungkinan baru dalam desain baterai. Teknologi ini dirancang agar permukaan yang direkatkan dapat dipisahkan melalui sinyal listrik. Ketika sinyal listrik diberikan, struktur kimia perekat berubah dan ikatan antara baterai dan perangkat menjadi lemah. Hal ini memungkinkan baterai diganti atau diperbaiki dengan mudah.

Karena tidak menggunakan perekat fisik yang tebal, desain ini memungkinkan bodi perangkat menjadi tipis dan memaksimalkan pemanfaatan ruang internal, serta tidak memerlukan komponen tambahan seperti braket di dalam smartphone. Selain itu, pengguna dapat dengan mudah mengganti baterai, yang meningkatkan kemampuan perbaikan dan memperpanjang masa pakai perangkat. Hal ini juga dinilai positif dari sisi keberlanjutan karena sejalan dengan desain yang ramah lingkungan.
Layar: OLED TDDI
Layar merupakan salah satu komponen yang memakan volume terbesar pada smartphone. Inovasi layar terbaru dilakukan dengan tujuan menyederhanakan struktur sambil tetap mempertahankan performa. Salah satu teknologi yang paling menarik perhatian adalah OLED TDDI (Touch and Display Driver Integration). Teknologi TDDI menyederhanakan struktur dengan mengintegrasikan sensor sentuh dan penggerak layar (display driver) ke dalam satu chip tunggal. Dengan menyematkan sensor sentuh langsung ke substrat kaca layar, ketebalan layar dapat dikurangi dan rasio layar ke bodi meningkat.

Apple diperkirakan akan menerapkan teknologi ini pada iPhone 17 Air, yang memungkinkan perwujudan layar tipis bersama dengan pengurangan ukuran bezel. Teknologi TDDI kemungkinan besar akan digunakan pada perangkat lain seperti iPad dan Apple Watch, bukan hanya iPhone. Oleh karena itu, teknologi ini dipandang sebagai inovasi yang akan membawa perubahan revolusioner pada desain layar di seluruh pasar. Samsung juga tengah memacu komersialisasi OLED TDDI tahun ini, dan kemungkinan besar akan disematkan pada Galaxy S25 Edge.
Teknologi-teknologi inovatif ini dinilai sebagai kunci yang memungkinkan pengurangan ketebalan smartphone. Namun, banyak pihak juga menunjukkan bahwa ketebalan yang berkurang tidak selalu membawa dampak positif. Para ahli mengatakan bahwa solusi untuk masalah baru seperti penurunan kapasitas baterai, masalah pembuangan panas, dan peningkatan biaya perbaikan juga harus dicari bersamaan. Meski demikian, para ahli sepakat bahwa tren perampingan ini akan terus berlanjut karena konsumen yang lelah dengan tren smartphone berukuran besar selama beberapa tahun terakhir kini menginginkan smartphone yang lebih tipis dan mudah dibawa.