주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Seri Startup Eropa
Kekuatan dan Kelemahan Ekosistem Startup Eropa Dilihat dari ‘Laporan Draghi’

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Ekonomi Eropa saat ini menghadapi tantangan yang sangat serius. Jerman, yang dulunya memimpin ekonomi Eropa dan dijuluki sebagai ‘lokomotif Eropa’, kini kehilangan status tersebut hingga mendapat stigma sebagai ‘orang sakit Eropa’ akibat kesulitan ekonomi yang dihadapi. Lebih buruk lagi, situasi politik di kawasan ini pun tidak stabil. AfD (Alternative for Germany), partai yang dikategorikan sebagai sayap kanan ekstrem hingga disamakan dengan partai Nazi, kini meraih kursi yang signifikan dalam pemilihan parlemen negara bagian di Jerman setelah sebelumnya sukses di pemilihan Parlemen Eropa 2024, sehingga menciptakan kecemasan politik yang terus meningkat. Belum lama ini, dukungan terbuka dari Elon Musk terhadap partai tersebut menambah kekhawatiran dampaknya terhadap pemilu dini yang akan diselenggarakan pada bulan Februari, menciptakan situasi yang penuh gejolak di dalam maupun luar negeri.

Saat ini, PDB gabungan Uni Eropa (EU) berada di angka sekitar 19,4 triliun dolar AS (2.800 kuadriliun won), jauh tertinggal dari Amerika Serikat yang mencapai 27,36 triliun dolar AS (3.960 kuadriliun won). Jika mempertimbangkan bahwa pada tahun 2008 kedua pihak berada pada level yang hampir setara, kesenjangan dalam 16 tahun terakhir ini secara jelas memperlihatkan stagnasi ekonomi Eropa.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (kanan) menerima laporan akhir tentang ‘Masa Depan Daya Saing EU’ dari mantan Presiden ECB Mario Draghi di Brussels, Belgia, pada 9 September 2024. Foto=Situs Web Komisi Eropa
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen (kanan) menerima laporan akhir tentang ‘Masa Depan Daya Saing EU’ dari mantan Presiden ECB Mario Draghi di Brussels, Belgia, pada 9 September 2024. Foto=Situs Web Komisi Eropa

Ekosistem Startup Eropa Dibandingkan dengan Silicon Valley

Saat berbicara tentang teknologi, kewirausahaan, dan ekosistem startup, Silicon Valley tidak mungkin terlewatkan. Garasi sederhana tempat Hewlett dan Packard memulai bisnis pada tahun 1939 kini ditetapkan sebagai situs bersejarah California sekaligus tempat lahirnya Silicon Valley. Pendiri yang putus kuliah, pengembangan di garasi, dan kolaborasi industri-akademisi yang aktif dengan universitas seperti Stanford telah menjadi simbol Silicon Valley. Mengingat Silicon Valley sudah memasuki masa pertumbuhan sejak tahun 1950-an dan memiliki infrastruktur kesuksesan serta kegagalan selama puluhan tahun, mungkin tidak adil jika membandingkannya secara langsung dengan ekosistem startup Eropa.

Namun, sudah lama Eropa merenungkan bagaimana mereka dapat menyaingi Amerika Serikat dan menciptakan keunggulan unik khas Eropa. Stagnasi ekonomi Eropa baru-baru ini menjadi momentum untuk mempertimbangkan kembali apakah langkah yang diambil selama ini sudah berada di jalur yang benar.

Pada 9 September 2024, mantan Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Mario Draghi dalam ‘Laporan Daya Saing EU’ menunjukkan masalah-masalah utama yang dihadapi ekonomi Eropa sebagai berikut:

Pertama, ia menekankan adanya ‘kesenjangan inovasi’. Eropa tertinggal dari Amerika Serikat dan Tiongkok dalam inovasi teknologi, yang dapat menyebabkan melemahnya daya saing di sektor digital dan teknologi bersih. Selain itu, biaya energi yang tinggi menurunkan daya saing perusahaan Eropa, terutama jika transisi ke energi bersih tertunda, maka masalah akan semakin parah.

Kedua, Eropa memiliki ketergantungan yang tinggi pada negara luar dalam sektor industri inti seperti semikonduktor, sehingga rantai pasokannya rentan dan dapat mengancam keamanan ekonomi. Ketiga, laju pertumbuhan produktivitas Eropa stagnan, yang berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan standar hidup. Keempat, penuaan penduduk dan penurunan populasi dapat menyebabkan kekurangan tenaga kerja dan perlambatan ekonomi. Kelima, regulasi yang rumit dan birokrasi menghambat aktivitas bisnis, terutama pertumbuhan startup dan perusahaan inovatif. Keenam, Eropa belum mencapai otonomi dalam kebijakan pertahanan dan luar negeri, yang dapat menyebabkan hilangnya pengaruh di panggung global.

Laporan Draghi mengusulkan investasi tambahan sebesar 750 miliar hingga 800 miliar euro (1.121 triliun hingga 1.195 triliun won) per tahun untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Laporan ini menekankan bahwa Eropa harus merestrukturisasi ekonomi dan memperkuat daya saingnya. Jika tidak ada investasi tambahan, Draghi memperingatkan bahwa Eropa tidak akan mampu mempertahankan pengembangan teknologi baru, tanggung jawab iklim, dan kemandirian global.

Laporan Draghi akan diintegrasikan ke dalam proses pembuatan kebijakan Komisi Eropa di bawah kepemimpinan 'Von der Leyen periode kedua' yang dimulai sejak November lalu. Oleh karena itu, berbagai perdebatan terjadi di berbagai lapisan masyarakat Eropa mengenai isi laporan tersebut. Bagian mengenai pengurangan beban regulasi bisnis mendapat sambutan positif, namun ada juga reaksi yang bertolak belakang. Konfederasi Serikat Pekerja Eropa (ETUC) mengkritik laporan Draghi dengan menekankan perlunya lingkungan regulasi yang melindungi hak-hak pekerja dan serikat buruh. Sementara itu, Biro Lingkungan Hidup Eropa (EEB) juga mengkritik bahwa kesepakatan untuk industri bersih melalui cara deregulasi adalah analisis yang mengabaikan krisis ekologis dan ketimpangan sosial di Eropa.

Pendiri Startup Eropa: "Kapan Kita Akan Menjadi Seperti Amerika?"

Berbagai pendapat juga muncul dari ekosistem startup Eropa. Ada banyak suara yang bertanya, "Mengapa Eropa tidak bisa menjadi seperti Amerika Serikat?". Di LinkedIn, debat mengenai alasan mengapa ekosistem startup Eropa tidak dapat tumbuh masih berlangsung aktif.

Alasannya dapat diringkas menjadi tiga poin. Pertama, Amerika Serikat mendorong inovasi melalui pasar tunggal yang berskala besar, sementara Eropa terhambat oleh struktur pasar yang terfragmentasi antar negara, sehingga memaksa wirausahawan menghadapi beban regulasi di tiap-tiap negara. Kedua, Eropa sangat bergantung secara teknologi pada Amerika Serikat dan gagal membangun ekonomi digital yang mandiri. Ketiga, saat ini tidak ada perusahaan teknologi bernilai 1 triliun dolar AS (1.451 triliun won) di Eropa. Meskipun ada perusahaan teknologi sukses seperti Spotify dan SAP, tidak ada satu pun yang mencapai nilai 1 triliun dolar AS atau lebih seperti yang dicapai oleh Apple, Microsoft, Amazon, dan Google di Amerika Serikat. Skype, yang sempat dianggap berpotensi menjadi perusahaan triliun dolar asal Eropa, diakuisisi oleh Microsoft dan akhirnya menjadi pencapaian milik Amerika. Hal ini mengungkap batasan kemampuan penggalangan dana ekosistem Eropa untuk startup tahap akhir.

Pada tahun 2023, jumlah modal ventura (VC) yang diinvestasikan ke startup Eropa adalah 52 miliar dolar AS (74 triliun won). Jumlah investasi startup di Amerika Serikat mencapai tiga kali lipat dari angka tersebut. Situasi ini terus berlanjut di tahun 2024. Akibat inflasi yang terus berlanjut dan kenaikan suku bunga, total dana yang tersedia menurun, membuat investor Eropa cenderung sangat berhati-hati. Dana pensiun Eropa, yang mengelola aset sekitar 9 triliun dolar AS (1.292 kuadriliun won), hanya mengalokasikan sekitar 0,01% ke sektor VC. Karena peluang pendanaan terbatas di Eropa, investasi untuk startup tahap akhir yang membutuhkan modal besar tidak berjalan aktif. Itulah sebabnya startup ternama yang membutuhkan modal besar, seperti Wayve (startup otonom di London), Mistral AI (Paris), dan DeepL (Cologne), semuanya lebih memprioritaskan kontak dengan investor Amerika. Lingkungan yang sulit untuk tumbuh menjadi perusahaan teknologi besar (big tech) di Eropa ini menjadi penghambat bagi terbentuknya struktur yang saling menguntungkan (virtuous cycle), di mana perusahaan big tech Eropa dapat mengakuisisi startup-startup Eropa.

Ole Lehmann, seorang pendiri asal Jerman yang menjalankan AI Solopreneur, sangat mengkritik ekosistem startup Eropa.

Pendiri AI Solopreneur, Ole Lehmann. Foto=X Ole Lehmann
Pendiri AI Solopreneur, Ole Lehmann. Foto=X Ole Lehmann

Ia menyatakan bahwa pada tahun 2008 PDB Amerika Serikat dan Eropa berada pada level yang serupa, namun kini kesenjangannya semakin lebar. Ia berpendapat, "Ini adalah hasil dari pilihan Eropa yang lebih mengutamakan keamanan daripada pertumbuhan, dan regulasi daripada inovasi." Menurut analisisnya, talenta Eropa umumnya menempuh dua jalan: pergi ke Amerika Serikat untuk mendapatkan gaji yang lebih tinggi (rata-rata gaji tahunan di sektor teknologi di atas 250.000 dolar AS) atau pindah ke Asia Tenggara atau Eropa Timur yang memiliki biaya operasional lebih rendah untuk mendirikan perusahaan. Akibatnya, banyak talenta yang meninggalkan Eropa.

Masalah terbesarnya adalah birokrasi Eropa. Hukum ketenagakerjaan membuat proses rekrutmen maupun PHK menjadi sulit, dan tarif pajak sangat tinggi sehingga sulit ditanggung oleh usaha kecil dan menengah. Bahkan Spotify, yang dianggap sebagai kisah sukses teknologi Eropa, memindahkan kantor pusatnya ke New York untuk melantai di bursa saham New York. ARM diakuisisi oleh Nvidia, dan Klarna juga tengah bersiap untuk melantai di bursa saham Amerika.

Ia mengkritik, "Eropa hebat dalam melestarikan masa lalu, tapi seperti museum yang payah dalam menciptakan masa depan." Ole sendiri meninggalkan Jerman dan membangun bisnisnya di Siprus.

Ada Hal yang Hanya Bisa Dilakukan di Eropa

Ada pula pandangan yang berbeda. Nick Mulder, pendiri startup fintech Hypofriend di Berlin, menekankan bahwa Eropa bukan tempat yang hanya memiliki kekurangan.

Pendiri Hypofriend, Nick Mulder. Foto=X Nick Mulder
Pendiri Hypofriend, Nick Mulder. Foto=X Nick Mulder

Mulder berpendapat bahwa bagi pendiri startup dan orang-orang yang bekerja di ekosistem startup, Eropa jauh lebih menarik daripada Amerika Serikat untuk mempertahankan kehidupan yang berkelanjutan, bukan hanya pekerjaan, dan akan tetap demikian di masa depan. Ia mengatakan bahwa mereka yang berkata 'Eropa hancur (Europe sucks)' dalam ekosistem startup seringkali hanya membayangkan pendiri atau pekerja startup sebagai 'pria muda, di bidang teknologi, lajang, dan tanpa anak'. Bagi pendiri yang sedikit lebih tua dan memiliki keluarga, Eropa tetap menjadi tempat yang menarik.

Eropa menawarkan layanan kesehatan berkualitas tinggi dengan biaya yang jauh lebih murah daripada Amerika Serikat, serta menjalankan sistem ramah keluarga seperti cuti melahirkan, cuti pengasuhan anak, pendidikan gratis, dan cuti berbayar. Biaya hidup di Berlin, Jerman, 78% lebih rendah dibandingkan San Francisco, terutama terlihat perbedaan besar pada biaya perumahan dan pendidikan.

Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa saat melihat Eropa, Eropa Timur tidak boleh dikesampingkan. Pihak yang membicarakan keruntuhan Eropa biasanya merujuk pada Eropa Barat seperti Inggris, Prancis, dan Jerman, padahal baru-baru ini Eropa Timur, khususnya Polandia, menarik perhatian sebagai motor pertumbuhan baru Eropa.

Polandia, yang lepas dari sistem komunis pada tahun 1989, saat ini memiliki ekonomi yang tumbuh paling cepat di Eropa. Dengan basis pajak rendah, regulasi yang disederhanakan, dan etos kerja yang tinggi, Polandia muncul sebagai pusat investasi baru bagi Silicon Valley. Microsoft telah berinvestasi sebesar 1 miliar dolar AS, Google mendirikan pusat R&D utama, dan Intel berencana membangun pusat semikonduktor baru. Perusahaan global melakukan investasi besar-besaran, menjadikan Polandia membangun ekosistem inovasi yang unik di Eropa. Secara khusus, ada klaim bahwa Polandia adalah 'raksasa yang sedang tidur' yang memiliki keunggulan dari negara-negara Asia Timur yang berkembang pesat seperti Korea Selatan dan Singapura, dan akan menjadi masa depan Eropa.

Perusahaan Korea Perlu Mempertimbangkan dengan Matang Saat Ekspansi Luar Negeri

Situasi ekonomi dan politik Eropa ini memberikan poin penting bagi strategi ekspansi global perusahaan Korea. Amerika Serikat menawarkan inovasi dan potensi pertumbuhan yang tinggi, namun dalam hal deregulasi dan tanah peluang, pasar seperti Eropa Timur, khususnya Polandia, layak untuk diperhatikan. Di sisi lain, jaminan sosial dan stabilitas Eropa menarik bagi perusahaan yang mempertimbangkan investasi jangka panjang dan pemukiman berbasis keluarga.

Saat ditanya alasan melakukan ekspansi global, cukup banyak pendiri Korea yang menjawab secara samar karena 'semua orang pergi ke Amerika' atau 'karena Eropa sudah disukai sejak dulu'. Ketika mendengar jawaban itu, penderitaan dan rintangan yang akan mereka hadapi justru terlihat lebih dulu.

Kesimpulannya, diskusi mengenai apakah Eropa harus berubah menjadi seperti Amerika bukan sekadar masalah pilihan antara dua hal. Perlu dipertimbangkan secara akurat seberapa terbuka pasar tergantung pada bidang bisnis, bagaimana mempersiapkan sertifikasi dan regulasi terkait, serta berapa banyak waktu dan biaya yang harus dikeluarkan di awal untuk mendirikan perusahaan dan memantapkan diri bagi pendiri atau penanggung jawab.

Penulis Lee Eun-seo mengambil jurusan hukum di Korea dan belajar teater di Berlin. Ia berbasis di Berlin, kota seni sekaligus pusat startup Eropa, dan memimpin 123factory yang menjembatani ekosistem startup Korea dan Jerman sembari bertumbuh bersama kota tersebut.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
이은서 칼럼니스트
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지