주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Anggaran 'Sistem Terpadu Anti-Drone Wilayah Perbatasan' Dipotong Tajam, Bagaimana dengan Respons terhadap Drone Korea Utara?

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Anggaran pertahanan dan industri pertahanan terpangkas menyusul disahkannya "Rancangan Anggaran Pengurangan" yang dipimpin partai oposisi di rapat pleno Majelis Nasional pada tanggal 10 lalu, sehingga menghambat pelaksanaan proyek-proyek utama industri pertahanan tahun depan. Di tengah situasi pemakzulan, kekosongan posisi Menteri Pertahanan dan penundaan rotasi personel rutin membuat pengembangan sistem senjata yang mendesak, seperti sistem terpadu anti-drone, diperkirakan akan mengalami kendala.

Sistem anti-drone portabel dan drone buatan Hanwha Systems. Foto=Reporter Jeon Hyun-geon
Sistem anti-drone portabel dan drone buatan Hanwha Systems272210. Foto=Reporter Jeon Hyun-geon

Rancangan anggaran tahun depan disahkan dalam rapat pleno Majelis Nasional pada tanggal 10. Majelis Nasional mengesahkan rancangan anggaran tahun depan dengan 183 suara setuju, 94 suara tidak setuju, dan 1 abstain dari 278 anggota yang hadir. Karena Presiden tidak dapat menggunakan hak veto atas rancangan anggaran, maka anggaran tersebut dinyatakan sah setelah disetujui oleh Majelis Nasional.

Secara khusus, anggaran pertahanan seperti biaya personel militer dan respons terhadap drone dipotong sebesar 340,9 miliar won dari usulan pemerintah. Proporsi pengurangan anggaran pertahanan mencapai 8,3% dari total anggaran. Dari anggaran Administrasi Program Akuisisi Pertahanan (DAPA), anggaran sebesar 570 juta won dipotong dari total 71,2 miliar won yang dialokasikan untuk "Block-I", yakni senjata laser antipesawat untuk menembak jatuh drone kecil. Anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) untuk peluru kendali presisi 155mm, yang digunakan untuk menyerang titik asal provokasi musuh secara akurat, dipotong sebesar 6,5 miliar won dari total 7,7 miliar won. Selain itu, anggaran untuk jaringan terintegrasi pita lebar pertahanan, pemeliharaan amunisi, dan rudal antipesawat jarak jauh juga dikurangi.

Terutama, anggaran untuk "Sistem Terpadu Anti-Drone Wilayah Perbatasan" guna merespons ancaman drone Korea Utara dipotong sebesar 9,954 miliar won dari total 10 miliar won, yang berarti anggarannya hampir habis seluruhnya. Meskipun pembangunan "Sistem Terpadu Anti-Drone Wilayah Penting" yang berkaitan dengan wilayah belakang tetap berjalan normal, "Sistem Terpadu Anti-Drone Wilayah Perbatasan" yang berfokus pada area pos penjagaan umum (GOP) tidak dapat dimulai tahun depan karena pemotongan anggaran tersebut.

Proyek sistem terpadu anti-drone wilayah perbatasan yang didorong oleh DAPA adalah proyek untuk membangun sistem deteksi dan perlindungan drone di area perbatasan yang berhadapan langsung dengan Korea Utara. Proyek ini diharapkan dapat melengkapi kemampuan pertahanan terhadap pesawat nirawak di wilayah depan dan wilayah penting, serta secara langsung menargetkan drone atau balon sampah menggunakan metode *hard-kill*. Namun, dengan adanya kendala pada proyek anti-drone wilayah perbatasan ini, diprediksi kerugian militer yang berkaitan dengan infiltrasi drone akan meningkat di masa depan.

Selain itu, perusahaan yang diperkirakan akan berpartisipasi dalam proyek tersebut seperti Hanwha Systems, LIG Nex1079550, Hyundai Wia011210, dan Toris Square diperkirakan harus bersiap hingga penyusunan anggaran berikutnya. Tahun lalu, Hanwha Systems memenangkan proyek "Sistem Terpadu Anti-Drone Wilayah Penting". Mereka bahkan rela mengorbankan profitabilitas dengan mengajukan harga 40% lebih rendah dari anggaran yang tersedia. Tampaknya Hanwha Systems harus menunda target mereka untuk memenangkan seluruh proyek anti-drone di wilayah depan dan belakang hingga tahun depan. Toris Square, yang diperkirakan menjadi peserta kuat dalam proyek ini, dikabarkan telah beralih ke proyek lain.

Pekerjaan mutasi rutin di Kementerian Pertahanan pun praktis terhenti, sehingga hambatan kerja tidak dapat dihindari. Dengan kosongnya posisi Menteri Pertahanan yang juga menjabat sebagai ketua komite promosi program pertahanan, seluruh proyek baru diperkirakan akan terhenti. Saat ini, Komite Promosi Program Pertahanan berpendapat bahwa proyek masih bisa dijalankan oleh Wakil Menteri Pertahanan, namun sebagian besar pihak memprediksi bahwa pelaksanaan proyek akan tertunda hingga pemerintahan baru terbentuk.

Para ahli drone menjelaskan bahwa selain penguatan kemampuan pengawasan dan pengintaian, pengembangan teknologi "anti-drone" dan pembangunan peralatan untuk menangkal serangan drone terhadap fasilitas militer serta infrastruktur nasional justru lebih penting. Mereka juga sepakat bahwa perhatian berkelanjutan dari pemerintah dan alokasi anggaran terpisah harus segera dilakukan.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
전현건 기자
rimsclub@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지