[비즈한국] Deklarasi darurat militer yang diikuti dengan kegagalan mosi pemakzulan telah menyalakan lampu kuning bagi lini depan ekspor industri pertahanan dalam negeri. Kekhawatiran muncul bahwa jalur ekspor ke Timur Tengah, yang dianggap sebagai pasar strategis baru, akan terhambat. Hal ini dikarenakan karakteristik sistem politik di kawasan Timur Tengah, di mana komunikasi antar kepala negara atau menteri pertahanan sangat memengaruhi penandatanganan kontrak.

Dampak dari deklarasi darurat militer oleh Presiden Yoon Suk-yeol terus berlanjut dan industri pertahanan pun terkena pukulan yang tidak ringan. Masalah utamanya terletak pada pasar Timur Tengah, yang setelah Eropa, kini muncul sebagai pasar strategi ekspor baru bagi industri pertahanan dalam negeri.
Industri pertahanan Korea, yang memulai langkahnya dengan ekspor sistem rudal darat-ke-udara jarak menengah Cheongung-II (M-SAM II) senilai 3,5 miliar dolar AS ke UEA pada tahun 2022, tahun ini juga telah menandatangani kontrak Cheongung-II dengan negara-negara yang memiliki permintaan tinggi untuk memperkuat sistem pertahanan udara seperti Arab Saudi dan Irak. Setelah jarak menengah, negara-negara Timur Tengah kini juga berminat mengimpor sistem pencegat jarak jauh (L-SAM). Meskipun pengembangannya belum selesai, mereka telah menunjukkan niat untuk mengadopsinya. Prediksi bahwa negara-negara yang membutuhkan pembangunan sistem pertahanan udara akan bersaing untuk membeli L-SAM lebih awal sempat memberikan harapan masa depan yang cerah.
Namun, situasi politik dalam negeri telah menyiram air dingin ke pasar ekspor Timur Tengah yang sebelumnya sedang bergairah. Hal ini karena negara-negara Timur Tengah tidak akan menandatangani kontrak saat posisi penanggung jawab seperti presiden atau menteri pertahanan sedang kosong.
Ekspor pertahanan umumnya dilakukan dalam bentuk G2G (antar pemerintah). Oleh karena itu, kepercayaan antar negara sangatlah penting. Pengadaan sistem senjata bukanlah transaksi sekali jalan, sehingga komunikasi berkelanjutan dengan negara mitra sangat krusial. Stabilitas politik dan diplomasi negara pemesan menjadi prasyarat, mengingat kemitraan dalam dukungan teknis, pemeliharaan, dan peningkatan performa harus dijaga selama puluhan tahun. Inilah alasan mengapa kepemimpinan dan kemampuan diplomasi presiden selaku kepala eksekutif menjadi sangat penting. Kekosongan kursi Menteri Pertahanan setelah mundurnya Menteri Kim Yong-hyun yang ikut serta dalam deklarasi darurat militer juga menyebabkan hambatan dalam ekspor.
Saat ini, industri memperkirakan bahwa perlombaan untuk mendapatkan kontrak rudal darat-ke-udara jarak jauh, jet tempur, kendaraan lapis baja, helikopter, dan lainnya ke pasar Timur Tengah akan terhenti. Perusahaan-perusahaan pertahanan yang sedang gencar melakukan pemasaran di Timur Tengah dengan reputasi tinggi dari lembaga global pun semakin dilanda kecemasan.
Tingkat pertumbuhan pendapatan perusahaan pertahanan dalam negeri tahun lalu tercatat sebagai yang tertinggi kedua di dunia setelah Rusia. Menurut Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) di Swedia, perusahaan Korea yang masuk dalam 100 besar perusahaan pertahanan berdasarkan pendapatan adalah Hanwha Group, Korea Aerospace Industries (KAI)047810, LIG Nex1079550, dan Hyundai Rotem064350. Dari perusahaan dalam negeri, unit pertahanan Hanwha Group mencatat peringkat tertinggi di posisi 24, diikuti oleh KAI di posisi 56, LIG Nex1 di posisi 76, dan Hyundai Rotem di posisi 87. Keempat perusahaan pertahanan tersebut diketahui aktif melakukan kegiatan pemasaran untuk berekspansi ke Timur Tengah.
Di tengah upaya perluasan pasar ke berbagai negara, situasi darurat militer yang tiba-tiba terjadi membuat langkah antisipasi industri menjadi tidak memadai. Seorang pejabat industri menjelaskan, "Di tengah meningkatnya konflik global yang mendongkrak pendapatan industri pertahanan dunia dan kesuksesan ekspor Korea, situasi ini membuat perusahaan panik. Kami sedang berinvestasi besar-besaran dalam perluasan pabrik, penelitian dan pengembangan (R&D), serta kerja sama dengan perusahaan asing untuk bersaing dengan pemain global dan membuka pasar baru, sehingga ini sangat membuat frustrasi."
Kim Min-seok, anggota Korea Defense and Security Forum (KODEF), menyatakan, "Di negara mana pun, ekspor senjata memerlukan pertimbangan politik. Timur Tengah adalah kawasan yang membutuhkan perhatian khusus di mana pejabat tinggi negara seperti kepala negara ikut hadir dalam upacara penandatanganan. Setelah deklarasi darurat militer, di tengah situasi presiden tidak dapat menjalankan perannya dan posisi menteri pertahanan yang kosong, kekosongan administratif yang besar ini akan sangat mengganggu ekspor pertahanan."