[비즈한국] Di tengah pengumuman darurat militer oleh Presiden Yoon Suk-yeol pada malam hari tanggal 3, media asing dengan cepat menyebarkan berita terkait.
CNN Amerika Serikat menyiarkan berita darurat mengenai pengumuman darurat militer Presiden Yoon Suk-yeol. CNN melaporkan, “Presiden Korea Selatan Yoon Suk-yeol dalam pidato televisi tengah malam yang tidak terduga, menyatakan darurat militer dengan menuduh partai oposisi utama Korea berpihak pada Korea Utara dan melakukan kegiatan anti-negara,” dan menambahkan, “Ia tidak menjelaskan tindakan apa yang akan diambil, serta menyinggung pergerakan Partai Demokrat selaku partai oposisi mayoritas di parlemen yang mencoba memakzulkan pimpinan kejaksaan dan menolak anggaran pemerintah.”

Kantor berita AP juga melaporkan bahwa Presiden Yoon menyatakan darurat militer dengan menuduh partai oposisi yang menguasai parlemen telah melumpuhkan pemerintah dengan berpihak pada Korea Utara dan melakukan kegiatan anti-negara.
AP memprediksi, “Sejak menjabat pada tahun 2022, Presiden Yoon telah mengalami kesulitan dalam mendorong agendanya melawan parlemen yang dikuasai oposisi,” serta menyatakan, “Belum jelas bagaimana tindakan darurat militer ini akan berdampak pada tata kelola dan demokrasi Korea Selatan.”
Financial Times (FT) Inggris menempatkan artikel dari Seoul di posisi paling atas situs web mereka dan menyatakan, “Langkah Presiden Yoon akan memperumit hubungan dengan sekutu terpenting Korea, yaitu Presiden AS Joe Biden yang akan segera mengakhiri masa jabatannya,” serta menyebutkan bahwa “Setelah deklarasi darurat militer, nilai tukar mata uang won Korea jatuh ke titik terendah sejak November 2022.”
The New York Times melaporkan, “Ini adalah pertama kalinya seorang presiden Korea Selatan menyatakan darurat militer sejak berakhirnya kediktatoran militer di Korea pada akhir 1980-an,” dan menambahkan, “Presiden Yoon, yang terpilih pada tahun 2022, terus-menerus berada dalam konfrontasi politik dengan partai oposisi yang menguasai parlemen.” Namun, mereka mengamati bahwa “Masih belum jelas apa sebenarnya konsekuensi dari darurat militer ini dan apa yang akan segera berubah di Korea Selatan.”

Washington Post melaporkan, “Setelah menjabat pada tahun 2022, Presiden Yoon mengalami kesulitan akibat tingkat dukungan yang rendah dan menghadapi reaksi politik yang melibatkan istrinya serta pejabat tinggi partai berkuasa,” seraya menyampaikan bahwa “Belum jelas bagaimana keputusan ini akan memengaruhi tata kelola pemerintahan Korea Selatan.”