주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

KAI Percepat Peluncuran 'Pilot AI' yang Lebih Unggul dari Manusia pada 2035

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Negara-negara maju di bidang pertahanan seperti Amerika Serikat, Tiongkok, dan Eropa telah memulai persaingan sengit untuk menguasai teknologi pesawat tempur nirawak dengan pilot berbasis AI. Meskipun Korea Selatan memulai lebih lambat, perusahaan dan lembaga seperti Korea Aerospace Industries (KAI)047810 kini tengah memacu pengembangan teknologi melalui investasi mandiri.

한국항공우주산업(KAI)이 개발 중인 AI 기반 차세대 공중전투체계. 사진=KAI 제공
Sistem pertempuran udara generasi berikutnya berbasis AI yang sedang dikembangkan oleh Korea Aerospace Industries (KAI). Foto: Dok. KAI

Korea Aerospace Industries (KAI) saat ini sedang mengembangkan sistem pertempuran udara generasi berikutnya yang berbasis AI. Di medan perang masa depan, sistem nirawak diprediksi akan menjalankan misi tempur utama tanpa intervensi langsung dari manusia, dan pilot kecerdasan buatan (AI) muncul sebagai 'game changer' yang akan menentukan kemenangan di medan perang.

Pilot AI bisa memiliki kemampuan yang lebih hebat daripada pilot manusia. Manusia sulit menahan gaya gravitasi (G) hingga 9 kali lipat saat pesawat melakukan manuver tajam, namun pilot AI tidak dibatasi oleh gravitasi sehingga dapat bermanuver lebih cepat dan lincah. Selain itu, dengan kemampuan komputasi canggih dan analisis data besar, AI diharapkan dapat membuat keputusan dan menjalankan misi dengan lebih cepat dan akurat daripada manusia.

Negara-negara maju di bidang militer telah berlomba-lomba mengembangkan teknologi ini. Amerika Serikat, setelah melakukan simulasi pertarungan udara antara AI dan pilot manusia pada 2021, tahun ini telah memulai uji terbang dengan memasang pilot AI pada pesawat tempur nyata (F-16 Viper). AS berencana menginvestasikan 83 triliun won hingga 2029 untuk mendatangkan lebih dari 1.000 pesawat tempur nirawak berbasis AI, serta sedang menjalankan program Collaborative Combat Aircraft. Tahun depan, dalam tahap kedua proyek, mereka menargetkan partisipasi perusahaan luar negeri dan pengembangan versi ekspor, di mana kemungkinan partisipasi KAI pun mulai diperbincangkan.

Eropa, Inggris, Jepang, dan negara lainnya juga sedang bergegas mengembangkan pesawat nirawak yang dilengkapi pilot AI bersamaan dengan pengembangan pesawat tempur generasi ke-6. Meskipun Korea Selatan memulai lebih lambat dibanding negara maju, Korea Selatan fokus pada penguasaan teknologi pilot AI dan pesawat nirawak agar tidak tertinggal dalam persaingan. Fokus utamanya adalah membangun sistem tempur generasi berikutnya dengan memasang pilot AI pada pesawat nirawak multiguna.

Badan Pengembangan Pertahanan (ADD) saat ini menjalankan program 'ACE (Air Combat Evolution)' dan 'AIR (Artificial Intelligence Reinforcement)' untuk pengembangan pilot AI. ACE adalah program pembelajaran bagi pesawat agar mampu melakukan pertempuran secara otonom dalam pertempuran udara jarak dekat (WVR), sementara AIR adalah program pembelajaran AI untuk pertempuran di luar jangkauan visual (BVR). Melalui program-program ini, pelatihan pilot AI dilakukan dengan metode pemodelan dan simulasi tingkat lanjut.

KAI berencana mengembangkan pilot AI secara bertahap. Hingga 2026, mereka akan mengembangkan logika perangkat lunak dan kecerdasan awal AI, dan dari 2027 hingga 2029, mereka berencana mendemonstrasikan penerbangan formasi semi-otonom seperti penerbangan formasi berawak-nirawak serta identifikasi target dan manuver menghindar otomatis. Untuk tujuan ini, KAI berencana melakukan tes dengan memasang pilot AI pada pesawat tempur supersonik multiguna FA-50, dan menargetkan otonomi penuh di mana pesawat tempur nirawak dapat menjalankan misi secara mandiri dari 2030 hingga 2035.

Demi mencapai target tersebut, KAI berencana menginvestasikan 150 miliar won untuk mendapatkan teknologi inti di bidang AI, data besar, serta sistem otonom dan nirawak. CEO KAI, Kang Goo-young, mengungkapkan bahwa karena biaya yang diperkirakan sangat besar, pengembangan sistem tempur ini akan sulit dilakukan tanpa dukungan pemerintah.

KAI menekankan pentingnya kolaborasi dan integrasi teknologi dengan universitas, lembaga penelitian, dan perusahaan pertahanan swasta. Kang mengatakan, “Banyak pengembangan AI yang dilakukan di universitas, lembaga riset, dan perusahaan pertahanan, namun situasinya sulit untuk menguji teknologi yang telah dikembangkan karena kurangnya testbed. Jika KAI dapat berperan sebagai testbed di bidang kedirgantaraan, maka sinergi yang besar akan tercipta.”

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
전현건 기자
rimsclub@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지