주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Proyek Dukungan Seni Korea Musim ke-10
Kim Ki-seop - Lanskap Kesepian

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Ada pepatah yang mengatakan ‘nilai dari kebersamaan’. Kata-kata ini muncul dalam iklan citra sebuah perusahaan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ini adalah slogan keren yang mengandung makna bahwa kekuatan kebersamaan dapat mengubah dunia. Kebersamaan berarti empati atau komunikasi, dan dengan kekuatan ini, paradigma baru dapat diciptakan. Seni pun baru memiliki nilai ketika mendapatkan empati dari masyarakat. Empati muncul dari semangat zaman dan bahasa seni yang universal. ‘Proyek Dukungan Seni Korea’ juga ingin menunjukkan pemikiran berbagai orang melalui bahasa seni yang mudah dipahami. Memasuki musim ke-10, kami mendukung seniman yang berusaha mempraktikkan pemikiran Konfusius bahwa ‘seni yang baik haruslah mudah’.

Lukisan Kim Ki-seop memancarkan suasana metafisik. Meski sekilas tampak seperti lukisan pemandangan yang lirih dan biasa, lukisan ini tidak terlihat seperti pemandangan sederhana. Foto=Reporter Park Jung-hoon
Lukisan Kim Ki-seop memancarkan suasana metafisik. Meski sekilas tampak seperti lukisan pemandangan yang lirih dan biasa, lukisan ini tidak terlihat seperti pemandangan sederhana. Foto=Reporter Park Jung-hoon

Pada awal abad ke-20, muncul lukisan-lukisan yang penuh teka-teki. Orang-orang Eropa yang melihat lukisan ini merasa takjub sambil berkata, "Ternyata bisa melukis seperti ini juga ya."

Sosok yang langsung menarik perhatian di dunia seni Paris dengan lukisan seperti ini adalah Giorgio de Chirico (1888-1978), yang lahir di Yunani dan memulai kariernya sebagai pelukis di Italia. Bahkan penyair Guillaume Apollinaire, yang dikenal sebagai pendukung spiritual gerakan seni baru pada masa itu, sampai turun tangan dan menyebutnya sebagai ‘lukisan metafisik’.

Lukisan Chirico menempati posisi tersendiri dalam sejarah seni Barat di bawah nama ‘lukisan metafisik’. ‘Lukisan metafisik’, yang muncul sebagai salah satu aliran dalam sejarah seni Barat abad ke-20, merujuk pada karya-karya yang diproduksi Chirico antara tahun 1911 hingga 1918. Mengapa lukisan Chirico mendapatkan apresiasi yang begitu besar?

Setelah impresionisme, dunia seni Barat menyadari bahwa lukisan tidak lagi sekadar menyalin realitas. Para seniman harus menemukan cara melukis baru yang dapat menggantikan penggambaran realitas. Pencarian jalan baru sejak awal abad ke-20 berlangsung dengan sengit. Salah satunya adalah lukisan Chirico.

Internal Reflection Series 56: 91×116.8cm Cat minyak dan akrilik di atas kanvas 2024
Internal Reflection Series 56: 91×116.8cm Cat minyak dan akrilik di atas kanvas 2024

Jalan yang ditemukan Chirico adalah dunia yang samar seperti di dalam kabut. Lukisan tersebut menciptakan suasana yang mirip dengan perasaan saat membaca buku filsafat. Meski tidak langsung dipahami dengan jelas, sudah pasti ada citra pemikiran yang mendalam di dalamnya. Hal ini karena ia melukis dunia pemikiran menjadi sebuah pemandangan.

Lukisan Chirico, yang berisi alun-alun dengan suasana aneh yang menggabungkan pemandangan dengan objek-objek absurd, adalah manifestasi dari isi kepala tempat pemikiran muncul ke dalam bentuk yang konkret. Oleh karena itu, lukisan tersebut diakui sebagai metode melukis baru di dunia seni pada masanya. Lukisan Chirico menjadi dasar bagi surealisme yang muncul dalam sejarah seni setelahnya dan memberikan pengaruh yang sangat besar pada pelukis seperti Salvador Dalí dan René Magritte.

Dalam lukisan Kim Ki-seop juga memancarkan suasana metafisik. Hal ini karena meski sekilas tampak seperti lukisan pemandangan yang lirih dan biasa, lukisan ini tidak terlihat seperti pemandangan sederhana.

Internal L. Universe Series 163: 72.7×91cm Akrilik di atas kanvas 2021
Internal L. Universe Series 163: 72.7×91cm Akrilik di atas kanvas 2021

Gunung Fuji yang terkena cahaya matahari terbit yang kuat tampak berselimut awan di latar belakang, sementara di depan, rusa-rusa yang digambar dengan siluet tegas tampak bermain dengan santai. Di sisi lain, serigala-serigala melolong di pantai tempat ombak tenang bergulung. Namun, tubuh hewan-hewan ini dibuat datar dan memiliki sifat abstrak yang terdiri dari titik-titik warna yang tak terhitung jumlahnya.

Apa yang ingin disampaikan sang seniman melalui kombinasi pemandangan lirih dan hewan yang absurd ini? Ia menyebut lukisannya sebagai ‘lanskap kesepian’ dan mengatakan bahwa melalui pemandangan tersebut, ia ingin menunjukkan emosi kesepian yang ada di dalam dirinya.

Dari berbagai wajah pemikiran, yang dipilih oleh Kim Ki-seop adalah ‘kesepian’. Sang seniman, yang melihat kesepian yang kita rasakan dari pemandangan gunung atau laut sebagai emosi mendasar manusia, mengungkapkan hal tersebut dengan menampilkannya ke dalam lanskap. Lukisan Kim Ki-seop yang sarat akan pemikiran tidak terasa seperti buku filsafat yang kaku, melainkan seperti membaca buku kumpulan puisi yang membawa kita ke dalam perenungan mendalam.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
전준엽 화가·비즈한국 아트에디터
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지