[비즈한국] Jerman dikenal sebagai kekuatan ekonomi utama Eropa dan sering dijuluki sebagai ‘mesin Eropa’. Namun, setelah beberapa kali mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif belakangan ini, muncul kekhawatiran mengenai ‘krisis Jerman’ di mana negara tersebut berisiko mengalami stagnasi jangka panjang. Perusahaan otomotif yang secara tradisional menjadi tulang punggung ekonomi Jerman kini goyah karena tertinggal dalam transisi menuju elektrifikasi dibandingkan perusahaan China atau Amerika Serikat. Ditambah lagi, melemahnya permintaan global terhadap produk manufaktur membuat Jerman, sebagai negara berbasis manufaktur yang berorientasi ekspor, kesulitan untuk menunjukkan kekuatannya.
Di tengah krisis tersebut, harapan bahwa startup akan membawa inovasi bagi Jerman melalui ide dan teknologi baru tetap kuat. Pada 17 September lalu, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengumumkan peluncuran WIN Initiative, sebuah program dukungan untuk startup dengan anggaran sekitar 12 triliun won. Di samping harapan bahwa startup akan menjadi pendorong bagi Jerman yang sedang stagnan, 16 negara bagian federal di Jerman juga tengah meluncurkan berbagai peta jalan terkait startup.

Kekhawatiran Wilayah Bekas Jerman Timur dan Komunitas Startup sebagai Penggerak Solusi
Secara khusus, negara-negara bagian di bekas wilayah Jerman Timur merasa prihatin karena setelah 30 tahun reunifikasi, kesenjangan ekonomi dengan bekas wilayah Jerman Barat masih sangat besar. Bekas wilayah Jerman Timur terdiri dari Berlin, Brandenburg, Mecklenburg-Vorpommern, Saxony-Anhalt, Saxony, dan Thuringia, di mana Berlin berstatus sebagai kota sekaligus negara bagian.
Faktanya, menurut data yang disurvei pemerintah federal Jerman untuk memperingati 30 tahun reunifikasi, PDB per kapita di bekas wilayah Jerman Barat pada tahun 2019 mencapai 43.449 euro, sementara di bekas wilayah Jerman Timur hanya mencapai tingkat 30.027 euro. Berdasarkan data terbaru tahun 2023, PDB per kapita di bekas wilayah Jerman Timur masih berada di kisaran 30.000 euro, jauh lebih rendah dari rata-rata Jerman yang mencapai 42.953 euro. Tingkat pengangguran juga menunjukkan perbedaan mencolok. Pada tahun 1994, tingkat pengangguran Jerman Barat adalah 8,1%, sementara Jerman Timur mencapai 14,8%. Meskipun pada tahun 2019 angka tersebut turun menjadi 5,1% dan 7,1%, kesenjangan di antara kedua wilayah tersebut masih ada.
Ekosistem startup terus diharapkan berperan dalam memberikan dorongan semangat bagi ekonomi yang sedang lesu. Hal ini juga berlaku di bekas wilayah Jerman Timur. Khususnya, pemerintah negara bagian di wilayah Jerman tengah (bekas Jerman Timur) telah bekerja sama untuk berbagi pemikiran mendalam mengenai peran startup dalam merevitalisasi ekonomi ke depan.

Pada 23 Oktober lalu, ‘Peta Jalan Kampus Startup Internasional 2030 (International Startup Campus Roadmap 2030)’ diselenggarakan di Club International e.V. yang berlokasi di Leipzig. Acara ini diselenggarakan untuk mencari strategi bagi startup dan UKM di wilayah Jerman tengah (Saxony, Saxony-Anhalt, Thuringia) agar dapat memperkuat daya saing mereka di kancah global. Acara ini dipimpin oleh jaringan universitas Halle-Jena-Leipzig yang merupakan kota-kota utama di Jerman tengah, dan merupakan bagian dari proyek International Startup Campus yang sejak tahun 2020 telah mendukung internasionalisasi perusahaan untuk berbagai kelompok target.
Tujuan dari acara ini adalah untuk mengembangkan peta jalan yang konkret hingga tahun 2030 dan mendukung perusahaan-perusahaan di Jerman tengah agar dapat mengeksplorasi pasar baru dan meraih kesuksesan. Acara ini dihadiri oleh berbagai panelis, di antaranya Kevin Reeder, CEO dari dana publik Thuringia bm-t (bm-t beteiligungsmanagement thüringen GmbH); Daniel Worch, pejabat urusan startup di Kementerian Ekonomi Negara Bagian Saxony-Anhalt; Stefan Kausch, kepala dukungan pendirian dan inovasi di Institut Jülich; serta Ronny Krönert, manajer proyek di IOSax, lembaga promosi ekspor negara bagian Saxony, yang semuanya terlibat dalam diskusi yang antusias.
Strategi Internasionalisasi dan Dukungan bagi Perusahaan di Jerman Tengah
Dalam acara ini, para panelis mendiskusikan kesulitan dan peluang internasionalisasi yang dihadapi perusahaan di Jerman tengah, serta menyajikan berbagai rencana dukungan untuk mengatasinya. Kevin Reeder menekankan, “Agar startup dan UKM lokal berhasil di panggung internasional, mereka harus menyadari pentingnya jaringan.” Ia menjelaskan bahwa mereka membantu startup mengakses pasar internasional melalui berbagai sistem dukungan seperti Forum Ekonomi Jerman, dan secara khusus memperluas hubungan dengan Amerika Utara dan Asia.
Namun, muncul pula kekhawatiran bahwa meningkatnya dukungan terhadap partai sayap kanan seperti AfD (Alternative für Deutschland) di wilayah Jerman tengah baru-baru ini dapat menjadi kendala potensial bagi internasionalisasi. Dalam pemilihan parlemen negara bagian Jerman September lalu, partai ekstrem kanan AfD mencatatkan perolehan suara tinggi di wilayah Thuringia, Saxony, dan Brandenburg. Khususnya di Thuringia, mereka menempati peringkat pertama dengan dukungan 33%, dan juga menempati posisi kedua di Saxony dan Brandenburg, yang menunjukkan pengaruh mereka yang kian meluas. Latar belakang munculnya partai sayap kanan ini sangat dipengaruhi oleh ketidakpuasan ekonomi di antara penduduk bekas wilayah Jerman Timur dan sentimen negatif terhadap Jerman Barat.
Kesenjangan ekonomi antara bekas wilayah Jerman Barat dan Timur pasca-reunifikasi masih ada, dan hal ini menjadi faktor yang memicu ketidakpuasan penduduk Jerman Timur. Seperti disebutkan sebelumnya, tingkat pengangguran di Jerman Timur masih lebih tinggi dibandingkan Jerman Barat, dan PDB per kapita tetap lebih rendah. Selain itu, pengalaman dipaksanya sistem ekonomi dan politik Jerman Barat selama proses reunifikasi telah menanamkan sentimen negatif terhadap Jerman Barat di kalangan penduduk Jerman Timur.
Secara khusus, AfD menekankan kebijakan anti-imigran dan anti-pengungsi serta mempertahankan sikap keras terhadap imigran dan warga asing. Hal ini dapat menghambat upaya Jerman tengah dalam menarik talenta internasional dan startup. Para panelis menekankan pentingnya pertumbuhan ekonomi dan inovasi melalui internasionalisasi serta penerimaan multikultural, seraya mengatakan bahwa penting bagi masyarakat lokal dan kalangan politik untuk menciptakan suasana yang mendukung internasionalisasi tersebut. Muncul peringatan bahwa meskipun naiknya AfD mungkin dapat meredam ketidakpuasan warga lokal dalam jangka pendek, hal itu bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dan internasionalisasi wilayah tersebut dalam jangka panjang.
Perlunya Masuknya Talenta Internasional dan Rencana Dukungan
Dalam diskusi kali ini, pentingnya masuknya talenta internasional juga ditekankan. Saat ini, Jerman menghadapi kesulitan dalam menarik talenta asing karena berbagai alasan. Secara khusus, prosedur penerbitan visa menjadi hambatan besar. Seorang peserta menekankan, “Dibutuhkan sistem yang mendukung talenta yang telah mengenyam pendidikan di Jerman untuk tetap tinggal setelah lulus.” Ia berargumen bahwa dalam proses ini, berbagai prosedur administrasi harus disederhanakan dan langkah-langkah konkret harus disiapkan untuk mengurangi kesulitan yang dihadapi pemberi kerja saat mempekerjakan talenta asing.
Para panelis pun sepakat bahwa sangat penting untuk mempermudah perusahaan Jerman dalam mendapatkan talenta yang dibutuhkan melalui program dukungan pengembangan ekonomi. Daniel Worch, salah satu panelis, mengatakan, “Talenta yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi di dalam Jerman harus didatangkan,” dan untuk itu, pemerintah daerah serta lembaga pengembangan ekonomi harus bekerja sama dalam menyiapkan berbagai rencana dukungan agar perusahaan dapat memperoleh talenta yang dibutuhkan tepat waktu.
Diskusi hari itu juga menunjukkan besarnya minat terhadap kerja sama dengan Asia, terutama Korea dan Jepang. Perusahaan-perusahaan di Jerman tengah memiliki harapan besar bahwa mereka dapat merambah pasar baru melalui pertukaran dengan Jepang dan Korea. Jepang dan Korea memiliki minat tinggi terhadap teknologi inovatif dan lembaga penelitian Jerman, sehingga pendapat yang mendominasi adalah bahwa Jerman tengah dapat menciptakan peluang baru melalui pertukaran dengan negara-negara tersebut.

Peta Jalan 2030 dan Tugas untuk Internasionalisasi Jerman Tengah
‘Peta Jalan Kampus Startup Internasional 2030 (International Startup Campus Roadmap 2030)’ yang dipresentasikan pada acara ini menarik perhatian besar dari para peserta karena menyajikan strategi dan rencana konkret untuk internasionalisasi Jerman tengah. Peta jalan ini bertujuan menjadikan Jerman tengah sebagai pusat internasionalisasi di Eropa dengan menyediakan berbagai dukungan yang dibutuhkan perusahaan-perusahaan di Jerman tengah saat merambah pasar luar negeri.
Poin utama dari peta jalan tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, mendukung perluasan jaringan internasional melalui kemitraan dengan berbagai negara agar perusahaan di Jerman tengah dapat dengan mudah melakukan ekspansi ke luar negeri. Kedua, menjalankan program masuk pasar lokal untuk membantu startup merambah pasar utama seperti Asia dan Amerika Utara. Ketiga, bekerja sama dengan lembaga penelitian unggulan Jerman seperti Fraunhofer dan Max Planck Institute untuk mendorong startup dalam mengembangkan teknologi inovatif. Keempat, menyederhanakan prosedur penerbitan visa agar talenta asing dapat menetap di Jerman, serta mempermudah prosedur dokumen yang diperlukan bagi pemberi kerja saat merekrut talenta.
Saat ini, International Startup Campus mengoperasikan meja layanan lokal di Vietnam, China, dan Jepang, yang berperan sebagai jembatan bagi startup Jerman tengah untuk dapat dengan mudah merambah wilayah Asia.
Acara Peta Jalan Kampus Startup Internasional 2030 ini memberikan harapan bahwa startup akan menjadi kunci penting dalam memacu pertumbuhan ekonomi di wilayah Jerman tengah, khususnya di bekas wilayah Jerman Timur. Di wilayah yang masih diliputi kesenjangan ekonomi dan konflik sosial pasca-reunifikasi, mampukah startup dan teknologi inovatif menjadi solusi yang menghadirkan lapangan kerja baru dan vitalitas ekonomi? Jika itu terwujud, model bisnis dan teknologi baru yang menargetkan pasar global tidak hanya akan memberikan dampak positif bagi bekas wilayah Jerman Timur saja, tetapi juga bagi keseluruhan ekonomi Jerman yang saat ini sedang mengalami kesulitan.
Penulis Eun-seo Lee menempuh pendidikan hukum di Korea dan mempelajari seni teater di Berlin. Ia menetap di Berlin, kota seni sekaligus pusat startup Eropa, dan memimpin 123factory yang menjembatani ekosistem startup antara Korea dan Jerman sembari bertumbuh bersama kotanya.