[비즈한국] Kekhawatiran muncul bahwa 'Sistem Anggaran Partisipasi Publik', di mana masyarakat turut serta dalam proses penyusunan anggaran negara, kini terancam hanya menjadi formalitas karena alokasi anggarannya yang terus menyusut. Hal ini dikarenakan anggaran sistem tersebut pada tahun ini telah berkurang hingga kurang dari setengah dari jumlah pada tahun pertama pelaksanaannya.
Ketika alokasi anggaran berkurang drastis, partisipasi masyarakat pun ikut menurun, yang semakin memperbesar kekhawatiran tersebut. Muncul kritik bahwa jika pemerintah hanya fokus pada efisiensi penyusunan dan eksekusi anggaran, hal ini dapat menyebabkan terulangnya situasi di mana suara rakyat justru dikesampingkan dalam anggaran negara, dan hanya kepentingan kelompok-kelompok besar yang terakomodasi.

Pemerintah membentuk 'Sistem Anggaran Partisipasi Publik' pada tahun 2017 berdasarkan ketentuan dalam Undang-Undang Keuangan Negara yang menyatakan bahwa "pemerintah harus berupaya meningkatkan transparansi dalam proses penganggaran dan partisipasi publik dalam proses tersebut (Pasal 16 Ayat 4)". Tujuannya agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses penganggaran, mulai dari mengusulkan proyek, melakukan penilaian, hingga menentukan prioritas.
Sistem Anggaran Partisipasi Publik terdiri dari dua jenis: 'tipe usulan', di mana usulan masyarakat melalui pemeriksaan kelayakan oleh kementerian atau tinjauan oleh kelompok partisipasi anggaran publik sebelum dilakukan pemungutan suara preferensi, dan 'tipe diskusi', di mana masyarakat berpartisipasi dalam diskusi mengenai isu-isu keuangan negara yang utama untuk menyusun anggaran. Sejak awal, sistem ini mendapat sambutan hangat, terutama melalui tipe usulan di mana masyarakat dapat mengajukan ide proyek. Skala anggaran sistem ini juga sempat meningkat pesat, namun sejak tahun 2023, sistem ini mengalami penurunan drastis.

Proyek dan anggaran yang menerapkan sistem ini tercatat sebanyak 6 proyek dengan nilai 42,2 miliar won pada tahun pertama, 2018. Pada tahun berikutnya, 2019, jumlahnya melonjak menjadi 38 proyek dengan anggaran 92,8 miliar won. Pada tahun 2020, angka tersebut menembus kisaran 100 miliar won dengan total 105,7 miliar won untuk 38 proyek. Pada tahun 2021, jumlah proyek bertambah menjadi 63 dengan anggaran 116,8 miliar won, dan pada tahun 2022, meningkat menjadi 71 proyek dengan anggaran 142,9 miliar won, hampir mencapai 150 miliar won.
Namun, pada tahun 2023, jumlah proyek turun menjadi 51 dan anggaran menyusut tajam menjadi 50 miliar won. Tahun ini, angkanya semakin menurun dengan hanya 13 proyek dan anggaran yang hanya berjumlah 17 miliar won. Dalam kurun waktu enam tahun sejak dimulai, anggaran partisipasi publik telah terpangkas hingga kurang dari setengah nilai tahun pertamanya.
Tahun lalu, proyek-proyek yang dijalankan melalui sistem ini meliputi perluasan tempat ujian kualifikasi nasional oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan diversifikasi pengalaman kerja bagi kaum muda, penguatan dukungan pendidikan perangkat lunak di daerah terpencil oleh Kementerian Sains dan TIK, survei kondisi pertumbuhan siswa oleh Kementerian Pendidikan, serta dukungan layanan keamanan pribadi bagi korban kejahatan berisiko tinggi oleh Kepolisian. Proyek-proyek ini sulit terpikirkan tanpa keterlibatan masyarakat umum, dan tingkat pelaksanaan rata-rata anggarannya mencapai 93,1%, menunjukkan respons yang cukup baik. Khususnya, program dukungan keamanan bagi korban kejahatan berisiko tinggi oleh Kepolisian sangat diminati, dengan realisasi anggaran mencapai 723 juta won dari alokasi awal 700 juta won.
Namun, seiring dengan anjloknya anggaran yang dialokasikan, partisipasi masyarakat pun mulai mendingin. Usulan masyarakat yang berjumlah 1.206 pada 2019 sempat meningkat menjadi 1.399 pada 2020, 1.164 pada 2021, 1.589 pada 2022, dan melonjak hingga 2.043 pada 2023. Namun, setelah jumlah proyek yang diterapkan pada 2023 menyusut menjadi 51, usulan masyarakat tahun ini turun menjadi 1.191. Tingkat persetujuan kelayakan oleh kementerian terhadap usulan masyarakat juga menurun. Pada 2021, dari 1.164 usulan, kementerian menyetujui 145 proyek (tingkat kelayakan 12,5%), sementara pada 2023, dari 2.043 usulan, hanya 82 yang disetujui, sehingga rasio turun drastis menjadi 4,0%.
Tahun ini, tingkat persetujuan kelayakan kementerian tetap berada di angka 7,0%, bahkan tidak mencapai 10%. Selain itu, proporsi proyek yang disetujui kelayakannya oleh kementerian dan benar-benar menerima alokasi anggaran juga ikut turun. Dari 83 proyek yang dinyatakan layak oleh kementerian tahun ini, hanya 13 yang benar-benar menerima anggaran, dengan tingkat realisasi anggaran hanya 15,7%. Ini adalah tingkat realisasi anggaran terendah sejak Sistem Anggaran Partisipasi Publik dimulai.