[비즈한국] Juru bicara Kementerian Pertahanan Korea Utara pada tanggal 19 mengungkapkan drone yang jatuh di Pyongyang. Korea Utara mengklaim bahwa ini adalah 'drone pengintai jarak jauh' milik 'Komando Operasi Drone' Korea Selatan. Pernyataan tersebut tampak masuk akal. Hal ini dikarenakan drone yang diklaim oleh Korea Utara tersebut hanya dimiliki oleh Komando Drone kita dan beberapa unit terbatas, serta komponennya sulit didapatkan sehingga tidak mudah bagi Korea Utara untuk memproduksi tiruannya. Oleh karena itu, argumen bahwa ini bukanlah 'rekayasa' Korea Utara melainkan operasi militer nyata dari militer kita semakin kuat.

Drone yang diklaim Korea Utara sangat mirip dengan model bernama 'S-BAT' yang dikembangkan oleh perusahaan domestik, Perusahaan S. Diketahui bahwa 100 unit telah diproduksi dan diserahkan kepada militer melalui 'Proyek Akuisisi Demonstrasi Cepat 20-1' dari Administrasi Program Akuisisi Pertahanan. Model ini diluncurkan menggunakan pelontar (catapult) dan mendarat menggunakan parasut. Dengan kecepatan 140 km/jam, drone ini dapat terbang selama 4 jam, sehingga mampu melakukan perjalanan pulang pergi dari selatan garis gencatan senjata ke Pyongyang. Menurut Komando Drone, harga per unit sekitar 30 juta won dan sekitar 10 unit dari jumlah yang dikerahkan telah rusak.
Tujuan dari pengadaan 'S-BAT' adalah untuk misi pengintaian sebagai respons terhadap provokasi musuh. Berbeda dengan pesawat pengintai pada umumnya, tujuannya adalah untuk mengambil foto dengan mendekati wilayah udara musuh. Untuk tujuan ini, kamera komersial buatan Jepang terpasang di bagian hidung pesawat. Nilai taktisnya rendah karena tidak bisa mengirimkan gambar secara real-time. Drone ini diperkenalkan setelah insiden infiltrasi drone Korea Utara di langit Seoul pada Desember 2022, dengan konsep respons proporsional jika terjadi insiden serupa.
Jika kita melihat foto yang dirilis oleh Korea Utara, bentuknya hampir identik dengan 'S-BAT'. Tidak hanya lebar dan panjang badan pesawat, tetapi juga lokasi dan bentuk bumper peredam benturan saat mendarat, bentuk dan posisi 'tabung pitot' untuk mengukur kecepatan, kemudi yang digunakan untuk berbelok, hingga bentuk mesin, semuanya hampir sepenuhnya mirip dengan drone yang digunakan oleh militer kita.
Jika Korea Utara ingin melakukan rekayasa untuk membuat keributan, mereka harus mendapatkan peralatan atau mesin Perusahaan S dari Tiongkok atau tempat lain dan memproduksinya secara persis. Namun, dalam kasus drone S-BAT, bentuknya bukanlah sayap segitiga (delta) seperti drone sayap tetap pada umumnya, melainkan sayap menyapu (swept wing) dengan dua sirip ekor vertikal di ujung sayap, sehingga tidak mudah untuk ditiru begitu saja. Jika Korea Utara tidak mendapatkan drone tersebut, membawanya ke Korea Utara, dan menerbangkannya, maka kemungkinan besar drone yang ditemukan di Pyongyang memang buatan Korea Selatan.
Meskipun ada klaim bahwa drone ini adalah tiruan buatan Korea Utara dan kemungkinan itu tidak bisa dikesampingkan, namun bukti yang ada saat ini sulit untuk membuktikan bahwa itu adalah rekayasa Korea Utara. Pertama, drone kecil jauh lebih sulit ditiru daripada drone besar. Semakin besar drone, semakin sulit terlihat kesalahan saat ditiru, namun pada drone kecil, sedikit saja kesalahan akan membuat proporsi atau sudut yang berbeda terlihat jelas. Selain itu, tidak hanya eksterior luarnya, pembagian komponen internalnya juga sepenuhnya identik.
Klaim bahwa drone ini tidak bisa membawa selebaran karena kapasitas muatnya kurang dari 500g juga sulit dibuktikan. Drone ini aslinya membawa kamera Sony 'a7' beserta lensanya, sehingga klaim bahwa drone ini tidak dapat digunakan karena kekurangan kapasitas muat juga sulit dibuktikan, mengingat drone tersebut mampu membawa bodi kamera seberat 650g beserta lensanya dan terbang pulang pergi sejauh 200 km.