[비즈한국] Seiring populernya program survival memasak 'Culinary Class Wars', minat publik terhadap versi militer dari acara tersebut, 'Legendary Cook', juga ikut melonjak. 'Legendary Cook' adalah program survival memasak militer di mana juru masak aktif dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Korps Marinir bertanding demi kehormatan unit mereka. Program ini dinilai memberikan perspektif baru terhadap katering militer, yang sebelumnya sering disebut sebagai 'jjam-bap' (makanan sisa), dengan menonjolkan 'keahlian memasak' yang luar biasa dari para juru masak militer.
Sejak tahun 2021, setelah fakta mengenai buruknya kualitas makanan yang disajikan kepada tentara yang dikarantina akibat COVID-19 terungkap di media sosial (SNS), katering militer yang buruk telah menjadi masalah sosial. Menanggapi hal itu, otoritas militer telah mengumumkan langkah-langkah komprehensif dan melakukan perbaikan. Khususnya mulai tahun ini, masuknya perusahaan-perusahaan besar ke pasar katering militer diperkirakan akan memperluas pilihan bagi para prajurit.

Perusahaan makanan dan katering terkemuka seperti Ourhome, Pulmuone, Daesang001680, dan Dongwon F&B secara aktif mempromosikan kemampuan katering militer mereka di pameran industri pertahanan yang diadakan di dalam negeri. Hal ini dikarenakan pembatasan tender kompetitif untuk afiliasi grup perusahaan besar dalam bisnis katering telah dicabut mulai tahun ini.
Samsung Welstory memenangkan kontrak senilai 12,7 miliar won untuk Akademi Militer pada bulan Maret, dan kemudian juga mengamankan kontrak senilai 10,2 miliar won untuk Akademi Militer ke-3 pada bulan Juni. Ourhome memenangkan hak pengelolaan kantin prajurit untuk Sayap Tempur ke-20 Angkatan Udara dengan anggaran 42,7 miliar won pada bulan April. Setelah itu, mereka juga mengamankan pengelolaan kantin barak untuk unit ke-1989 Angkatan Darat senilai 10,7 miliar won. Pulmuone Food & Culture dan Dongwon Home Food juga dilaporkan telah memenangkan kontrak bisnis katering militer tahun ini. 'Theborn Korea', yang dipimpin oleh CEO Baek Jong-won, juga telah menandatangani Nota Kesepahaman (MOU) dengan Kementerian Pertahanan awal tahun ini dan sedang menjalankan proyek percontohan untuk perbaikan katering militer.
Alasan perusahaan katering besar sangat aktif berpartisipasi dalam bisnis katering militer adalah karena mereka dapat memperoleh jumlah konsumen yang stabil untuk tiga kali makan sehari. Karena tingkat prediktabilitasnya yang tinggi, mereka dapat meminimalkan kerugian dalam hal pasokan bahan makanan. Selain itu, ada keuntungan karena mudah untuk menyusun menu yang sesuai dengan selera dan kesukaan, mengingat mayoritas konsumen adalah pria berusia 20-an.
Katering yang dikelola pihak swasta memiliki karakteristik dalam menyediakan beragam menu. Dalam kasus Akademi Militer yang telah menerapkan katering swasta, berbagai masakan Korea seperti dak-galbi (ayam tumis pedas) dan bulgogi irisan daging sapi tipis dengan daun bawang, hingga masakan internasional seperti carbonara, tumis udon, nasi goreng, dan nasi siram ala Tiongkok, juga disajikan. Pilihan hidangan penutup pun beragam, mulai dari jus, salad, hingga puding.
Tanggapan prajurit terhadap katering yang dikelola swasta sangat positif. Menurut survei kepuasan katering militer yang dilakukan oleh Kementerian Pertahanan tahun lalu, tingkat kepuasan katering swasta meningkat dari 3,3 poin menjadi 4,07 poin dibandingkan dengan katering yang dikelola langsung oleh militer, sementara volume limbah makanan berkurang sebesar 30%. Kementerian Pertahanan berencana untuk memperluas target katering swasta dari 34.000 orang menjadi 68.000 orang, dan secara aktif mempromosikan sistem prasmanan yang memperkuat hak prajurit dalam memilih menu.
Namun, pembekuan 'biaya makan dasar' untuk prajurit tahun depan diprediksi akan menghambat perluasan katering swasta. Kementerian Pertahanan telah mengajukan anggaran biaya makan kepada Kementerian Ekonomi dan Keuangan dengan menganggap 15.000 won sebagai harga satuan yang wajar, naik 2.000 won dari 13.000 won tahun ini. Namun, Kementerian Ekonomi dan Keuangan membekukan biaya makan tetap di angka 13.000 won dan menyerahkannya ke Majelis Nasional. Seorang pejabat katering militer menjelaskan, "Saat pasar katering militer terbuka bagi perusahaan besar, perusahaan-perusahaan berlomba untuk mendominasi pasar," namun menambahkan, "Ada kemungkinan terjadinya persaingan tidak sehat karena terlalu banyak yang masuk, dan dengan dibekukannya biaya makan dasar prajurit, perluasan bisnis mungkin akan menjadi sulit."