[비즈한국] Ada ungkapan yang berbunyi 'nilai dari kebersamaan'. Kalimat ini muncul dalam iklan sebuah perusahaan sekitar 10 tahun yang lalu. Ini adalah slogan yang keren, yang mengandung makna bahwa kekuatan untuk bersama bisa mengubah dunia. Kebersamaan berarti empati atau komunikasi, dan dengan kekuatan inilah paradigma baru dapat tercipta. Seni juga memiliki nilai ketika mendapatkan empati dari orang-orang. Empati lahir dari semangat zaman dan bahasa seni yang universal. 'Proyek Dukungan Seni Korea' juga berupaya untuk menampilkan pemikiran berbagai orang melalui bahasa seni yang mudah dipahami. Memasuki musim ke-10, kami mendukung seniman yang berusaha mempraktikkan pemikiran Konfusius bahwa 'seni yang baik haruslah mudah dipahami'.

Beberapa waktu lalu, sempat populer istilah 'so-hwak-haeng'. Istilah ini diartikan sebagai 'kebahagiaan kecil namun nyata yang dapat kita temukan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari'.
Istilah ini menjadi terkenal setelah digunakan dalam esai oleh penulis ternama dunia asal Jepang, Haruki Murakami. Ia mendefinisikan kebahagiaan sebagai 'menyobek roti yang baru dipanggang dengan tangan, tumpukan pakaian dalam yang terlipat rapi di dalam laci, perasaan saat memakai kemeja putih baru yang tercium aroma katun bersih dari kepala ke bawah', dan sebagainya.
Orang biasa menjalani hidup dengan kebahagiaan-kebahagiaan kecil dalam keseharian seperti ini. Banyak orang mendambakan kehidupan yang dramatis, namun kehidupan kita sebenarnya cenderung datar. Di dalamnya, kita menciptakan peristiwa-peristiwa tenang dan menjalaninya. Emosi seperti ini dirasakan oleh siapa saja, namun tidak dianggap sebagai sesuatu yang istimewa. Karena itu adalah hal yang terjadi di sekitar kita, persis seperti udara.


Ternyata ada banyak seniman yang menemukan keindahan universal dengan memberikan makna pada kehidupan sehari-hari yang datar dan biasa seperti ini. Bahkan ada seniman yang namanya tercatat dalam sejarah seni.
Di antaranya, teringat sosok Edward Hopper (1882-1967). Ia disebut sebagai seniman perwakilan aliran Realisme Amerika karena menggambarkan adegan keseharian di kota secara realistis. Ia melukis kebahagiaan yang lamban dari kehidupan sehari-hari kelas menengah kota dengan warna-warna cerah. Karya utama Hopper, 'Nighthawks', sangat terkenal hingga disebut sebagai ikon yang mewakili sensibilitas abad ke-20. Sebagai seorang warga New York, ia menangkap kehidupan sehari-hari di New York melalui cahaya buatan. Karya tersebut terinspirasi dari kedai makanan di Greenwich Village, Manhattan, tempat ia tinggal selama 54 tahun.
David Hockney, yang masih aktif berkarya hingga saat ini, juga memperoleh reputasi global karena menggambarkan kebahagiaan kecil dalam keseharian melalui layar bergaya pop art. Ia mendapatkan empati dengan melukis kehidupan sehari-hari yang sangat personal dari kelas menengah modern. Baru-baru ini, ia menunjukkan sisi baru melalui karya yang melukis pemandangan kampung halamannya, Bradford, Yorkshire, Inggris, secara langsung di lokasi.

Kim Yeon, yang menarik perhatian dengan pemandangan bernuansa monokrom, juga merupakan seniman yang menonjol dalam konteks ini. Ia melukis pemandangan hanya dengan menggunakan tinta. Jika dilihat dari tren seni kita saat ini yang cenderung memaksimalkan sensasi, lukisannya justru melawan arus. Daya tarik visualnya rendah, dan sekilas layarnya tampak datar seolah-olah hanya sebuah sketsa.
Namun, alasan mengapa lukisan Kim Yeon menarik perhatian adalah karena memberikan kenyamanan yang terasa seperti 'jeda dari sensasi'. Ada kesan bahwa karyanya memberikan ruang untuk bernapas bagi orang-orang yang lelah dengan banyaknya tontonan dan rangsangan yang kuat. Melalui lukisan-lukisan ini, ia mengatakan, "Saya ingin menunjukkan kehidupan biasa orang-orang pada umumnya." Mungkin saja, mereka yang menjalani hidup dengan tenang menemukan kebahagiaan kecil dalam pemandangan lukisan tinta satu warna karya Kim Yeon.