[비즈한국] Seberapa jauh keegoisan manusia bisa melangkah? Seberapa buruk manusia bisa berubah? Ini adalah pertanyaan yang terus muncul saat menonton 'Snow White Must Die - Black Out' (Snow White). Kini, setelah 11 dari 14 episode ditayangkan, mendalami pertanyaan tersebut bahkan membuat penonton merasa jijik terhadap manusia. Begitulah kuatnya 'Snow White' dalam memikat mata dan telinga penonton melalui alur cerita yang meyakinkan, daya tarik yang intens, dan pesan mendalam yang memancing pemikiran.

Ada seorang pemuda berusia 19 tahun. Ia adalah siswa teladan yang selalu menjadi ketua kelas, memiliki kepribadian ramah yang disukai banyak teman, dan tumbuh berkecukupan di bawah orang tua yang dihormati di lingkungannya. Ia memiliki pacar yang cantik dan telah diterima di fakultas kedokteran universitas bergengsi, sehingga hidupnya tampak sempurna. Go Jeong-woo (Byun Yo-han) adalah pemuda yang dicintai semua orang bak Snow White dalam dongeng. Namun, dalam semalam, ia menjadi seorang pembunuh. Pada suatu malam setelah minum banyak alkohol dan kehilangan kesadaran, pacarnya, Park Da-eun (Han So-eun), dan teman wanitanya, Shim Bo-young (Jang Ha-eun), ditemukan tewas. Meski jenazah kedua siswi tersebut tidak ditemukan, semua bukti mengarah pada Jeong-woo. Ia tidak ingat membunuh mereka, tapi juga tidak ingat jika tidak membunuhnya. Inilah yang disebut dengan blackout.

Hidup Jeong-woo ditentukan secepat kilat. Atas saran Hyun Gu-tak (Kwon Hae-hyo), teman ayahnya sekaligus kepala investigasi yang mengatakan bahwa ia bisa mendapat keringanan hukuman jika masih di bawah umur, waktu yang dibutuhkan dari investigasi polisi hingga vonis akhir hanyalah 80 hari. Setelah dijatuhi hukuman 10 tahun dan menghabiskan masa mudanya di penjara yang bagaikan neraka, tidak ada yang menyambutnya saat ia kembali ke Desa Mucheon. Bahkan ibunya, Jeong Geum-hee (Kim Mi-kyung), yang masih tinggal di desa itu dan menanggung hinaan serta pengucilan warga seolah membayar dosa anaknya, menyuruh Jeong-woo pergi dari desa. Jeong-woo pun berniat untuk pergi. Namun, tepat di hari ia hendak pergi, ibunya didorong oleh seseorang hingga jatuh dan kehilangan kesadaran. Meskipun Jeong-woo telah membayar dosanya dengan 10 tahun penjara, bagi warga desa, urusan ini belum selesai.

'Snow White' menunjukkan secara mendetail perjuangan Jeong-woo dalam mengejar kebenaran malam itu, mencari jenazah teman-temannya, dan membuktikan ketidakbersalahannya. Oleh karena itu, kita tidak akan menemukan 'alur cerita yang memuaskan' atau 'ledakan dopamin' yang disukai penonton saat ini. Sebaliknya, yang tercipta adalah empati di mana penonton turut serta dalam setiap langkah Jeong-woo dalam mencari kebenaran setelah melewati masa 10 tahun. Begitu kuatnya keterhubungan itu sehingga muncul istilah 'alur ubi madu'—sebutan untuk alur yang lambat namun sangat membuat ketagihan.
Sebenarnya, sejak awal 'Snow White' sudah memperlihatkan sosok-sosok yang dicurigai sebagai pelaku utama atau kaki tangan. Mulai dari Hyun Gu-tak, yang tetap dingin saat melakukan investigasi meski terhadap anak sahabatnya sendiri; anggota parlemen Ye Young-sil (Bae Jong-ok) yang tampak memiliki hubungan dengan Hyun Gu-tak; hingga suaminya, Park Hyung-sik (Gong Jung-hwan), direktur Rumah Sakit Mucheon Sarang. Karena mereka adalah tokoh-tokoh berkuasa di kota kecil yang tertutup, mereka langsung menjadi sorotan kecurigaan. Namun, proses terungkapnya tindakan mereka sangat logis dan solid, sehingga cerita tidak terasa klise meski kita sudah curiga sejak awal. Hal ini didukung oleh akting luar biasa dari aktor-aktor berbobot seperti Kwon Hae-hyo, Bae Jong-ok, dan Gong Jung-hwan.

Begitu pula dengan penggambaran warga desa dan teman-teman Jeong-woo yang sejak awal terasa aneh, meski tidak terlalu dicurigai dibandingkan tokoh-tokoh berkuasa lainnya; ini adalah salah satu sorotan utama drama ini. Semakin tersingkap sifat asli mereka—yang digambarkan sebagai orang-orang yang saling mengenal sedekat anggota keluarga karena tumbuh di desa yang sama—penonton dibuat marah hingga tak bisa berkata-kata. Hal yang benar-benar menakutkan dari penggambaran ini adalah betapa kejinya orang-orang yang dianggap biasa saja bisa bertindak hanya demi kepentingan pribadi saat berada dalam situasi ekstrem. Kekejaman yang mendorong anak orang lain ke neraka demi keselamatan anak sendiri, serta keegoisan yang tak tahu malu dalam melimpahkan tanggung jawab dan mencari pembenaran, tersampaikan dengan sangat hidup. Selain merasa benci terhadap manusia, penonton juga diajak merenung dengan pertanyaan, "Bagaimana jika itu aku?".

Paduan aktor muda seperti Ko Bo-gyeol (sebagai Choi Na-gyeom), Lee Tae-gu (sebagai Yang Byung-moo), Shin Min-soo (sebagai Lee Woo-je), Lee Ga-sub (sebagai Hyun Su-o/Hyun Geon-o), serta aktor senior seperti Cha Soon-bae, Lee Doo-il, Jo Jae-yoon, Lee Jung-eun, dan Park Mi-hyun juga sangat apik. Popularitas para aktor muda ini diprediksi akan meroket berkat karya ini.
Diadaptasi dari novel karya penulis Jerman, Nele Neuhaus, drama ini kini melaju menuju akhir kebenaran berkat naskah yang solid dan arahan halus sutradara Byun Young-joo yang terkenal dengan film 'Helpless'. 'Kebenaran malam itu yang mungkin lebih baik jika tidak diketahui' sudah sebagian besar terungkap pada episode 11. Namun, daya tarik karya ini terletak pada hubungan dan psikologi orang-orang yang menjebak Jeong-woo sebagai pembunuh, sehingga ketegangan diprediksi akan terus terjaga hingga akhir. Respon penonton pun meningkat pesat. Rating yang dimulai dari 2,8% kini melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 8,7% di episode 11.

Saya tidak meragukan bahwa misteri akan terpecahkan dan keadilan akan ditegakkan. Terlepas dari itu, jika ada satu harapan yang saya inginkan dari 'Snow White', adalah agar ia memberikan sedikit ruang untuk memulihkan kepercayaan terhadap manusia yang sempat hilang selama menonton. Jika tidak, akan sulit bagi banyak orang, termasuk saya yang terlalu tenggelam dalam drama ini. Saya tetap ingin percaya bahwa kebaikan hati manusia itu ada.
Siapakah penulis Jeong Su-jin?
Ia telah bekerja di berbagai majalah, meliput dan menulis tentang film, perjalanan, dan budaya populer. Meski tidak ingin tertinggal dari tren, ia telah menjadi "orang lama" yang hanya bisa menebak klise usang di adegan berikutnya saat menonton drama terbaru. Ia sedang berusaha mengembalikan naluri yang hilang dengan menjelajahi dunia OTT yang luas, dan harapan terbesarnya saat ini adalah adanya paket langganan terintegrasi untuk layanan OTT.