[비즈한국] Ada istilah yang disebut 'Deskterior'. Gabungan dari kata meja (Desk) dan interior (Interior), deskterior merujuk pada kegiatan menghias meja kerja sesuai selera, layaknya mendekorasi sudut-sudut rumah. Budaya mengunggah setup meja yang mengusung konsep tertentu serta berbagi informasi produk terkait semakin meluas setelah melewati masa pandemi COVID-19, di mana bekerja dari rumah menjadi tren utama.
Keyboard, yang merupakan perangkat esensial untuk bekerja dengan komputer, adalah item yang memegang porsi cukup besar dalam deskterior. Pengguna yang merasa bosan dengan keyboard membran murah dan mencari sesuatu yang baru kini semakin banyak beralih ke keyboard mekanik. Secara sederhana, keyboard mekanik adalah produk yang menggunakan switch mekanis terpisah untuk setiap tombol, sehingga memiliki daya tahan yang lebih baik daripada keyboard membran biasa. Sebagian besar keyboard di era awal kemunculan PC adalah keyboard mekanik. Namun, setelah melewati pertengahan hingga akhir tahun 1990-an, mereka terkena dampak langsung dari kebijakan pemangkasan biaya produksi hingga hampir punah, dan kini kembali mendapatkan perhatian.

Elemen kunci yang menentukan desain keyboard mekanik antara lain switch, keycap, dan housing yang berfungsi sebagai kerangka utama. Switch memang jarang terlihat karena tertutup oleh keycap di atasnya, namun komponen ini penting karena menentukan jenis keycap yang kompatibel dan bisa terhubung dengan pencahayaan jika bodi keyboard bersifat transparan. Keycap, yang bersentuhan langsung dengan jari, adalah bagian yang menentukan kesan keseluruhan keyboard. Karena keycap keyboard mekanik dapat diganti, pilihan warna, bahan, dan ukirannya sangat beragam. Mulai dari keycap berbahan keramik untuk kesan unik, keycap berbentuk bulat yang meniru desain mesin tik manual zaman dulu, keycap transparan untuk memperlihatkan switch di dalamnya, hingga keycap tanpa huruf (blank), semuanya tersedia sehingga Anda perlu riset untuk menemukan kombinasi yang paling sesuai dengan selera.

Tidak ada jawaban mutlak untuk desain keyboard mekanik, di mana tata letak standar semakin tidak relevan dan keunikan masing-masing produsen semakin menonjol. Namun, ada beberapa hal yang ingin saya soroti. Ada produk yang tidak memberikan ruang kosong pada housing dan memenuhinya dengan keycap, yang memberikan kesan sesak seperti melihat citra rontgen gigi yang penuh tanpa celah. Menurut saya, layaknya margin pada buku, housing keyboard juga sebaiknya menyisakan ruang kosong yang cukup untuk memberikan kesan visual yang lebih lega.
Ukiran pada keycap juga penting. Font dengan desain yang terlalu "siber" atau terkesan kaku sering kali terlihat murah. Pada produk asing, terkadang ukiran hangul (huruf Korea) terlihat canggung, dan hal-hal seperti ini secara kolektif menurunkan kualitas estetika desain keyboard secara keseluruhan. Pencahayaan di bawah keycap juga terlihat lebih baik jika menggunakan warna tunggal atau kombinasi warna yang terkendali daripada warna-warni yang mencolok. Jika polanya terlalu banyak, mungkin awalnya terlihat menarik, tetapi lama-kelamaan akan membosankan. Begitu juga dengan switch atau tata letak yang terlalu tidak umum dan jauh dari standar, saya tidak menyarankannya dari segi pemeliharaan maupun ketersediaan aksesori terkait.

Kelemahan terbesar dari keyboard mekanik yang memungkinkan ekspresi diri melalui berbagai kombinasi adalah suara ketikan yang keras, sehingga sulit digunakan di kantor yang dihuni banyak orang. Suara ketikan keyboard mekanik akan tetap terdengar sangat jelas bahkan di kantor yang cukup bising. Namun, di ruang pribadi, ini adalah barang menarik untuk mengekspresikan selera dengan bebas. Dengan bertambahnya produsen komponen kustom dan semakin aktifnya pasar terkait, permintaan secara keseluruhan tampaknya tidak akan menurun dalam waktu dekat. Jika rutinitas di depan meja terasa membosankan, bagaimana jika mencoba mengganti keyboard untuk meningkatkan kepuasan selama jam kerja?
Siapakah penulis Han Dong-hoon?
Seorang desainer tipografi. Ia memiliki minat pada segala bidang yang berhubungan dengan huruf, seperti menulis artikel, menulis kaligrafi, merancang huruf, dan mengajar. Saat ini, ia bekerja di studio tipografi AlignType dan mendesain berbagai font eksklusif untuk perusahaan serta font untuk dijual umum. Ia pernah menulis untuk 'Monthly Design', jurnal triwulanan 'Design Review', serta mengisi kuliah desain tipografi di berbagai platform daring dan luring. Pada tahun 2021, ia menerbitkan buku esai berjudul 'Semesta di Dalam Huruf'.