[비즈한국] Ada istilah yang berbunyi 'Nilai dalam Kebersamaan'. Istilah ini muncul dalam iklan sebuah perusahaan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ini adalah slogan keren yang mengandung makna bahwa kekuatan untuk bersama bisa mengubah dunia. Kebersamaan berarti empati atau komunikasi, dan dengan kekuatan ini, paradigma baru dapat tercipta. Seni pun baru memiliki nilai ketika mendapatkan empati dari orang-orang. Empati lahir dari semangat zaman dan bahasa seni yang universal. 'Proyek Dukungan Seni Korea' juga bertujuan untuk menunjukkan pemikiran berbagai kalangan melalui bahasa seni yang mudah dipahami. Memasuki musim ke-10, kami mendukung seniman yang berusaha mempraktikkan pemikiran Konfusius bahwa 'seni yang baik haruslah mudah dipahami'.

Topik pertama dalam sejarah seni lukis umat manusia adalah hewan. Tokoh utama dalam lukisan dinding gua yang terbukti dibuat pada zaman prasejarah adalah hewan seperti bison, rusa, atau paus. Bagi manusia saat itu, hewan-hewan ini adalah masalah yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup, sehingga ini adalah hasil yang wajar. Karena hewan yang digambar di dinding gua adalah objek buruan, manusia pada masa itu memiliki anggapan magis yang menyamakan gambar dengan hewan yang sebenarnya.
Hewan terus menjadi subjek lukisan sepanjang sejarah yang panjang. Mulai dari makna pemujaan yang disamakan secara magis seperti orang-orang prasejarah, hingga digunakan sebagai latar belakang, properti, atau pengganti simbol, hewan terus menjadi pilihan para seniman.
Di Barat, yang memandang dunia dengan manusia sebagai pusatnya, hewan cukup lama hanya dianggap sebagai pelengkap dalam sebuah karya. Berbeda halnya dengan di Timur, yang menempatkan alam sebagai pusat dunia, di mana hewan diperlakukan sebagai subjek utama dalam karya seni. Genre lukisan seperti ini disebut 'Yeongmo-hwa'.


Dalam musik, ada banyak contoh sukses yang menggambarkan karakteristik hewan. Musik semacam ini sering tercatat dalam sejarah musik karena dicintai oleh banyak orang. Salah satu contoh yang paling representatif adalah 'Carnival of the Animals' karya musisi Prancis abad ke-19, Camille Saint-Saëns (1835-1921). Karya ini menampilkan berbagai hewan mulai dari singa, ayam, keledai, kura-kura, gajah, kanguru, burung dan ikan, hingga yang paling terkenal yaitu angsa, di mana karakteristik masing-masing hewan diekspresikan melalui musik.
Ada juga karya yang mempersonifikasi hewan untuk dibalut dengan sindiran. 'Animal Farm' karya novelis Inggris abad ke-20, George Orwell (1903-1950), adalah salah satunya. Isinya mengkritik kekuasaan diktator yang korup dan revolusi yang gagal di Uni Soviet di bawah Stalin, dengan menggambarkan sang diktator sebagai babi untuk menertawakan politik secara tajam. Novel ini juga beririsan dengan rezim dinasti Kim yang turun-temurun di Korea Utara saat ini, dan pesan George Orwell sayangnya masih tetap relevan hingga kini.
Personifikasi hewan sering dijumpai dalam dongeng, komik, atau animasi, namun tidak sebanyak itu dalam seni murni. Hal ini tampaknya disebabkan oleh pemikiran sempit yang menganggap hal tersebut menurunkan bobot seni.

Dalam seni kontemporer baru-baru ini, karya bertema hewan sedang dicoba dengan berbagai cara. Dalam seni kita sendiri, aliran tersebut menunjukkan pencapaian yang jelas. Fenomena ini sangat menggembirakan karena mendapatkan respon positif terutama dari generasi baru.
Selain itu, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan hewan peliharaan, minat terhadap karya bertema hewan pun semakin meluas. Dalam arus ini, lukisan Kim Yeon-joo mencuri perhatian. Sang seniman telah memelihara anjing selama 14 tahun. Ini adalah kasus di mana cinta terhadap anjing disublimasikan ke dalam sebuah karya.
Ia mempersonifikasi berbagai jenis anjing. Sebagai seniman generasi baru, alih-alih menggunakan sindiran atau kritik, ia menggambarkan pemandangan di sekitarnya dengan pengaturan yang komikal. Ia memakaikan pakaian sesuai dengan penampilan atau karakteristik anjing dan melalui penataan situasi, ia menciptakan lukisan yang meyakinkan. Melalui lukisan Kim Yeon-joo yang lahir dari proses ini, kita dapat menemukan kehidupan sehari-hari kaum muda yang biasa saat ini. Itulah sebabnya lukisannya menarik.