[비즈한국] Kebakaran kendaraan listrik (EV) yang terjadi di apartemen kawasan Cheongna, Incheon, telah memicu kepanikan luas. Hal ini menyebabkan harga jual kembali mobil listrik anjlok dan sejumlah pengelola parkir mulai melarang akses bagi kendaraan listrik. Pemerintah akhirnya menggelar rapat penanggulangan terkait EV, merekomendasikan pengungkapan sukarela informasi baterai yang terpasang pada kendaraan, serta tengah berupaya menyusun langkah-langkah respons di masa depan.
Di pasar saham, saham-saham terkait kendaraan listrik menunjukkan volatilitas yang tinggi. Saham terkait EV biasanya merujuk pada produsen baterai sekunder, produsen motor, hingga produsen mobil jadi. Khususnya, saham-saham terkait baterai sekunder, sebagai komponen inti dari kendaraan listrik, telah bergerak searah dengan tema industri EV.

Tahun lalu di bursa saham Korea, 'baterai sekunder' menjadi isu panas. Fenomena panas berlebih (overheat) terjadi di sekitar saham baterai sekunder, dan Ecopro086520, sebagai salah satu saham representatif baterai sekunder, sempat menembus angka 1 juta won dan menyandang status "kaisar saham". Namun, memasuki paruh kedua tahun lalu, sentimen investor mendingin dan saham-saham terkait baterai sekunder terus mengalami penurunan. Memasuki tahun ini, dengan melambatnya permintaan global terhadap kendaraan listrik, muncul kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan yang tengah mengalami 'chasm (stagnasi permintaan sementara)' pada kendaraan listrik akan terkena dampak yang lebih parah akibat insiden kebakaran di Incheon ini.
Akibatnya, firma sekuritas mulai menurunkan target harga saham terkait baterai sekunder dan menyesuaikan ekspektasi. Target harga untuk LG Energy Solution373220 diturunkan menjadi 370.000~390.000 won, dan target harga untuk Samsung SDI006400 juga disesuaikan menjadi 420.000~480.000 won, menunjukkan tren penurunan yang beruntun.
Di sisi lain, ada investor yang berpendapat bahwa ini saatnya melakukan aksi beli karena nilai keamanan baterai buatan domestik semakin disorot akibat kebakaran tersebut. Saham-saham baterai sekunder domestik telah mencapai level terendah tahunan setelah pengumuman kinerja kuartal kedua Tesla yang mengecewakan bulan lalu, ditambah lagi dengan insiden kebakaran di Incheon. Di kalangan investor ritel, muncul persepsi bahwa baterai buatan Tiongkok yang dipasang demi memangkas biaya tidak menjamin keamanan, sehingga muncul proyeksi bahwa nilai perusahaan baterai dalam negeri akan meningkat.
Para ahli menunjukkan bahwa adalah suatu kesalahan jika kecaman terkait kebakaran EV ini hanya berfokus pada asal baterai, produsen, atau perusahaan EV tertentu. Han Byeong-hwa, seorang peneliti di Eugene Investment & Securities, menekankan, "Kendaraan listrik yang menggunakan baterai lithium-ion memiliki risiko kebakaran yang relatif tinggi terlepas dari tipe baterai, negara pembuat, maupun perusahaannya. Karena ini adalah risiko yang tidak terhindarkan, kita harus mengakui hal tersebut dan berinvestasi dalam membangun sistem sosial yang dapat meminimalisir risiko ini." Peneliti Han juga menambahkan, "Agar era kendaraan listrik dapat bangkit kembali, kepemimpinan politik dan konsensus sosial untuk memecahkan hambatan yang ada harus menjadi prioritas. Jika terjadi perubahan arah kebijakan dukungan di Amerika Serikat dan Eropa yang sempat mundur dalam jangka pendek, pasar kendaraan listrik akan kembali ke mode pertumbuhan."
Pada akhirnya, transisi ke era kendaraan listrik untuk pengurangan karbon adalah tugas yang sangat penting bagi umat manusia. Industri mobil jadi dan baterai telah berupaya melakukan penurunan harga dan pengembangan teknologi untuk mengatasi perlambatan pertumbuhan di pasar EV yang memasuki fase 'chasm'. Namun, akibat kebakaran ini, pemulihan permintaan diperkirakan akan membutuhkan waktu lebih lama.
Meski demikian, hasil pemilihan presiden AS yang akan dilaksanakan pada bulan November mendatang bisa menjadi variabel. Mantan Presiden Donald Trump menyatakan akan menurunkan biaya energi, termasuk tarif listrik, hingga lebih dari setengahnya dengan mengembangkan sumber daya minyak dan gas AS secara lebih agresif. Ini adalah peringatan bahwa ia mungkin akan beralih dari kebijakan energi ramah lingkungan dan kecenderungan fokus pada kendaraan listrik di era pemerintahan Biden. Sebaliknya, Wakil Presiden Kamala Harris diperkirakan akan mempertahankan kebijakan energi ramah lingkungan dan subsidi kendaraan listrik. Tentu saja, terlepas dari berbagai kekhawatiran seputar kendaraan listrik, prospek pertumbuhan jangka panjangnya tetap cerah. Hal ini dikarenakan kebijakan berbagai negara di dunia untuk mencapai target netralitas karbon global akan terus berlanjut. Namun, ceritanya akan berbeda jika Anda menetapkan target investasi dalam jangka menengah hingga pendek. Jika Anda tidak bisa menghasilkan keuntungan, itu hanyalah gema yang kosong.