주메뉴바로가기본문바로가기
비즈한국 비즈한국

Design Winery
Pentax 17, Kamera 'Film' Baru yang Dirilis Setelah 21 Tahun

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.  Read original in Korean →

[비즈한국] Kamera saat ini, mulai dari smartphone hingga kamera profesional, umumnya menggunakan sensor digital. Namun, para penggemar yang mencintai estetika unik film serta proses cuci cetak foto tetap melanjutkan hobi memotret dengan film, sembari saling berbagi tips di tengah infrastruktur yang semakin menyusut.

Ada kabar gembira bagi mereka. Pentax asal Jepang baru saja meluncurkan produk kamera film baru yang menyasar para penggemar analog setelah 21 tahun pengembangannya. Model ini dinamai '17'. Setiap kali mengambil gambar, kamera ini menggunakan format 17mm x 24mm, yaitu setengah dari ukuran film standar 36mm x 24mm, sehingga memungkinkan pengguna mengambil 72 foto dengan satu rol film isi 36. Angka ini merepresentasikan arti dari setengah ukuran standar 35mm.

Demi para penggemar kamera film, Pentax merilis kamera film baru 'Pentax 17' setelah 21 tahun. Pentax 17 dilengkapi dengan elemen desain klasik seperti bodi logam dan tuas penggulung film yang menonjolkan nuansa retro. Foto=Dok. Pentax
Demi para penggemar kamera film, Pentax merilis kamera film baru 'Pentax 17' setelah 21 tahun. Pentax 17 dilengkapi dengan elemen desain klasik seperti bodi logam dan tuas penggulung film yang menonjolkan nuansa retro. Foto=Dok. Pentax

Saat ini, puluhan tahun setelah sebagian besar model populer dihentikan produksinya, hampir tidak ada kamera film yang bisa dibeli dalam kondisi baru, kecuali produk kelas atas seperti Leica M6. Sementara Nikon FM10 yang legendaris memiliki tampilan yang terkesan murah karena material plastiknya, Pentax 17 adalah bodi kamera film "asli" yang benar-benar baru, dikembangkan dengan pemikiran mendalam mengenai makna dan kegunaan fotografi film di abad ke-21. Lensa yang digunakan adalah lensa tetap 25mm F3.5, dan mode eksposur otomatis hadir untuk membantu pemula. Dikabarkan bahwa untuk menghidupkan kembali tradisi yang sempat terputus ini, Pentax bahkan mencari kembali para teknisi berpengalaman yang dulu pernah bekerja di sana dan menambah lini produksi khusus.

Jika melihat desain Pentax 17, terlihat jejak upaya keras untuk menjembatani masa lalu dan masa kini. Di era di mana digital telah mendominasi selama lebih dari 20 tahun, kamera ini dirancang agar pengguna yang belum pernah menggunakan film tetap dapat merasakan elemen operasional manual dan estetikanya. Arah desain yang mengusung nuansa retro terlihat jelas dari bodi logam yang tegas dan kombinasi warnanya. Selain itu, dengan menyertakan tuas penggulung (winding lever) yang tak terpisahkan dari kamera film manual, proses memindahkan film ke bingkai berikutnya tetap dipertahankan sebagai elemen keseruan yang penting. Tuas penggulung ulang film dan kenop pemilihan ISO di sekitarnya juga mempertahankan tampilan klasik seperti dulu. Pada bagian belakang, terdapat bingkai plastik persegi untuk menyisipkan potongan kemasan film agar jenis film dapat dibedakan, yang juga merupakan detail pemikat estetika. Jendela bidik optik di bagian tengah bodi dinilai besar dan terang, dan fokusnya dapat diatur dengan mudah melalui metode estimasi jarak (zone focusing) dengan mengamati subjek secara langsung.

Meskipun dirancang agar pemula dapat memotret dengan mudah melalui mode eksposur otomatis, harga yang tinggi serta biaya cuci dan cetak film menjadi poin kelemahan. Belum dapat dipastikan apakah Pentax 17 akan menjadi fenomena budaya atau hanya tren sesaat. Foto=Dok. Pentax
Meskipun dirancang agar pemula dapat memotret dengan mudah melalui mode eksposur otomatis, harga yang tinggi serta biaya cuci dan cetak film menjadi poin kelemahan. Belum dapat dipastikan apakah Pentax 17 akan menjadi fenomena budaya atau hanya tren sesaat. Foto=Dok. Pentax

Meskipun memiliki berbagai elemen yang menarik bagi masyarakat umum, kelemahan terbesar Pentax 17 terletak pada aspek di luar produk itu sendiri. Harga jual resmi yang mencapai 800.000 won memang dianggap masuk akal oleh sebagian pihak, namun bagi mereka yang sudah menggunakan kamera digital, harga tersebut bisa terasa memberatkan untuk hobi tambahan. Agar produk baru ini dapat bertahan dalam jangka panjang dan melampaui sekadar tren sesaat, penurunan harga tampaknya diperlukan. Selain itu, tingginya biaya cuci dan cetak akibat kemunduran industri film juga menjadi hambatan. Pada akhirnya, ekonomi skala melalui aktivasi industri secara keseluruhan, yaitu produksi massal, tampaknya akan menentukan nasib model ini.

Penggunaan lensa dengan sistem fokus estimasi (zone focus) yang tidak bisa diganti juga menjadi poin yang disayangkan. Jika mereka merilis rangkaian lensa kecil dan ringan yang dapat ditukar sesuai kebutuhan, tentu akan memberikan "sensasi" saat memutar cincin fokus serta tampilan yang jauh lebih klasik. Saat ini, kamera film sulit bertahan hanya dengan kepraktisan saja. Diperlukan utilitas yang memadai serta elemen tambahan agar kamera ini bisa diposisikan sebagai item fesyen. Untuk itu, peluncuran aksesori dengan desain klasik seperti casing khusus dan tali kulit sangat mendesak. Apakah Pentax 17 akan berakhir sebagai tren sesaat atau menetap sebagai sebuah fenomena budaya? Masa depan kamera film yang lahir di era digital ini sangat menarik untuk dinantikan.

Artikel ini diterjemahkan secara otomatis oleh AI. Mungkin terdapat perbedaan dengan artikel asli berbahasa Korea.
한동훈 서체 디자이너
writer@bizhankook.com
저작권자 ⓒ 비즈한국 무단전재 및 재배포 금지