[비즈한국] ‘Kelompok masyarakat yang paling tertindas di dunia’. Sebutan menyedihkan ini melekat pada etnis Rohingya.
Etnis Rohingya adalah kelompok minoritas Muslim yang dulunya tinggal di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Di Myanmar, di mana penganut Buddha menjadi mayoritas, mereka telah lama mengalami diskriminasi dan penganiayaan. Kemudian, pada tanggal 25 Agustus 2017, mereka menjadi korban genosida mengerikan oleh militer Myanmar dan kelompok nasionalis ekstrem kanan. Kekerasan yang tidak pandang bulu terhadap pria, wanita, maupun anak-anak berlangsung selama sebulan. Lebih dari 10.000 orang Rohingya tewas dan hampir 2.000 perempuan menjadi korban pemerkosaan. Saat itulah, orang-orang Rohingya melarikan diri dari pembantaian menuju Cox's Bazar di negara tetangga Bangladesh, tempat kamp pengungsi berada saat ini.
Di kamp pengungsi Cox's Bazar, tempat para pengungsi Rohingya tinggal, terdapat Pusat Pemulihan Shanti-Khana yang didirikan oleh organisasi hak asasi manusia Korea, ADI (Asian Dignity Initiative). Shanti-Khana berarti 'Rumah Perdamaian' dan merupakan pusat penyembuhan yang mendukung perempuan pengungsi Rohingya. Buku berjudul 'Ingin Menari tapi Rumah Terlalu Sempit' mengisahkan tentang perjalanan para perempuan Rohingya menumbuhkan harapan di Shanti-Khana.

Ingin Menari tapi Rumah Terlalu Sempit
: Mengunjungi 'Shanti-Khana', Rumah bagi Perempuan Pengungsi Rohingya
Penulis: Gong Seon-ju, Oh Ro-min-kyung, Lee Seung-ji, Lee Yu-kyung, Jeon Sol-bi | Penerbit: Fascicle
280 halaman, 22.000 won
Saat ini, sekitar 1 juta orang tinggal di kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh, dan 52% di antaranya adalah perempuan (UNHCR, 2023). Di kamp yang serba kekurangan, perempuan berada di lapisan terbawah dan kelompok yang paling rentan. Karena aturan komunitas Muslim, perempuan Rohingya tidak bisa keluar rumah tanpa pria pada siang hari dan tidak bisa belajar menulis. Di kamp, mereka harus menandatangani dokumen saat menerima jatah dari LSM. Karena perempuan Rohingya tidak bisa menulis dan tidak bisa keluar rumah, mereka sering kali harus meminta bantuan laki-laki lain dan menerima tuntutan yang tidak adil (sebagian besar suami mereka tewas dalam pembantaian). Di tengah kesulitan hidup, mereka juga terpapar ancaman eksternal dan kekerasan seksual.
Shanti-Khana membantu perempuan Rohingya mengatasi kesulitan ini. Melalui program pemulihan psikologis, literasi, dan edukasi mata pencaharian, para perempuan diberdayakan untuk membangun kekuatan hidup mandiri dan tumbuh menjadi pemimpin komunitas. Berbeda dengan komunitas perempuan yang dibentuk LSM lain, Shanti-Khana istimewa karena dikelola secara swadaya oleh perempuan pengungsi Rohingya itu sendiri.

Shelter (hunian sementara) di dalam kamp pengungsi sangat sempit, gelap, dan panas, sekadar cukup bagi keluarga untuk berbaring dan bertahan hidup dari hari ke hari. Terlebih lagi, terdapat tekanan budaya konservatif bagi kaum perempuan. Itulah sebabnya perempuan pengungsi Rohingya berkata, "Ingin menari tapi rumah terlalu sempit," lalu datang ke Shanti-Khana. Karena di tempat ini, mereka bisa menari bersama dan berbagi suka maupun duka.
Saat memasuki Shanti-Khana, dua anggota tim pendukung psikologis perempuan Rohingya akan menyapa pengunjung dengan ramah, mendekat, berbicara dengan hangat, dan memberikan panduan dengan baik. Pengunjung merasa nyaman dan berharga. Para perempuan pengungsi datang ke pusat ini untuk melakukan yoga dan meditasi guna menyembuhkan tubuh dan pikiran, belajar bahasa Inggris, berkebun, memasak bersama, serta berbagi cerita. Mereka menghidupkan kembali tubuh dan pikiran yang sempat membeku akibat trauma penganiayaan dan pembantaian. Di tengah kehidupan kamp pengungsi yang tidak ubahnya penjara, mereka kembali memupuk harapan dalam keseharian. Hingga tahun 2023, sekitar 6.000 perempuan telah mengunjungi Shanti-Khana.
Shanti-Khana adalah tempat bernapas dan markas bagi perempuan di kamp pengungsi Rohingya, serta wadah pembelajaran untuk belajar menghargai dan melindungi diri sendiri.
“Di Myanmar, saya hanyalah seorang perempuan Rohingya, tetapi setelah datang ke sini, saya menjadi 'Apu' (sebutan kehormatan) yang dihormati di komunitas perempuan Rohingya. Saya memiliki pekerjaan profesional, bisa berjalan di jalanan, bisa berbicara dengan percaya diri tentang kegiatan LSM saya di depan laki-laki, dan bisa menandatangani nama saya dalam bahasa Inggris.”
Itulah kata-kata dari seorang perempuan Rohingya yang telah melepaskan ingatan akan pembantaian dan kini berani menunjukkan dirinya. Melalui program Shanti-Khana, 'resiliensi' para perempuan terpancar, yang juga mengubah pandangan laki-laki dan komunitas. Mereka mulai memandang positif perempuan yang belajar dan beraktivitas di luar, dan kini muncul keluarga yang mendukung kegiatan perempuan. Penyembuhan perempuan membawa perubahan bagi keluarga dan komunitas Rohingya, serta menciptakan sejarah baru.

'Ingin Menari tapi Rumah Terlalu Sempit' berisi tulisan dari para perempuan pengungsi Rohingya yang merajut keseharian di Shanti-Khana, aktivis masa awal berdirinya pusat ini, aktivis yang mengelola Shanti-Khana saat ini, serta para kreator yang bersolidaritas untuk menyebarkan kisah Shanti-Khana. Buku ini memaparkan dengan hidup tentang suka duka para aktivis yang membangun dan menjaga pusat ini: mulai dari pekerjaan merancang pusat, membuat program, dan mengumpulkan orang di atas tanah kosong pada tahun 2018 (Byeolbit Gong Seon-ju), momen tawa dan tangis bersama para perempuan saat membuat program melalui gambar dan teks (Jeon Sol-bi, Oh Ro-min-kyung), kisah staf Bangladesh yang mengelola pusat dan kamp (Viva Lee Seung-ji), hingga sejarah penderitaan dan penganiayaan etnis Rohingya (Lee Yu-kyung).
Bunga teratai mekar dengan indah di tengah lumpur. Para perempuan Rohingya yang terus membangun kembali kehidupan di tengah realitas yang pahit menyerupai bunga teratai yang anggun namun tangguh. Hidup terus berlanjut bahkan setelah penganiayaan dan pembantaian. Karena itulah, mereka kembali menari. Bermimpi. Dan terus hidup.