[비즈한국] Sampai sejauh mana ranah program kencan akan berkembang? Ada program yang mempertemukan mantan kekasih untuk mencari cinta baru, ada pula yang mengumpulkan saudara kandung untuk saling mengamati strategi kencan masing-masing, atau mereka yang sesama jenis berkumpul untuk menunjukkan rayuan sebebas-bebasnya. Jika hanya menonton siaran televisi, seolah-olah seluruh negeri sedang jatuh cinta. ‘Cinta yang Dirasuki Roh’ (Sin-deullin Yeonae), yang berakhir tayang pada 23 Juli, juga berada di pusat program kencan yang tak ada habisnya ini. Sesuai dengan judulnya, acara ini menampilkan para peramal—seperti dukun (mudang), ahli astrologi (yeoksul-in), dan master tarot—yang merupakan orang-orang di ranah "ilahi", untuk mencari cinta mereka sendiri. Program ini pun menarik perhatian besar dari generasi MZ.

‘Cinta yang Dirasuki Roh’ adalah program realitas kencan di mana para peramal yang biasanya meramal nasib cinta orang lain, justru berkumpul untuk meramal nasib cinta mereka sendiri dan mencari pasangan. Empat pria dan empat wanita tinggal selama seminggu di tempat karantina yang dinamai ‘Rumah yang Dirasuki Roh’ untuk mencari pasangan takdir mereka. Hal yang menarik adalah, bahkan sebelum saling bertatap muka, para kontestan memilih pasangan takdir mereka hanya dengan melihat "kartu takdir" yang berisi data astrologi (saju) masing-masing. Pemandangan saat mereka mengeluarkan lonceng untuk digoyangkan, mencocokkan saju, atau membalik kartu tarot untuk meramal pasangan takdir hanya berdasarkan astrologi, terasa sangat asing sekaligus unik.
Poin pembeda dari ‘Cinta yang Dirasuki Roh’ memang berasal dari profesi para kontestan. Meskipun format atau aturan program itu sendiri tidak jauh berbeda dengan program kencan lainnya, kisah para kontestan, cara mereka mendekati orang yang disukai, hingga titik kekhawatiran mereka sangat berbeda dari orang awam, sehingga memberikan sudut pandang menonton yang segar.

Sebagai contoh, master tarot Choi Han-na dan dukun Lee Hong-jo pada awalnya memilih kartu takdir satu sama lain dan secara alami mulai menunjukkan ketertarikan. Namun, setelah terungkap bahwa Lee Hong-jo adalah seorang dukun dan hasil ramalan cinta dari bendera keberuntungan (obanggi) milik Lee Hong-jo serta kartu tarot Choi Han-na menunjukkan hasil negatif, psikologi Choi Han-na tampak menjadi sangat tidak stabil. Mengajak berkencan dengan menulis surat di atas jimat alih-alih kertas surat, mengunjungi kuil sebagai rute kencan, dan melontarkan rayuan khas yang hanya bisa diucapkan oleh mereka seperti, “Maukah kamu pergi ke kuil saya?”, juga menjadi ciri khas program ini.
Melihat para kontestan yang merasa gembira atau sedih serta menderita karena ramalan yang mereka buat sendiri atau orang lain, penonton awalnya merasa bingung, “Sampai segitunya?”. Banyak penonton yang pasti merasa tercengang melihat Choi Han-na putus asa karena terus-menerus mendapatkan kartu tarot yang tidak menyenangkan, atau pengunduran diri yang tiba-tiba dari ahli astrologi Lee Jae-won. Lee Jae-won, yang yakin memiliki hubungan takdir berdasarkan ramalan yang ia buat sendiri, merasa terguncang setelah mendapatkan 0 suara pada hari ketiga dan tiba-tiba mengumumkan pengunduran diri. Meskipun kemungkinan ada banyak bagian yang disunting, dapat diduga bahwa ketakutan terbesar mereka bukan hanya karena gejolak emosi terhadap arah hubungan cinta, tetapi juga ketakutan bahwa hasil nyata tidak sesuai dengan ramalan mereka. Sambil menonton, meskipun kita tidak sepenuhnya memahami perasaan mereka, kita perlahan bisa merasakan betapa sengitnya mereka bergelut dan menderita di antara tuntutan profesi dan kenyataan hidup.

Jawaban atas pertanyaan mendasar tentang apakah perlu menonton perjodohan para peramal di siaran TV pun muncul secara alami. Ucapan dukun Lee Hong-jo, “Ini bukan profesi yang bisa dibanggakan di luar sana...”, atau kata-kata dukun Ham Su-hyeon bahwa ia bahkan tidak pernah bermimpi menjalin cinta setelah menerima kemampuan spiritual, membuat banyak penonton mengangguk dan merasa kasihan. Melihat para peramal yang tadinya membatasi diri dalam hal cinta dan pernikahan, pada akhirnya memutuskan untuk mengikuti perasaan mereka sendiri daripada takdir dan berusaha menentukan nasib mereka sendiri, membuat saya berpikir bahwa ‘Cinta yang Dirasuki Roh’ telah menjadi kesempatan untuk meruntuhkan stereotip dan prasangka dunia, meski hanya sedikit.
Dalam ‘Cinta yang Dirasuki Roh’ yang berakhir dalam 6 episode, dua pasangan lahir, dan sangat bermakna bahwa kedua pasangan tersebut bukanlah orang yang mereka pilih melalui kartu takdir di awal. Kisah dramatis dari masing-masing individu, seperti Ham Su-hyeon yang menjadi dukun setelah hampir 10 tahun bekerja di bank, Lee Jae-won yang lulusan jurusan matematika universitas bergengsi lalu menjadi ahli astrologi, serta Heo Gu-bong yang akrab dengan kuil sejak kecil karena ayahnya mantan biksu, turut meningkatkan otentisitas dan menambah popularitas di mata publik. Karena popularitasnya yang tinggi, harapan untuk produksi musim kedua pun semakin meningkat.

Korea Selatan adalah negara di mana orang awam pun terbiasa memperhitungkan "hari baik" saat pindah rumah, dan setidaknya sekali seumur hidup meramal kecocokan (gunghap) untuk bersenang-senang saat menjalin cinta atau pernikahan. Diperkirakan skala pasar ramalan, baik tatap muka maupun daring, mencapai setidaknya ratusan miliar hingga triliunan won. Bagi kita yang sebenarnya tidak terlalu penasaran dengan mereka padahal mereka nyata ada di pasar tersebut, ‘Cinta yang Dirasuki Roh’ telah menarik simpati dengan menunjukkan sisi manusiawi para peramal yang juga memimpikan cinta biasa dan menderita karena pasang surut emosi. Selain fakta bahwa mereka berkecimpung di ranah ilahi, perjuangan mereka dalam menentukan apakah akan mematuhi takdir (yang tampak sudah ditentukan) atau mendobraknya, ternyata sama saja dengan kita.
‘Cinta yang Dirasuki Roh’, yang akan tercatat sebagai karya yang menorehkan sejarah baru dalam program kencan dengan memperoleh keunikan sekaligus empati yang mendalam, dapat ditonton di Wavve. Berbeda dengan konten lain yang membahas dunia perdukunan seperti film ‘Exhuma’ yang menampilkan adegan ritual dengan sepatu *canvas* yang trendi, atau serial dokumenter TVING ‘Shaman: Ghost Stories’, acara ini bisa dinikmati dengan ringan, jadi jangan takut. Rasa penasaran (?) tentang sejauh mana program kencan di masa depan akan menjangkau berbagai ranah pun semakin besar.
Siapakah penulis Jeong Su-jin?
Ia telah meliput dan menulis tentang film, perjalanan, dan budaya populer melalui berbagai majalah. Meski tidak ingin ketinggalan tren, ia telah menjadi orang "jadul" yang hanya bisa menebak klise usang untuk adegan berikutnya saat menonton drama terbaru. Ia sedang berusaha menemukan kembali naluri yang hilang sambil berlayar di dunia OTT yang luas, dan keinginan terbesarnya saat ini adalah adanya paket langganan OTT terintegrasi.