[비즈한국] Hari ini pukul 2 siang, sidang pemeriksaan surat perintah penahanan (warrant review) terhadap Kim Beom-su, Ketua Komite Inovasi Manajemen Kakao035720 yang didakwa melanggar undang-undang pasar modal, akan digelar. Mengingat sidang ini diperkirakan memakan waktu minimal 2 hingga 3 jam, hasil keputusan diprediksi baru akan keluar lewat tengah malam.
Dunia hukum memprediksi peluang dikeluarkannya surat perintah penahanan berada di angka '50 banding 50'. Di satu sisi, pihak kejaksaan sangat percaya diri karena merasa 'bukti sudah sangat melimpah', namun di sisi lain, ada kemungkinan surat perintah tersebut ditolak karena Kakao telah merespons investigasi kejaksaan secara aktif. Faktanya, sejak akhir tahun lalu, Kakao telah meluncurkan Komite Kepatuhan dan Kepercayaan, mengadopsi model mitigasi surat perintah yang digunakan oleh Ketua Samsung Electronics005930, Lee Jae-yong. Muncul spekulasi bahwa jika strategi respons Kakao, yang telah mengantisipasi pengajuan surat perintah penahanan, terbukti efektif, hakim mungkin memutuskan bahwa 'terdakwa dapat menjalani persidangan tanpa ditahan'.

“Bukti Langsung Cukup,” Kepercayaan Diri Kejaksaan
Ketua Komite Inovasi Manajemen Kakao, Kim Beom-su, dituduh melakukan manipulasi harga saham (pelanggaran undang-undang pasar modal) dalam proses akuisisi SM Entertainment pada Februari tahun lalu. Ia diduga mengucurkan sekitar 240 miliar won dengan tujuan menghalangi penawaran tender oleh pesaingnya, HYBE, dengan cara menaikkan harga saham SM Entertainment melebihi harga penawaran HYBE sebesar 120.000 won. Ia juga dituduh melanggar kewajiban pelaporan publik karena tidak melaporkan kepemilikan saham SM Entertainment di atas 5% kepada otoritas keuangan, bersama dengan perusahaan ekuitas swasta One Asia Partners.
Di kalangan kejaksaan, muncul reaksi umum bahwa 'bukti sudah mencukupi'. Suasana yang terbentuk adalah bahwa keterlambatan pengajuan surat perintah penahanan dilakukan karena mereka ingin berhati-hati, bukan karena investigasi yang kurang. Strategi kejaksaan adalah menjelaskan kepada pengadilan bahwa manipulasi harga saham telah disetujui dalam rapat komite investasi Kakao yang dihadiri oleh Ketua Kim dan mantan CEO Investasi Kakao, Bae Jae-hyun (telah ditahan), pada Februari tahun lalu. Lee Jun-ho, Kepala Divisi Strategi Investasi Kakao Entertainment yang hadir sebagai saksi dalam persidangan mantan CEO Bae Jae-hyun dan perwakilan One Asia Partners bermarga Ji yang sedang berlangsung, memberikan kesaksian bahwa "CEO Bae mengatakan telah mendapat konfirmasi dari Brian (Ketua Kim Beom-su)."
Terkait hal ini, seorang praktisi hukum yang sempat berpartisipasi dalam investigasi kejaksaan menyampaikan, "Suasana di kejaksaan sangat berbeda. Mereka merasa bukti-bukti terkait investigasi ini sudah lebih dari cukup. Mereka sangat percaya diri." Bahkan muncul pembicaraan bahwa kejaksaan mengajukan surat perintah penahanan dengan asumsi surat tersebut akan dikabulkan, karena selain pernyataan, terdapat bukti langsung yang cukup untuk membuktikan bahwa instruksi terkait telah diberikan.
Di sisi lain, Kim Beom-su mengadakan rapat kelompok darurat dengan para CEO dari afiliasi utama di bawah CA Council pada tanggal 18, menjelang pemeriksaan surat perintah penahanan. Ia menjelaskan, "(Dugaan manipulasi harga saham) itu tidak benar," dan menambahkan, "Saya tidak pernah menginstruksikan atau membiarkan tindakan ilegal apa pun." Selama ini, Ketua Kim memang mengakui bahwa ia menerima laporan dan menyetujui akuisisi SM Entertainment, namun ia menegaskan tidak pernah menerima laporan mengenai metode akuisisi secara spesifik.
Rintangan Pertama yang Harus Dilalui Kejaksaan: 'Respons Kakao'
Bisakah kejaksaan melumpuhkan Ketua Kim Beom-su yang bersikeras membantah tuduhan tersebut? Dunia hukum menilai bahwa hal terpenting yang harus dilalui kejaksaan untuk mendapatkan persetujuan surat perintah penahanan, di tengah klaim mereka bahwa 'bukti sudah pasti ada', adalah Komite Kepatuhan dan Kepercayaan Kakao. Saat investigasi Layanan Pengawasan Keuangan dan kejaksaan mulai menguat, Kakao mendirikan lembaga audit eksternal, Komite Kepatuhan dan Kepercayaan (Compliance Committee), dan menunjuk mantan hakim agung Kim So-young sebagai ketua.
Banyak pihak menilai langkah ini meniru model 'Komite Pengawas Kepatuhan Samsung', sebuah lembaga pengawasan eksternal manajemen kepatuhan yang didirikan secara strategis oleh Samsung dengan pertimbangan untuk mendapatkan keringanan hukuman dalam persidangan Ketua Samsung Electronics, Lee Jae-yong. Persamaannya terletak pada tujuan menghadapi risiko hukum dan penunjukan mantan hakim agung sebagai ketua pertama. Jika Ketua Kim Beom-su berargumen bahwa 'sistem internal tidak ada' dan 'telah membuat sistem untuk melengkapinya', muncul spekulasi bahwa pengadilan mungkin menganggapnya sebagai kesalahan satu kali saja dan menolak surat perintah tersebut.
Sebaliknya, kejaksaan perlu membuktikan lebih dari sekadar "memiliki bukti kunci," yaitu menunjukkan betapa sembarangnya sistem manajemen Kakao, dan untuk itu, mereka harus menunjukkan keterbatasan dari 'model komite kepatuhan' tersebut.
Rintangan Kedua yang Harus Dilalui Kejaksaan: 'Tidak Ada Risiko Melarikan Diri'
Meskipun kejaksaan berhasil membuktikan berdasarkan bukti bahwa Ketua Kim Beom-su adalah orang yang memberikan persetujuan akhir atas manipulasi harga saham, kemungkinan hakim menolak surat perintah tersebut tetap besar.
Para hakim seragam menyatakan bahwa menahan 'pemilik konglomerat besar' semakin menjadi beban. Terutama jika ada sedikit saja ruang untuk perdebatan, membiarkan pemilik perusahaan besar yang berdampak besar pada ekonomi Korea tetap bebas dianggap lebih 'menenangkan hati'. Ungkapan lama dalam persidangan pidana bahwa 'jika tidak ada keyakinan bersalah, maka tidak bersalah' tercermin dalam pemeriksaan surat perintah penahanan.
Seorang hakim memprediksi, "Jika pemilik perusahaan besar melakukan penggelapan dana perusahaan, keputusan untuk mengeluarkan surat perintah akan mudah. Namun, mengeluarkan surat perintah atas keputusan dalam proses manajemen adalah masalah yang berbeda tingkatannya. Mengingat identitasnya jelas dan tidak ada risiko melarikan diri, jika hakim melihat ada 'sedikit saja ruang untuk diperdebatkan', surat perintah tersebut bisa ditolak."
Namun, muncul pembicaraan bahwa meskipun surat perintah ditolak, kejaksaan bisa mengajukan surat perintah tambahan. Seorang pengacara yang pernah terlibat dalam investigasi kejaksaan membocorkan, "Karena penilaian kejaksaan bahwa adanya instruksi dari Ketua Kim Beom-su sudah sangat kuat, sudah ada pembicaraan bahwa meskipun surat perintah ditolak, kejaksaan dapat mengajukan kembali setelah melakukan investigasi pelengkap."