[비즈한국] Bom air tengah mengguyur berbagai wilayah di Semenanjung Korea. Kini, tidak ada seorang pun yang bisa mengelak bahwa hujan ini disebabkan oleh perubahan iklim. Krisis ini pun memiliki akar pada abad ke-20, yang dikenal sebagai 'abad kelimpahan'.
Abad ke-20 merupakan era yang menakjubkan dalam berbagai aspek. Perkembangan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang menyertainya sangat memukau. Buku 'Sejarah Ekonomi Abad ke-20' karya J. Bradford DeLong mengulas sejarah abad ke-20 dengan berfokus pada sisi ekonominya. Era yang sangat besar dan kompleks ini dirangkum dengan apik ke dalam sebuah buku setebal 700 halaman.
Penulis, DeLong, adalah profesor ekonomi di University of California, Berkeley, yang berkontribusi besar dalam menjadikan departemen ekonomi Berkeley sebagai pusat studi Depresi Besar. Ia meraih gelar doktor di bidang ekonomi dari Harvard University dan pernah menjabat sebagai Asisten Menteri Keuangan pada masa pemerintahan Clinton.

Sejarah Ekonomi Abad ke-20
: Apakah Kita Sedang Menuju Utopia?
Karya J. Bradford DeLong, diterjemahkan oleh Hong Ki-bin, disunting oleh Kim Doo-eol, Penerbit Saenggak-ui-him
726 halaman, 37.800 won
Penulis mendefinisikan masa 140 tahun dari 1870 hingga 2010 sebagai 'Abad ke-20 yang panjang' (long 20th century). Sekitar tahun 1870, dengan munculnya globalisasi, laboratorium perusahaan, dan korporasi modern, umat manusia untuk pertama kalinya sejak zaman agraris berhasil keluar dari kemiskinan yang mencekik. Penulis menyebut periode ini sebagai abad yang memberikan dampak paling signifikan dalam sejarah manusia. Kemiskinan material umat manusia berakhir, dan aspek ekonomi menjadi topik terpenting dalam sejarah untuk pertama kalinya.
Globalisasi terjadi jauh lebih awal dari yang kita duga; antara tahun 1870 hingga 1914, satu dari setiap empat belas orang di dunia, atau 100 juta orang, telah pindah tempat tinggal ke benua lain. Latar belakangnya adalah perkembangan alat komunikasi dan transportasi. Tokoh-tokoh seperti Perdana Menteri Inggris Winston Churchill (pahlawan Perang Dunia II), Mahatma Gandhi (pejuang perdamaian tanpa kekerasan dari India), dan Deng Xiaoping (pemimpin pragmatis Tiongkok) adalah orang-orang yang mengubah dunia melalui pengalaman migrasi ke negara lain. Negara yang menerima manfaat jangka panjang paling mencolok dari tren globalisasi ini adalah Amerika Serikat, yang akhirnya menjadi negara adidaya di abad ke-20.
Dengan cara ini, penulis menghubungkan individu dan peristiwa ke dalam perubahan yang masif. Melalui Nikola Tesla dan Edison, ia menceritakan dampak laboratorium perusahaan terhadap kemajuan teknologi; melalui Hayek, Polanyi, dan Keynes, ia menjelaskan proses bagaimana paham pasar beradaptasi dengan menerima sosial demokrasi.
Terkadang ia menggunakan mikroskop, terkadang menggunakan teleskop, untuk merajut sisi mikro dan makro, kebetulan dan keniscayaan dengan sangat terampil. Itulah alasan mengapa buku setebal 700 halaman ini terasa mengalir saat dibaca.
Pada tahun 2010, rata-rata pendapatan per kapita dunia mencapai 8,8 kali lipat dibandingkan tahun 1870. 'Kelompok sangat miskin' yang hidup dengan kurang lebih 2 dolar per hari mencapai 70% dari populasi dunia pada tahun 1870, namun kini jumlahnya kurang dari 9%. Bahkan di antara 9% tersebut, sebagian besar kini telah menikmati manfaat layanan kesehatan masyarakat dan teknologi komunikasi seluler. Di beberapa negara, pendapatan per kapita meningkat lebih dari 20 kali lipat dibanding tahun 1870. Kemakmuran ini akan terus berlanjut selama beberapa abad ke depan. Jika demikian, bukankah umat manusia sudah mencapai, atau setidaknya mendekati, titik utopia?

“Penulis menyajikan analisis orisinal dan berwawasan luas mengenai 'Abad ke-20 yang panjang', periode perkembangan ekonomi fenomenal yang dimulai pada 1870 dan berakhir pada 2010. Kelimpahan material yang belum pernah terjadi sebelumnya telah datang, dan generasi sebelumnya mungkin berpikir kelimpahan ini menjamin utopia. Namun, era kemajuan material berakhir bukan dengan utopia, melainkan dengan diskriminasi dan perselisihan. Tidak ada buku lain yang mampu menjelaskan kesuksesan dan kegagalan periode istimewa ini dengan kedalaman wawasan seperti ini.”
Seperti kata Martin Wolf, kepala kolomnis Financial Times yang merekomendasikan buku ini, kita telah mengalami kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya di abad lalu, namun kita tidak pernah sampai ke utopia. Apa yang telah kita pelajari dari abad ke-20? Akankah kita bisa mencapai utopia di abad ke-21?
Penulis memberikan judul buku ini 'slouch toward utopia', yang berarti bergerak perlahan sambil membungkuk menuju utopia. Ada sebuah 'harapan' di dalamnya bahwa bergerak perlahan sambil membungkuk lebih baik daripada mundur atau hanya berdiri diam. Agar harapan itu terwujud, refleksi serius mengenai abad lalu harus dilakukan lebih dulu. Jika kita melupakannya, tempat yang akan kita tuju mungkin justru adalah 'distopia'.