[비즈한국] Di kalangan anak muda yang lelah dengan kehidupan yang berat, tren 'batu peliharaan' sedang populer. Tidak hanya pertunjukan yang hanya mengizinkan batu peliharaan sebagai penonton, video-video yang memperlihatkan pemiliknya memberi nama hingga memandikan batu pun menjadi viral di media sosial.

Pameran seni pertunjukan yang hanya bisa dihadiri batu peliharaan… hingga aksi 'no-show'
Batu peliharaan adalah batu yang dipelihara untuk kepuasan mental dan emosional oleh orang-orang yang berada dalam situasi sulit untuk merawat hewan atau tanaman di tengah masyarakat modern yang sibuk. Di Korea, memiliki batu peliharaan mulai menarik perhatian sebagai hobi 'berdiam di rumah' sejak era COVID-19. Popularitasnya melonjak tajam terutama setelah sejumlah selebritas mempublikasikan hobi memelihara batu mereka.
Media asing pun menyoroti budaya batu peliharaan ini. Wall Street Journal (WSJ) dari Amerika Serikat menyoroti budaya batu peliharaan di Korea dan memperkenalkan bahwa "Orang Korea, yang menanggung jam kerja terpanjang di antara negara-negara industri, memelihara batu untuk menemukan ketenangan yang tak tergoyahkan."
Baru-baru ini, sebuah pertunjukan seni yang hanya mengizinkan batu peliharaan sebagai penonton pun digelar. Seniman pertunjukan Kwon Yoseb (YOSEB) merilis pertunjukan eksperimental bertajuk 'STONES' melalui YouTube pada tanggal 15, yang diselenggarakan oleh Souju Company. Ada kejadian kecil dalam pertunjukan ini; batu peliharaan yang dijadwalkan hadir melakukan 'no-show' (tidak datang), sehingga pemiliknya menyampaikan permohonan maaf sebagai gantinya. Ini adalah pertunjukan kebetulan yang memberikan semacam kepribadian pada benda mati.
Kwon Yoseb menjelaskan bahwa pertunjukan ini memvisualisasikan titik benturan antara tubuh dan struktur mental manusia melalui intervensi struktur rasional yang menyiratkan karakteristik penonton dan konsep hewan peliharaan.
Heo Yu-jeong, CEO Souju Company yang menyelenggarakan pertunjukan ini, menyampaikan mengenai faktor yang membuat batu peliharaan populer, "Anak muda yang hidup di era yang melelahkan saat ini menganggap batu sebagai media untuk merenungkan diri secara mental dan emosional." Ia menambahkan, "Saya berharap pertunjukan ini dapat memberikan perspektif dan kesan baru bagi banyak orang."

Video batu peliharaan ditonton 9,36 juta kali… serunya melakukan kustomisasi
Video memandikan batu peliharaan sempat menjadi perbincangan setelah ditonton lebih dari 9,36 juta kali. Video promosi yang dibuat oleh karyawan sebuah perusahaan lanskap ini menjadi terkenal berkat dari mulut ke mulut di media sosial. 'Batu peliharaan' yang dijual atas permintaan penonton video tersebut pun ludes terjual hanya dalam waktu 40 detik.
Berbeda dengan 'batu hias' (suseok) yang dipamerkan karena bentuknya yang unik sejak awal sebagai objek kontemplasi dan perenungan, batu peliharaan didasarkan pada komunikasi aktif antara pemilik dan batu tersebut. Oleh karena itu, batu biasa yang dimodifikasi menjadi batu peliharaan milik sendiri lebih diminati.
Batu peliharaan mudah dibeli melalui pencarian internet. Meskipun penjualnya beragam, bentuk dasar yang umum adalah batu abu-abu bulat dengan mata tempel. Karena harganya yang sekitar 10.000 won, hambatan masuknya pun rendah. Tersedia pula produk pendukung seperti rumah kertas dan topi yang membuat batu tersebut bisa didekorasi dengan mewah.
'Chess Piece', yang mulai menjual batu peliharaan di masa COVID, menyebut 'kustomisasi' sebagai alasan utama popularitas batu peliharaan. Perwakilan Chess Piece menjelaskan, "Batu hias terbentuk secara alami sehingga harganya sangat bervariasi, sedangkan batu peliharaan bisa dikustomisasi sesuai keinginan, seperti menggunakan bando kelinci, topi berwarna, atau ban pelampung." Ia menambahkan, "Saat COVID dulu, kami menerima 1.000 pesanan per bulan, dan saat ini kami menerima sekitar 300 hingga 400 pesanan."
Para pemuda yang benar-benar memelihara batu mengatakan bahwa mereka merasa terhibur hanya dengan memandangi batu tersebut dan merasa tenang setelah menceritakan berbagai kisah keseharian kepada batu peliharaan mereka. Kim, warga Suyu yang memelihara batu, menjelaskan, "Tidak perlu memberinya makan atau membersihkan kotorannya seperti hewan peliharaan. Keunggulan utamanya adalah kita tidak perlu mengalami *pet loss* (rasa kehilangan akibat kematian hewan peliharaan). Saat saya bercerita tentang bagaimana saya menjalani hari ini, saya jadi merenungi diri sendiri dan merasa hati saya menjadi tenang."