[비즈한국] Ada pepatah yang mengatakan, "Nilai dari kebersamaan." Kalimat ini muncul dalam iklan sebuah perusahaan sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ini adalah salinan kalimat yang luar biasa, yang bermakna bahwa kekuatan untuk melakukan sesuatu bersama-sama dapat mengubah dunia. "Bersama" berarti empati atau komunikasi, dan dengan kekuatan inilah paradigma baru dapat tercipta. Seni pun memiliki nilai ketika ia mendapatkan empati dari orang-orang. Empati lahir dari semangat zaman dan bahasa seni yang universal. 'Proyek Dukungan Seni Korea' juga bertujuan untuk menampilkan pemikiran berbagai orang melalui bahasa seni yang mudah dipahami. Memasuki musim ke-10, kami mendukung seniman yang berusaha mewujudkan pemikiran Konfusius bahwa "seni yang baik haruslah mudah dipahami."

Lukisan adalah genre tertua dalam sejarah seni. Ekspresi manusia pertama yang pernah ditemukan pun berupa lukisan. Lukisan dinding prasejarah menjadi bukti hal tersebut. Mengingat sejarah lukisan gua Altamira, yang dikenal sebagai lukisan tertua umat manusia, berusia sekitar 35.000 tahun, dapat dikatakan bahwa usia lukisan memang setua itu.
Ada masa di akhir abad ke-20 ketika argumen mengenai kepunahan lukisan sangat gencar di dunia seni. Diversifikasi material dan penghancuran genre seni menciptakan wacana tersebut. Realitas saat itu adalah posisi lukisan sangat lemah di era yang kelebihan ekspresi. Khususnya, perkembangan media video memberikan pembenaran atas krisis lukisan tersebut.
Meskipun demikian, lukisan mampu bertahan melalui rentang waktu yang panjang dan hingga saat ini tetap kokoh menempati posisi terdepan dalam dunia seni. Apakah kekuatannya?
Lukisan telah mempertahankan dasar dinding selama waktu yang sangat lama. Dimulai dari gua, itu adalah metode untuk menghiasi dinding bangunan. Cara ekspresi yang menampung cerita di dalamnya dapat berkembang dengan kuat seiring dengan perpaduannya dengan agama.


Lukisan menjadi independen dalam bidang datar yang kita kenal sekarang sejak masa Renaisans. Di sini, penemuan material cat minyak menjadi pendorong yang memimpin masa kejayaan lukisan. Sosok yang menetapkan teknik cat minyak secara sistematis adalah Jan van Eyck (1395-1441), perwakilan seniman naturalisme Flandria. Dengan penemuan cat minyak, lukisan mampu menghadirkan ekspresi yang lebih halus dan efek yang realistis.
Teknik cat minyak menciptakan kekuatan ekspresi yang beragam melalui era Barok dan Realisme, lalu mekar sepenuhnya di era Impresionisme. Di antara berbagai teknik cat minyak yang tercipta selama era ini, yang memaksimalkan keunggulan material tersebut adalah teknik 'Impasto' dan teknik 'Wet-in-wet'.
Teknik Impasto, yang memperlihatkan sifat material cat minyak dengan jelas, sering digunakan oleh maestro lukisan Barok, Rembrandt, dalam karya-karya masa tuanya. Teknik mengoleskan cat dengan tebal ini efektif untuk menghidupkan kedalaman karya. Sosok yang merintis dunia baru lukisan dengan teknik ini adalah pelukis pasca-Impresionisme, Vincent van Gogh. Ia menggunakan teknik ini untuk menciptakan kanvas yang penuh gairah dan dinamis. Lucian Freud, yang menciptakan lukisan figuratif terbaik abad ke-20, juga merupakan contoh kesuksesan dengan teknik Impasto.

Teknik 'Wet-in-wet', yaitu teknik mengoleskan cat ke kanvas dan melapisinya dengan warna lain saat cat belum kering, digunakan secara efektif oleh pelukis impresionis Renoir. Warna-warnanya yang cerah dan kanvasnya yang lembut adalah berkat teknik ini.
Kedua teknik ini masih digemari dalam lukisan kontemporer. Lee Ju-hee juga menunjukkan dasar-dasar lukisan minyak dengan setia melalui teknik ini. Ia menciptakan kanvas yang penuh vitalitas dengan motif alam. Ia menyusun kembali alam yang ia peroleh melalui perjalanan secara abstrak. Melalui teknik Impasto, ia menunjukkan kesan kasar dari sapuan kuas, dan melalui teknik Wet-in-wet, ia menampilkan warna-warna misterius yang memaksimalkan efek kebetulan. Itulah sebabnya lukisan karya Lee Ju-hee, yang memancarkan cita rasa seni lukis, terasa begitu menyenangkan untuk dinikmati.